Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
188


__ADS_3

Stuard menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya.


Selama ini, ia tak pernah memikirkan berkencan, bergaul atau berkumpul bersama teman-temannya. Yang ia pikirkan adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Ia tak pernah memikirkan ia bekerja untuk siapa. Ia hanya menyukai ketika ia bisa memegang kendali dan membuat semua orang hormat padanya.


Saat sampai di mansion, Ia memarkirkan mobilnya di sembarang arah. Lalu, ia melempar kunci mobil pada Grey, yang tak lain pekerja yang khusus mengatur semua koleksi mobil mewahnya.


Dengan langkah lebar dan berseri-seri, Stuard memasuki lift yang menyambungkan langsung ke kamarnya.



Ia langsung duduk di sofa lalu mengadahkan kepalanya ke atas. Wajah lugu Simma, wajah polos Simma dan senyuman Simma masih terngiang-ngiang di otaknya.


Lalu tak lama, ia teringat Josh, wajahnya menggelap saat mengingat Simma menangis karena ulah Josh. Tapi tak lama, ia tersenyum sinis. "Dasar bodoh! bagaimana kau melepas wanita seistimewa Simma," lirih Stuard sambil tertawa. Ia menertawakan Josh yang menyia-nyiakan Simma.


Jika seorang Stuard sudah menginginkan sesuatu. maka ia akan berusaha mendapatkannya dengan cara baik-baik, atau memaksa sekalipun


•••


"Apa tadi itu Simma?" tanya Bri saat keluar dari super market. Nyatanya, Briana pun ikut dalam sandiwara yang di buat Josh. Awalnya, Bri tak tau tentang apa yang di lakukan oleh Josh. Namun, saat beberapa waktu Kelly memanggil Josh di super market, Bri merasa heran karena Josh tiba-tiba menariknya keluar


Bri merasa ada yang di sembunyikan oleh Josh, ia pun mendesak Josh untuk memberitau yang terjadi, dan akhirnya. Josh secara rapih dan meyakinkan bahwa ia hanya memanfaatkan Simma untuk menyatukan keluarga Zidan. Walaupun terdengar tak masuk akal, tapo karena ucapan Josh sangat meyakinkan, akhirnya Bri pun percaya.


Josh mengangguk, "Kau sudah lihat, bukan? betapa beda jauh dia dengan dirimu," ucap Josh. Ia mengusap lembut kepala Bri dan membukakan pintu untuk Bri.


•••


Setelah sampai di apartemennya. Simma langsung membawa susunya kedapur. Ia menyendokan ke gelas lalu menyembunyikan dus susu di bawah.


Ia tau, cepat atau lambat Audrey atay semua orang di dekatnya akan mengetahui kehamilannya. Tapi, untuk saat ini, Simma tak mau membocorkannya pada siapa-siapa termasuk Audrey.


Jika Audrey tau, ia yakin Audrey akan menegur Josh, dan Simma tak mau jika Josh merendahkannya untuk ke sekian kalinya. Cukup hari ini saja Simma dipandang hina oleh Josh.


Ia mengaduk susu di dalam gelas dengan tatapan kosong. Sesekali ia menghapus air matanya karena ucapan Josh dan tingkah Josh sangat-sangat menyakitinya.


Simma hanya wanita biasa, yang tak pernah jatuh cinta, yang tak pernah mengenal arti kata rindu dan tak pernah tau bagaimana indahnya kasmaran


Lalu datang Josh, menawarkan seribu janji cinta dan seribu kebahagiaan. Simma yang polos dan tak mengerti apa-apa, terperangkap dalam tipu daya Josh hingga membuatnya hancur-sehancurnya.

__ADS_1


Setelah selesai, Simma menenggak susu di gelasnya hingga tandas. Dan ia langsung berjalan ke kamar.


Ia mengambil buku dan duduk di bersila di lantai, lalu menaruh meja kecil di depannya dan menaruh buku di meja kecil tersebut.


Simma mulai menulis, mengira-ngira apa saja yang ia butuhkan. Dari mulai kebutuhan pokoknya, susu hamil, memeriksakan ke dokter, biyaya persalinan, sewa apartemen serta biyaya pengasuh yang akan dia gunakan setelah melahirkan.


"Dari mana aku mempunyai uang sebanyak ini," gumam Simma setelah mentotalkan semua biyayanya. Sebenarnya, Simma mempunyai uang yang cukup di rekeningnya. Uang yang selalu Audrey berikan tiap bulan. Tapi, rasanya uang itu takan cukup, mengingat banyaknya kebutuhan Simma, ia takan mau menerima uang lagi dari Audrey. Karena Audrey tak bekerja lagi otomatis Kelly akan bersama Audrey dan Simma takan menjadi pengasuh Kelly lagi.


Kepala Simma berdenyut nyeri karena sedari tadi, ia terlalu banyak berpikir. Ia pun memutuskan untuk membaringkan dirinya dan merilekskan tubuhnya.


•••


"Apa kau ingin mampir ke tempat lain?" tanya Zidan. Saat ini, mereka sedang berada di mobil dan menuju pulang. Sudah dua hari ini, mereka menghabiskan waktu di hotel, menikmati romansa indah pengantin baru.


Karena ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya, Zidan memanggil supir untuk menjemputnya hingga ia tak perlu menyetir. Dan kini, ia merengkuh Audrey kedalam dekapannya, dan Audey melilitkan tangannya ke pinggang Zidan. Dan menaruh wajahnya di dada Zidan.


Mendengar pertanyaan suaminya, Audrey menggeleng. "Kita langsung saja pulang untuk menjemput Simma. Setelah itu kita jemput Kelly di mansion," jawab Audrey, Zidan pun mengangguk dan kembali mencium pucuk kepala Audrey.


Audrey mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya, lalu memajukan bibirnya dan Zidan langsung mencium bibir Audrey. Ternyata di balik sikap Audrey yang keras, Audrey mempunyai sikap yang sangat menggemaskan.


Saat sampai di apartemen, Zidan langsung duduk di sofa, sedangkan Audrey langsung mengetuk kamar Simma..


"Simma ... Simma!" panggil Audrey sambil menggedor-gedor kamar Simma.


Simma yang baru saja selesai mandi, menghela napas sejenak. Ia harus berbicara senatural mungkin pada Audrey. Ia bercermin memastikan bahwa matanya sudah ta sembab.


"Kau sudah sarapan?" tanya Audrey, Simma pun mengangguk.


"Kau baru tiba?" tanya Balik Simma.


Audrey mengangguk. "Simma, kemasi pakaianmu. Ayo kita pindah ke penthouse," ucap Audrey, membuat Simma langsung terdiam.


"Simma!" panggil Audrey saat Simma tak kunjung menjawab.


"Audrey, bisakah kita bicara?" tanya Simma membuat Audrey mengernyitkan keningnya.


"Simma, apa ada yang terjadi denganmu?" tanya Audrey, ia menatap Simma lekat-lekat. Kenapa Audrey merasa ada yang janggal dari Simma.

__ADS_1


Simma tersenyum. "Memangnya apa yang akan terjadi denganku," elak Simma sambil tertawa. Ia berusaha bersikap setenang mungkin


"Kau mau bicara apa?"tanya Audrey. " Ayo kita ke ruang tamu," ajaknya lagi.


Dan di sinilah mereka, Audrey dan Zidan duduk bersebelahan, sedangkan Simma duduk sebrang Audrey dan Zidan.


"Audrey ... Zidan, bukan aku menolak kebaikan kalian. Bolehkah aku tinggal di sini saja?" tanya Simma membuat Audrey membulatkan matanya dan langsung menegakan duduknya.


"Simma ... Apa maksudmu. Kenapa kau tak mau ikut bersama kami?" tanya Audrey. "Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?"tanya Audrey.


"Oh ayolah Audrey. Kau tau bukan, selama ini aku selalu bersama kau dan Kelly, aku ingin merasakan hidup sendiri, menikmati waktu luangku dan mungkin aku juga ingin bekerja," jawab Simma. Membuat Audrey membulatkan matanya.


"Simma, kau bercanda kan ... Kenapa kau harus bekerja. Kami bisa memberimu uang. Kau akan teeserang panik saat kau bertemu orang baru," cerocos Audrey panjang lebar.


"Oh ayolah Audrey. Justru karena aku memiliki gangguan panik, aku ingin memberanikan diriku. Jika aku terlalu lama dalam zona nyaman, aku tak yakin bisa sembuh."


"Tapi kenapa kau ingin tinggal sendiri, Simma?" tanya Audrey. "Kau kan bis ...." ucapan Audrey terhenti karena Zidan menggenggam tangannya.


"Sayang, mari kita hormati keputusan Simma. Simma berhak memilih jalannya sendiri. Kita bisa sering-sering mengunjungi Simma kemari," ucap Zidan yang berusaha menenangkan Audrey.


"Tapi ...." lagi-lagi ucapan Audrey terhenti saat melihat gelengan dari Zidann


"Kau ingin bekerja di bidang apa Simma?" tanya Zidan. Simma tampak berpikir.


"Aku tak bisa melakukan apa pun karena tak mempunyai pengalaman. Tapi aku bisa menjadi seorang barista dan peracik kopi," jawab Simma..


"Baiklah, akan ku urus. Secepatnya, kau akan mendapat pekerjaan," jawab Zidan membuat mata Simma berbinar.


Audrey menghela napas saat melihat wajah Simma yang terlihat bahagia. Ia pun bangkit dari duduknya dan berpindah ke sisi Simma, lalu Audrey memeluk Simma.


"Kau tau, kan, aku menyayangimu lebih dari apapun. Jika ini membuatmu bahagia, aku akan mendukungmu," Ucap Audrey, membuat tangis Simma pecah seketika.


Simma, aku tau ... kau menyembunyikan sesuatu. Jika kau tak mau jujur, aku akan mencari tau sendiri. Audrey membatin dalam hati. Ia mengenal Simma lebih dari Simma mengenal dirinya sendiri. Dari cara Simma menatapnya saja, Audrey tau, ada yang di sembunyika oleh Simma.


Ini dua bab di jadiin satu ya, krena ga sempet ngedit.


hate komen blok 😎

__ADS_1


__ADS_2