Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Tersenyum lembut


__ADS_3

“Aku tidak bisa terus mengikuti keinginan anehmu, jadi bisakah kau tak terlalu bergantung padaku. Apa kau tau, aku begitu lelah.”


Bbegitu menyakitkan ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku tertampar dengan kata-katanya ternyata aku berpikir terlalu dalam ternyata, aku berharap terlalu jauh.


Terkadang saat aku sedang sendiri. Aku memberanikan diri membayangkan mempunyai keluarga harmonis bersamanya. Aku membayangkan dia bisa jadi suami pada umumnya dan aku bisa merasakan bagaimana menjadi istri


Tapi ternyata, khayalanku terlalu tinggi. Karena semua takkan mungkin terjadi. Lalu, sekarang Apa langkah yang aku ambil. Berpisah dengannya? Tidak, aku tidak mungkin berpisah dengannya, karena ada garisnya di tengah-tengah kami.


Aku bisa melihat kebahagiaan yang besar dimata putriku ketika kami tinggal bersama. Aku tak ingin egois, putriku akan sangat terluka jika kami berpisah. Aku hanya ingin mengikuti takdir.


Tapi detik ini, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung padanya. Aku udah memutuskan untuk tidak lagi menatapnya sebagai suamiku. Karena pada awalnya pun, kami hanya orang asing yang dipertemukan oleh takdir.


Aku tidak ingin percaya lagi padanya, karena aku yakin dia masih mempunyai dendam padaku. Biarlah aku terkurung dalam pernikahan ini, asal kedua anakku bisa mendapatkan kasih seorang ayah dan keluarga yang utuh.

__ADS_1


Aku pernah merasakan getirnya hidup dengan seorang ayah tiri dan kehilangan sosok ayah kandung dan aku tidak mau kedua anakku mengalami itu. Biarlah aku bertahan dengan pernikahan yang menyakitkan, asal kedua anakku bisa merasakan dekapan seorang ayah.


Mungkin, Gabriel tidak akan melihat aku sebagai wanita ataupun istrinya. Tapi aku bisa melihat kasih sayangnya begitu tulus untuk Grisya, dan aku berharap dia juga menyayangi anaknya yang sedang tumbuh di rahim wanita sepertiku.


Lamunanku buyar, ketika pintu terbuka hatiku berdenyut nyeri, ketika melihat Gabriel masuk dan menatapku dengan berderai air mata.


Entah kenapa dia menangis, Jika menangis untukku, rasanya itu mustahil dan tak masuk akal. Mungkin, hanya satu alasan Gabriel menangis. Ia takut calon anakku tak selamat dan bukan karena aku yang terbaring.


“Amelia!”panggilnya. Dia memanggilku dengan nada yang berat, lalu dia maju ke arahku dan memeluk tubuhku yang sedang terbaring, kemudian menangis tersedu-sedu, sedangkan aku hanya terdiam. Kemarin-kemarin Aku selalu ingin di dekatnya. Tapi sekarang, hatiku rasanya pedih ketika dia ada didekatku.


Amelia POV end.


Gabriel menangis tergugu saat memeluk Amelia, Ia menciumi seluruh wajah Amelia. Hatinya terasa sesak, ketika melihat wajah Amelia yang menatapnya dengan sayu. bahkan Amelia menatapnya dengan sedikit tersenyum. Tak ada sama sekali raut wajah di wajah istrinya, padahal dia sudah sangat menyakiti Amelia.

__ADS_1


“Amelia, maafkan aku,” ucap Gabriel ketika dia menegakan tubuhnya dan menatap Amelia, ia sama sekali belum bisa menghentikan tangis sesalnya.


“Tidak apa-apa, Gabriel aku yang minta maaf. Maaf, karena telah menjadi bebanmu selama ini. Maaf juga, telah merepotkanmu.” Amelia tersenyum lembut, ia berusaha menegarkan hatinya untuk menjawab ucapan Gabriel.


Nyesss


Dada Gabriel berdenyut nyeri, ketika mendengar ucapan Amelia. Ia di susupi ketakutan yang luar bisa hebat ketika mendengar ucapan Amelia. Sikap Amelia saat ini, lebih menakutkan.


Jika ia bisa memilih, ia ingin Amelia bersikap dingin dari pada bersikap seperti ini. Setidaknya jika Amelia bersikap dingin, Ia bisa membujuknya. Tapi saat ini, walaupun Amelia tersenyum padanya, tapi, Amelia sudah membangun pembatas nyata dengannya


Nyesek ga gengs baca POV Amelia 😭😭😭


Ga komen g flend

__ADS_1


__ADS_2