
Stuard terbangun dengan napas terengah. Keringat dingin mengucuri seluruh tubuhnya, ia mengusap wajah kasar, mimpinya yang baru saja ia alami begitu menakutkan.
Ia bermimpi Simma dan kedua anak kembar mereka pergi dari mansion dengan bersimbah darah.
Tiba-tiba, perasaan Stuard jadi tak tenang. Seketika ia menjadi gelisah. Teringat seminggu ini ia tak memberi kabar karena sibuk dengan pekerjaannya.
Waktu menunjukan pukul 3 pagi, Stuard bangun dari berbaringnya. Ia memanggil Rain dan menyuruh Rain untuk menyiapkan pesawat. Setelah menelpon Rain, Stuard menelpon Simma. Namun, sayang. Ponsel Simma tak bisa di hubungi, membuat kepanikan Stuard menjadi-jadi.
Tak perduli dengan pekerjaannya yang menumpuk, Stuard ingin pulang secepatnya, ia ingin memastikan bahwa anak dan istrinya baik-baik saja.
Detik demi detik berlalu, Stuard terus melihat jam di tanganya. Perjalanan, dar Hawaii ke Rusia terasa lebih lambat dari biasanya.
Stuard menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali, ia mencoba tenang dan menguasai diri.
__ADS_1
Sejenak, ia memejamkan matanya. Tiba-tiba. Bayangan Gabby dan Gabriel melintas di otaknya. Ia kembali mengusap wajah kasar saat menyadari, bahwa sikapnya menyakiti kedua anak kembarnya.
Sungguh, seandainya saja bisa, ia ingin meminta pilot menjalankan pesawatnya dengan cepat agar bisa bisa segera sampai di Rusia. Rasa bersalah menghantam Stuard. Ia ingin segera sampai dan meminta maaf pada istri dan anak-anaknya.
Ia menjambak rambutnya kebelakang saat teringat, Gabby dan Gabriel pernah memintanya datang untuk merayakan hari ayah. Dada Stuard berdenyut nyeri ketika menyadari bahwa ia sudah sangat jahat pada kedua anak kembarnya. Ia malah memilih pekerjaannya dan pergi Hawaii dari pada menemani Gabby dan Gabriel di sekolahnya.
"Maafkan Daddy Gabby ... Gabriel," ucapnya. Ia kembali mengambil ponselnya dan menelpon Simma. Namun, sayang. Ponsel Simma masih tak bisa di hubungi.
Saat turun dari pesawat, Stuard langsung berlari, di pikirannya hanya ingin secepatnya pulang dan ingkin memastikan Simma dan kedua anak baik-baik saja. Mimpinya semalam Benar-benar hampir membunuhnya, hingga rasanya ia ingin secepatnya pulang bertemu Simma dan anak-anaknya.
Saat sampai, Stuard menekan klakson dengan keras karena penjaga tak kunjung membuka gerbang.
"Sayang ....Gabriel .... Gabby!" teriak Stuard dengan terengah. Ia langsung berlari masuk saat turun dari mobil.
__ADS_1
Hening, tak ada sautan dari dalam. Stuard kembali berlari menuju ke arah lift untuk pergi ke kamar.
"Dimana istri dan anak-anakku?" tanya Stuard, menghentikan langkahnya saat melihat kepala pelayan.
"Nyo-nyonya ....."
Jantung Stuard terasa berhenti berdetak, dunia Stuard seolah berhenti berputar. Napasnya tercekat, jiwanya seolah di renggut paksa dari raganya saat mendengar untaian-untaian kata tentang kepergian Simma dan kedua anaknya.
"Shittt!" umpat Stuard. Ia langsung berlari ke arah kamar untuk memastikan semuanya.
Ia membuka pintu kamar dengan keras. Namun sayang, kamarnya kosong. Bahkan tirai masih menutup, pertanda tak ada kehidupan di kamarnya selama beberapa hari ini.
Saat ia akan berbalik, matanya menatap ke arah nakas. Di sana, terjejer rapih semua pemberian Stuard. kartu-kartu, ponsel dan lain-lain. Tubuh Stuard ambruk kebawah saat melihat cincin pernikahan milik Simma yang sudah Simma simpan dengan barang-barang yang lain.
__ADS_1
Istrinya telah pergi, melepaskan cincin pernikahan, apakan istrinya menyerah?
Udah 3 bab ye Bun, awas aja kalau masih bilang seuprit 😂😂