
Mata Zayn dan Gia tertuju pada Ariana yang berdiri di samping Bri. Ariana yang di tatap, langsung menyembunyikam wajahnya di belakang tubuh Briana. Ia terlalu malu untuk menampilkan wajahnya.
Kemudian, ia kembali berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Briana, ia takut membuat Briana malu.
Jantung Zayn terasa di remas saat melihat wajah Ariana yang begitu mirip dengan mendiang Aida, yang tak lain adalah ibu kandungnya.
Semua berputar-putar di kepala Zayn, ia masih bingung dengan siapa sebenarnya Ariana.
Tanpa sadar, ia memajukan langkahnya dan berjalan ke arah Ariana.
Setelah berada di depan Ariana, Zayn menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Ariana.
"Hai, siapa namamu anak manis?" tanya Zayn. Mendengar ucapan Zayn, Ariana langsung menoleh ke arah sang ibu, memberi isyarat apa boleh atau tidak dia mengenalkan dirinya.
"Ha-hai, Uncle. Namaku Ariana," jawab Ariana dengan malu-malu. Ia menjawab setelah Briana mengangguk.
"Daddy, aku mau ini," ucap seorang anak perempuan dari arah belakang, yang tak lain adalah Maria. Anak kedua Zayn dan Gia.
Saat menghampiri ayah dan ibunya. Mata Mariana langsung tertuju kedepan, di mana Ariana sedang berdiri di depan anaknya.
"Maria, kenalkan ... Ini Ariana," ucap Gia. Maria pun mengangguk. Bocah kecil itu langsung mengulurkan tangannya pada Ariana. "Hai, aku Maria. Senang bertemu denganmu," ucap Maria.
__ADS_1
Umurnya sama dengan Ariana. Tapi, pemikiran gadis itu sangat dewasa, karena saat berjabat tangan dengan Ariana. Ia sama sekali tak menatap kaki Ariana. Karena ia tau, itu akan melukai hati Ariana.
"Ha-hai, jawab Ariana, ia kembali lagi menyembunyikan dirinya di belakang tubuh sang ibu. Hati Ariana mendadak ngilu saat mendengar Maria, memanggil Daddy pada Zayn. Seandainya ia bisa seperti Maria, pasti ia akan bahagia sekali bisa memanggil Daddy pada Josh, ... Tiba-tiba, Ariana tertunduk, matanya berkaca-kaca, ia merasa minder melihat Maria, karena Maria begitu cantik dan sempurna.
"Zayn ... Gia, sepertinya kami harus pulang terlebih dahulu. Lain kali, mari kita makan malam bersama," ucap Briana yang mengerti bahwa Ariana merasa tak nyaman, karena Ariana menggenggam tangannya begitu erat.
Gia dan Zayn pun mengangguk lalu tersenyum. tersimpan sejuta tanya di otak Gia dan Zayn tentang Ariana. Tapi mereka tak ingin lancang bertanya.
••••
Ariana menatap kejendela, pikiran buruk sudah membayang-bayanginya. keinginannya untuk bersekolah seketika sirna, semangat yang sudah menggebu-gebu pun akhirnya hilang, bagai pasir tersapu ombak. Melihat Maria saja ia sudah minder, apalagi melihat teman-temammya nanti.
Saat sampai di depan mansion, Ariana masih tetap setia terdiam. Ia bahkan tak membalas genggaman tangan Briana, tanpa di sadari secara tidak langsung, Ariana sedang mengalami krisis kepercayaan diri.
Saat sudah berada dekat paviliun. Briana menghentikan langkahnya saat Josh menunggu di depan pintu paviliun.
Josh yang sedari tadi menunggu Briana langsung menghampiri Briana dan Ariana. "Ayo pulang!" ajak Josh tanpa basa-basi. Ia menarik tangan Briana hingga genggaman tangan Briana pada Ariana terlepas.
"Lepas, Josh," ucap Briana, ia meronta-ronta, berusaha agar Josh melepaskan tangannya.
Pertahanan Ariana runtuh saat melihat adegan di depannya. Rasanya, ia sudah tak sanggup lagi menahan beban yang selama ini ia tanggung.
__ADS_1
Tak lama, Ariana melemparkan tongkat yang sedang di pegangnya, membuat Josh menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang.
"A-A-Arian," lirih Bri dengan bibir bergetar saat melihat Ariana berderai air mata dan terlihat jelas mata sang putri di penuhi kilatan luka dan kecewa.
"Uncle ... Apa menurutmu aku cacat adalah salahku? Apa menurutmu aku menginginkan terlahir seperti ini? Kenapa aku di perlakukan seperti sampah, aku juga tak pernah meminta untuk di lahirkan," cap Ariana pada Josh, dengan menangis tersedu-sedu.
Rasanya ia sudah tak sanggup menahan semua ini. "Aunty pulanglah, jangan menemuiku lagi. Aku sudah terbiasa hidup sendiri," sambungnya lagi dengan hati yang remuk redam.
Setelah mengatakan itu, Ariana pun berbalik. Di tengah tangisnya, Ariana meringis, kakinya terasa sakit karena ia berjalan tanpa tongkat.
Saat sampai di kamar, Ariana langsung mengunci pintu lalu, ia berjalan ke arah meja belajar.
Ariana mengambil gelas, ia menyalakan lilin kemudian menaruh lilin tersebut kedalam gelas. Gadis malang itu menyatukan kedua tangannya dan mengepalkannya dan memejamkan matanya, lalu mulai berdoa.
Bayangkan, sekecil Ariana di paksa harus menerima luka yang begitu hebat dan dasyat. Namun masih bisa tersenyum dan bersikap dewasa. Padahal, seharunya Ariana menikmati
masa-masa emas.
Satu bah dulu, ya. otor ngantuk.
hate komen blok
__ADS_1