Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
124


__ADS_3

"Nona Audrey ... Nona Audrey!" panggil Zidan saat Audrey kembali menunduk.


Baru saja Zidan akan memegang pundak Audrey, Audrey sudah terhuyung ke samping, beruntung Zidan cepat tanggap, hingga ia bisa menangkap tubuh Audrey.


Zidan menyingkirkan rambut yang menutupi pipi Audrey, ternyata mata Audrey terpejam, Audrey sudah kehilangan kesadarannya.


Dengan cepat, Zidan membopong tubuh Audrey dan membawanya kemobil.


Zidan mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan menempelkannya pada perut Audrey, agar darah tak terus keluar.


Ia menjalankan mobilnya, karena satu tangannya memegang perut Audrey, ia menyetir hanya dengan menggunakan satu tangan.


Saat sampai di rumah sakit, Audrey langsung di tangani oleh Dokter, sedangkan Zidan menunggu di kursi tunggu dengan harap-harap cemas.


Tak lama, ponsel Zidan berdering, ia merogoh saku dan mengambil ponselnya. Ia menghela napas kasar saat melihat siapa yang memanggilnya, ia melupakan janji makan malamnya dengan Mariane.


"Mariane Maaf, sepertinya kita harus menunda makan malam kita. Aku akan menghubungimu nanti," jawab Zidan pada Mariane ketika Mariane bertanya tentang keberadaan Zidan dan kenapa Zidan belum sampai di restoran.


Setelah berbasa-basi sebentar dengan Mariane, Zidan pun menutup telponnya karena Dokter sudah keluar dari ruangan yang di tempati Audrey.


"Bagaimana Dok, keadaannya?" tanya Zidan.


"Pasien sudah di tangani, beruntung luka tusuknya tak terlalu dalam. Mungkin Pasien akan sadar sebentar lagi," papar Dokter, membuat Zidan menghembuskan napas lega karena kondisi Audrey tak separah yang ia bayangkan.


"Bolehkah saya masuk, Dok?" tanya Zidan. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menariknya agar masuk ke dalam ruangan Audrey.

__ADS_1


"Silahkan!" balas Dokter tersebut.


Zidan membuka pintu dengan perlahan, ia berjalan dengan pelan ke arah brankar. Ia menggeser kursi dan duduk di sisi brankar Audrey.


Ia menatap lekat-lekat wajah Audrey, ia tak terlalu mengenal Audrey, ia hanya pernah berjuma beberapa kali dengan Audrey, karena Audrey menjadi sekretaris Josh, pamannya.


Zidan masih menatap lekat wajah Audrey, kenapa wanita sekuat Audrey bisa terluka. Tiba-tiba, ia teringat saat Audrey terjun dari gedung dengan hanya memakai seutas tali, dan itu membuat Zidan bergidik.


Lamunan Zidan buyar kala ia mendengar suara ponsel Audrey dari atas nakas, ponsel itu awalnya berada di saku jaket Audrey. Namun, suster memindahkannya ke atas nakas.


Zidan mencoba mengabaikan suara ponsel milik Audrey, karena rasanya tak sopan jika ia menyentuh barang orang lain.


Namun, ponsel Audrey terus berdering beberapa kali, hingga Akhirnya Zidan pun bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel Audrey.


Saat Zidan mengangkat ponsel tersebut, panggilannya sudah terputus otomatis. Tanpa sengaja, ia melihat walpaper di layar ponsel Audrey.


Deg.


tubuh Zidan mendadak kaku saat melihat walpaper di ponsel Audrey. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Ada rasa tak biasa saat melihat gambar seorang anak kecil yang sedang tersenyum.


Ya, Audrey memasang foto seorang anak kecil yang sedang tersenyum, dan foto itu membuat Zidan merasakan perasaan yang ia sendiri pun tak mengerti perasaan apa yang sedang ia rasakan.


Zidan menatap lekat-lekat foto wanita kecil itu, tangannya tergerak mengusap layar ponsel Audrey, seolah ia mengusap wajah anak kecil tersebut.


Saat mendengar Audrey melenguh, Zidan buru-buru menaruh ponsel Audrey ke atas nakas, dan ia berjalan dengan ke arah kursi dan kembali duduk di kursi tersebut.

__ADS_1


Audrey mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat kesana kemari. Aroma obat langsung menguar di hidungnya, ia menghela napas saat ia sadar ia sudah berada di rumah sakit.


"Ekhemm!" Suara deheman Zidan membuat Audrey tersadar, ia langsung menoleh ke arah samping di mana Zidan sedang duduk sambil menatapnya.


"Te-terimakasih," ucap Audrey dengan terbata-bata. Ia belum bisa banyak berbicara karena perutnya masih terasa sakit.


Zidan tersenyum sambil mengangguk, "Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksamu," ucap Zidan. Sedangkan Audrey tak membalas, tubuhnya masih terasa lemas dan ia merasa sangat tak bertenaga.


Setelah Dokter memeriksa Audrey, Zidan yang sedang berdiri di ujung brankar langsung berpindah ke sisi Audrey.


"Nona Audrey!" panggil Zidan. Audrey yang sedang memejamkan matanya langsung membuka matanya dan melihat ke arah Zidan.


"Semua sudah selesai. Aku pamit untuk pulang. Anda tak keberatan, kan?" tanya Zidan.


Audrey mengangguk, "Te-terimakasih, Tuan Zidan," ucap Audrey.


Saat Zidan akan melangkahkan kakinya untuk pergi, ponsel Audrey berdering. Audrey ingin menggapai ponselnya. Tapi, tangannya tak sampai.


Zidan yang tau Audrey kesusahan mengambil ponselnya, langsung berjalan ke arah nakas untuk mengambilkan ponsel Audrey.


Bukannya senang, Audrey di landa kepanikan saat Zidan terlihat akan mengambil ponsel miliknya.


"Tidak! Ia tak boleh melihatnya!" jerit Audrey dalam hatinya.


Satu bab dulu ye, Mak. satu bab lagi menyusul.

__ADS_1


__ADS_2