Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
304


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Stuard harus mendengar lagi kata-kata yang begitu menusuk dadanya. Saat ini, Stuard sedang berada di kamar kedua anaknya.


Sedari tadi, ia memutar otak, memikirkan bagaimana lagi caranya agar bisa merebut hati Gabby dan Gabriel.


Dan ia terpikirkan sesuatu, Gaby dan Gabriel melewatkan jadwal membeli mainan mereka. biasanya, sebulan sekali, Gaby dan Gabriel diberi kebebasan untuk memilih mainan sesuka hati mereka. dan itu sudah terlewat beberapa hari yang lalu. Hingga Stuard memutuskan untuk mengajak mereka hari ini, berharap mereka sedikit luluh.


Namun, belum mengetuk pintu kamar kedua anaknya, Stuart malah mendengar perbincangan Gaby dan Gabriel. Sebegitu dahsyat kah dampak perlakuannya pada Gaby dan Gabriel hingga mereka menyangka bahwa ia membenci mereka.


Setelah terdiam untuk beberapa saat, ia mengetuk pintu, kemudian melongokkan kepalanya ke dalam kamar Gabby dan Gabriel.


"Gabby ... Gabriel!" panggil Stuard membuat Gabby dan Gabril yang sedang duduk menoleh.


"Ada apa, Dad?" tanya Gabriel. Walaupun, tanpa sadar, Gabby dan Gabiel sedang membagun


pembatas pada Stuard. Tapi Simma sudah mewanti-wanti agar Gabby dan Gabriel bersikap sopan santun pada sang ayah.


Stuard tersenyum. Ia berjalan ke arah Gabbi dan Gabriel. Kemudian ia menekuk kakinya dan mensejajarkan diri dengan Gabby dan Gabriel.


"Daddy sudah lama tak mengajak kalian membeli mainan. Ayo kita pergi sekarang, kalian sudah melewatkan jadwal membeli mainanan kalian," ajak Stuard.


Gabby dan Gabriel tak menjawab, mereka bahkan tak berekpresi. Stuard, menghela napas. Ia pun bangkit dari berjongkoknya dan menarik lembut tangan kedua anaknya. "Ayo!" ajak Stuard, dengan lesu, kedua anak kembarnya itu pun turun dari ranjang dan mengikuti langkah Stuard.


Di pikiran Gabby dan Gabriel adalah, mematuhi sang ayah agar sang ayah tak semakin membenci mereka. Hingga walau mereka membangun pembatas dengan Stuard, tapi tetap saja kedua anak itu mengikuti perintah sang ayah.

__ADS_1


•••


"Gabby ... Gabriel, kalian memilih dulu oke, Daddy akan menerima telpon terlebih dahulu," kata Stuard saat sampai di toko surga mainan anak-anak. Gabby dan Gabriel pun mengangguk.


Saat Stuard meninggalkan mereka, Gabriel menarik tangan Gabby yang akan memilih mainan. "Jangan Gabby!" ucap Gabriel.


"Kenapa? aku ingin memilih mainan Gabriel!" jawab Gabby dengan bibir mengerucut.


"Memangnya kau punya uang?" tanya Gabriel membuat Gabby tertunduk. "Ayo duduk di sana!" ajak Gabriel, ia menarik tangan Gabby dan mengajak saudara kembarnya, untuk duduk di kursi.


Setelah menerima panggilan, Stuard berniat menyusul kedua anaknya. Namun, saat ia akan mengambil troly matanya melihat ke kursi tunggu, di mana kedua anaknya sedang duduk. Padahal, ia sudah menyuruh Gabby dan Gabriel untuk memilih mainan.


"Kalian kenapa tak memilih mainan, hmm?" tanya Stuard. "Ayo, kita mulai memilih mainan!" ajak Stuard saat kedua anak kembarnya tak membalas ucapannya.


•••


Waktu menunjukan pukul 12 malam, Stuard masuk ke kamar kedua anaknya, ia menyalakam lampu dan berjalan ke arah ranjang Gabriel.


Ia mendudukan dirinya di sisi ranjang putranya. Matanya menatap wajah Gabriel lekat-lekat. Ada sesak yang tak terlihat saat ia menatap wajah Gabriel.


Seminggu ini, Stuard begitu kesusahan mendekati Gabriel, sedangkan sikap Gabby sudah sedikit mencair padanya.


Gabriel akan menjawab ketika di tanya, selebihnya dia akan kembali diam dan beberapa kali, Stuard memergoki Gabriel melamun.

__ADS_1


Di titik ini, Stuard begitu takut, bahwa perlakuannya kemarin-kemarin, membuat sikis Gabriel terganggu. Tanpa sadar, Stuard menangis, ia merasa sesak ketika membayangkan Gabriel membencinya.


Gabriel yang sedang tidur terlelap, terbangun karena merasakan air yang mengenai tanganny, ternyata itu air mata Stuard.


"Dad!" Gabriel mengucek matanya, ia bangkit dari berbaringnya kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


"Daddy why are you crying?" tanya Gabriel, seketika Stuard menghapus air matanya dan tersenyum.


"Maafkan Daddy yang membuatmu terbangun, tidurlah lagi." jawab Stuard.


"Apa aku membuatmu marah lagi, Dad?" tanya Gabriel.


"Kenapa kau selalu berpikir Daddy membencimu, hmm?" tanya Stuard tiba-tiba. Ia rasa, ini waktu yang tepat untuk berbicara pada Gabriel dari hati ke hati


"Dad, apa guci itu lebih berharga dari pada kami?" ucap Gabriel tiba-tiba. Wajahhya berubah sendu. Ia menatap Stuard dengan mata yang berkaca-kaca.


Skak, Stuard langsung terdiam mendengar jawaban Gabriel. Jawaban yang tak pernah ia duga bisa keluar dari mulut putranya. .


Sekarang, ia mengerti kenapa Gabriel sangat sulit untuk di luluhkan


Stuard ....


Sebentar lagi ketemu Ariana ya, kisahnya bikin kaya naik roler coster 😂 Ada hal yang tak terduga,

__ADS_1


Khalisia aku up besok ya di sebelah, kalau Grey udah update juga di si kuninggggg


__ADS_2