Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
129


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 04 sore, Zidan meregangkan tubuhnya setelah pekerjaannya selesai.


Sejenak, ia menyenderkan tubuhnya kebelakang. Matanya menerawang ke langit-langit, di sadari atau tidak oleh Zidan. Ia merasa ada yang hilang dari dirinya.


Lamunan Zidan buyar kala ia mendengar ponselnya berdering. Ia menegakan tubuhnya dan dengan malas, ia meraih ponsel yang berada di atas mejanya.


Ia mengusap wajah kasar saat melihat pesan yang di kirim oleh Mariane. Karena makan malam yang gagal, Mariane meminta Zidan untuk mengantarkannya ke bandara, karena malam ini Mariane harus pergi ke Singapore untuk pemotretan.


Zidan pun bangkit dari duduknya dan membereskan mejanya. Lalu ia memakai jasnya dan menyambar kunci mobil, dan keluar dari ruangannya.


•••


"Maaf membuatmu lama menunggu," ucap Mariane saat Zidan memencet bel apartemennya selama beberapa kali.


"Tak masalah," jawab Zidan dengan senyum yang di paksakan. Ia pun masuk kedalam melewati tubuh Mariane.


Langkah Zidan terhenti saat Mariane memeluknya dari belakang. "Honey, aku merindukanmu," ucap Mariane.


Zidan menghela napas, ia mengelus punggung tangan Mariane yang sedang melingkar di pinggangnya, ia sama sekali tak berniat untuk menjawab ucapan Mariane.

__ADS_1


"Apa kau sudah selesai berkemas?" tanya Zidan mengalihkan pembicaraan.


Mariane mengigit bibir kala Zidan tak membalas ucapannya dan malah membahas hal lain. Walaupun sudah terbiasa dengan sikap kaku Zidan, tapi tetap saja ada rasa sesak yang tak bisa di jelaskan. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, tapi Zidan masih tetap bersikap kaku padanya.


"Semua sudah selesai, aku hanya tinggal membersihan diriku," ucap Mariane sambil melepaskan pelukan dari Zidan.


Zidan pun mengangguk, lalu tanpa menoleh ke arah Mariane dia melanjutkan langkahnya ke arah sofa.


•••


"Terimakasih sudah mengantarkanku ke bandara," ucap Mariane ketika ia sudah akan masuk ke terminal keberangkatan.


Zidan memberikan koper yang di bawanya ke tangan Mariane. Ia mengelus rambut Mariane dan tersenyum. "Kabari aku jika kau sudah sampai," balas Zidan.


Saat sudah Mariane masuk ke pintu keberangkatan, Zidan pun berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pulang.


"Auhh!" Ringis Zidan ketika seorang anak perempuan menabrak dirinya dan mengenai kakinya.


"Maafkan aku, Uncle," lirih bocah kecil itu sambil mendongak ke atas menatap Zidan. Dan anak kecil itu adalah Kelly.

__ADS_1


Saat mendengar suara anak kecil di depannya. Hati Zidan bergetar. Ia langsung menatap Kelly, ada getaran aneh saat ia menatap irish mata milik anak kecil di depannya.


Tanpa sadar, Zidan membungkuk, manaruh tangannya di kedua lututnya dan menatap Kelly lekat-lekat.


"Its, oke. No problem," balas Zidan.


"Kalau begitu kami permisi," sela Simma yang berada di samping Kelly, wajah Simma sudah pucat pasi kala ia melihat Zidan. Ya, ia tau bahwa Zidan adalah ayah dari Kelly. Sebab, Audrey sudah menceritakan semuanya dan memerlihatkan foto Zidan.


Dan saat tadi Kelly menabrak Zidan, Simma sudah terkejut setengah mati.


"Tunggu!" ucap Zidan saat lengan Kelly sudah di tarik lembut oleh Simma.


Simma memejamkan matanya, sebelum berbalik, ia melihat Audrey dari kejauhan. Simma menggeleng pada Audrey pertanda tak ada yang terjadi, dan Audrey menghela napas lega ia mengerti isyarat yang di berikan oleh Simma, isyarat yang memberitau bahwa Zidan tak tau tentang Kelly.


Simma dan Kelly pun berbalik, lalu setelah mereka berbalik, Zidan menghampiri Kelly dan ....


Maafken yang semalem ketiduran ye mak.


Satu bab lagi menyusul, mungkin nanti sore.

__ADS_1


Hate komen blok 🤣. Aku baru ngeh lho kalau aku blok orang, orang itu ga bisa baca lagi cerita ini 🤣. jadi jarinya di jaga ya 🤣


Dan yang nanya, kenapa Zidan ga di kasih tau sekarang aja? Lah kalau Zidan tau sekarang, tamat dong ceritanya 🤣


__ADS_2