Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
437


__ADS_3

“Zayn kalian dari mana?” tanya Zidan ketika Zayn masuk dan menghela nafas, kemudian terdiam. “Aku menyusul Arlera ke pemakaman,” jawab Zayn, Gia maju ke arah suaminya, kemudian mengelus punggung Zayn.


“Kau belum makan malam, Dad, yo makan. Setelah itu, antarkan makanan ke kamar Arleta. Selama ini kau belum belum pernah berbicara berdua dengannya , bukankah ini waktu yang pas untuk berbicara dengannya,” jawab Gia Zayn pun mengangguk.


Selama 6 bulan menjalani pengobatan, Zayn memang jarang menemui Arleta. Ia hanya menyapa sesekali, karena ia tau, ia adalah sumber luka adiknya. Jadi ia lebih memilih berbicara dengan Arleta setelah ia pulih, dan ia rasa, setelah mendengar keluh kesah adiknya, ia bisa berbicara dari hati ke hati bersama Arleta.


Zayn berjalan kearah meja makan untuk memakan makan malamnya, saat ia mengunyah rasa makanan itu hambar karena pikirannya sedang melayang pada adiknya, dan pada ucapan adiknya yang ia dengar dimakan.


“Mommy apa aku benalu?”


“Mommy aku sudah mempertaruhkan nyawaku, apa itu impas untuk membayar biaya hidupku selama ini.”


Sekelebat ucapan Arleta tadi menubruk otaknya, membuat lelaki yang terkenal arogan itu menunduk menahan tangis.


“Dad!” panggil Gia pada Zayn yang sedang menunduk, Zayn tersadar, kemudian menyimpan mengangkat kepalanya.


“Aku sudah kenyang, Sayang,” ucap Zayn. Padahal, dia hanya memakan berapa sendok. Gia yang mengerti apa yang dirasakan suaminya mengangguk, kemudian ia menyerahkan nampan ke hadapan Zayn yang sudah terisi makanan.


“Coba antarkan ini ke kamar Arleta, dia juga belum makan malam kan, Dad,” kata Gia. Zay mengangguk, setelah itu Zayn bangkit dari duduknya, kemudian membawa nampannya ke kamar Arleta.


Saat berada di depan kamar Arleta, Zayn mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam. Ia pun memuatar knop pintu hingga pintu terbuka, Zayn melongokkan kepalanya, ternyata Arletta sedang berbaring sambil meringkuk.


Ia tidak tahu Arleta tertidur atau tidak, karena Arletta membelakangi pintu. Perlahan, ia masuk ke arah kamar, kemudian ia menaruh nampan di atas nakas. Lalu, mendudukkan diri di ranjang.


Saat duduk, di ranjang, ia tidak berbicara sepatah kata pun, ia hanya melihat punggung sang adik. ”Pergilah Kak, aku akan memakan makanannya nanti. Keluar dari kamarku, jangan membuatku semakin malu kepadamu,” ucap Arleta tiba-tiba setelah sekian lama Zayn diam.


Arleta memang tidak tidur, saat mendengar suara derap langkah, ia langsung berbalik membelakangi pintu dan saat Zayn duduk di ranjang, Arleta mengigit selimutnya karena tak bisa menahan tangis.


Zayn tertegun, saat mendengar suara Arleta, ternyata Arleta menyadari keberadaanya. Zayn tak menjawab, matanya tak bergerak sedikitpun, ia terus memperhatikan tubuh sang adik yang terlihat sangat kurus.


Tiba-tiba, pikirannya melayang pada masa lalu dulu. Saat Arleta memperkenalkan Arleta padanya dan pada Zayn sebagai adik mereka.


Saat awal-awal Arleta di bawa oleh kedua orang tuanya, Zayn tak terlalu dekat dengan Arleta, Bahkan ia jarang sekali menyapa adik kecilnya Apalagi, Arleta terlihat takut kepadanya.


Ia baru saja bisa dekat dengan Arleta saat kehadiran Leonardo, karena Arleta sering datang untuk melihat Leo dan dari situlah hubungan Zayn dan Arleta dekat, mereka layaknya sepasang kakak adik, Arleta selalu manja pada Zayn dan Zidan tanpa ada rasa canggung lagi.


Dan ketika Arleta beranjak dewasa, kedua kakanya benar-benar memperhatikannya. Bahkan, Zayn tak pernah mengijinkan adiknya untuk ke club' malam. Tapi sayang, semuanya berubah saat Arleta memfitnah Ariana.


Tak ada lagi sosok kaka yang hangat, kedua kakanya selalu menatapnya dengan kecewa, ia pernah berpura-pura meminta ijin untuk pergi ke Club'. Namun, Zayn tak melarangnya seperti biasa. Sikap kedua kakanya berubah total setelah ia memfitna Ariana, itu sebabnya ia lebih memilih pergi dari apartemen.


Dan sekarang, ia sudah mendapat balasan yang bertubi-tubi dari perbutannya, dia harus mengganti apa yang ia lakukan dengan nyawanya.


Setelah sekian lama diam, akhirnya Zayn menaikan kakinya ke ranjang, lalu duduk dengan posisi kaki memanjang.


Ia mengelus rambut Arleta ...


Gengs hari ini aku kan udah update 4 bab, aku mau ijin promo ya, jangan hate komen, anggap aja ini bayaran aku karena udah crazy up hari ini. Kalau kalian ga mau baca promo ini, kalian bisa langsung Scroll karena setelah bab ini, ada dua bab lagi tentang Arleta.


Cerita ini tayang di K_B_M APP. kalau bingung bisa chat di no 088222277840, cerita ini sudah tamat dan kalau kalian bingung beli koin bisa lewat adminku di no di atas, dan di bawah adalah cuplikan bab 10 kalau kalian penasaran kalian bisa baca bab dari awal di sana.


Ini buat yang mau ikut aja ya yang ga mau skip aja karena di bawah ada 2 bab tentang Arleta.


Jdul novel Lihat aku suamiku.


Mahira membuka matanya, betapa terkejutnya dia, saat dirinya yang terbaring dikamar Gani.


Ekor mata Mahira melihat kearah bawah dan yang lebih terkejutnya lagi Mahira terbangun menggunakan kemeja milik Gani. Lagi-lagi Mahira terkejut saat Gani memegang perutnya. 


Gani pun melihat kearah Mahira. Ia tersentak kaget saat Mahira membuka matanya dan melihatnya. Saat mata mereka saling mengunci, Gani dengan cepat menjauhkan tangannya dari perut Mahira. 


Walaupun Mahira sudah memutuskan untuk menyerah. Namun, ada setitik rasa kebahagiaan muncul di hati Mahira saat Gani yang masih bersetatus suaminya memegang perutnya untuk yang pertama kali. 


"Jangan salah paham, tadi  kamu tak sadarkan diri. Jadi saya menolong kamu atas dasar kemanusiaan," ucap Gani datar dan dingin. Ia berbicara tanpa melihat kearah Mahira. 


Seketika rasa bahagia yang sempat  memghampiri Mahira sirna. Padahal baru beberapa detik lalu dia merasakan sedikit kebahagiaan. Namun, perkataan Gani menghancurkan setitik rasa bahagia yang baru Mahira rasakan.


Walaupun terasa sakit, Mahira berusaha mengutkan hatinya. Takan ada lagi air mata untuk suaminya. Tak ada lagi yang bisa menjatuhkan harga dirinya, dia akan kuat demi dirinya dan demi calon anaknya. 


Dengan perlahan, Mahira bangkit dari berbaringnya dan turun dari ranjang.


"Maaf sudah merepotkan anda, Pak. Terimakasih sudah membantu saya dan terimakasih sudah meminjamkan kemeja bapa. Kalau begitu saya permisi." Tanpa mendengar lagi jawaban Gani, Mahira pun keluar dari kamar.


Sedangkan Gani di buat heran atas ucapan dan tingkah Mahira. Apalagi saat Mahira memanggil dengan sebutan bapa untuk yang kedua kalinya.


"Apa dia sedang mencari perhatianku," lirih Gani. Dia berdecih sinis saat menyangka Mahira mencari perhatiannya. Tanpa Gani sadari bahwa Mahira akan benar-benar pergi jauh dari sisinya.

__ADS_1


"Mahira, kau sudah merasa baikan?" tanya bi Karti saat Mahira masuk kedalam kamar bi Karti.


"Sepertinya aku demam, Bi," jawab Mahira. 


"Mahira kau kan belum makan. Sebentar, bibi bawakan makanan untukmu," ucap bi Karti yang akan bangkit dari duduknya untuk mengambil nasi untuk Mahira. 


"Bi, aku tak ingin makan nasi."


"Perutmu kosong, Mahira dan kau harus makan."


"Bibi tadi melihat kresek kecil yang berisi susu dan roti bi?" tanya Mahira. 


Bi karti tampak berpikir sejenak. 


"Ah, ia. Bibi menaruhnya di dapur saat kau berada di kamar."


"Bi, apa aku boleh minta tolong untuk membuatkan susu untukku dan membawa rotinya kemari," ucap Mahira. 


"Kau tidak akan makan nasi, Mahira?"


Mahira menggeleng. "Tidak bi, sepertinya bayiku ingin makan roti," jawab Mahira berbohong.


"Tunggu sebentar, bibi akan membuatkannya."


°°


Setelah menyelasaikan acara mandinya. Gani pun keluar dari kamar mandi. Dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ya, walaupun mereka satu kamar tapi mereka pisah ranjang, Mahira tidur di ranjang sedangkan Gani tidur si sofa.


Saat Gani sudah berbaring di sofa, dia tak henti-hentinya melihat kearah pintu. Dia bertanya-tanya dalam hatinya kemana Mahira. Lalu tak lama dia menggeleng menyadarkan dirinya agar tak memikirkan Mahira. 


Lalu, Gani mengangkat satu tangannya ke udara, dia tersenyum tanpa sadar saat mengingat dia menyentuh perut Mahira. Lagi-lagi Gani menggeleng menyadarkan dirinya agar tak memikirkan Mahira dan menepis rasa untuk Mahira dan calon anak Mahira. Bagi Gani, hanya mendiang Rahma dan Dita dalam hatinya. Setelah sibuk dengan Pikirannya sendiri, akhirnya Gani pun tertidur.


Keesokan harinya.


"Mahira, kau mau kemana?" tanya bi Karti saat melihat Mahira sudah rapih. 


"Bi, aku akan bertemu mendiang ibu mba Rahma. Aku akan meminta pekerjaan padanya," jawab Mahira sambil mengikat rambutnya.


Mata bi Karti membulat sempurna saat mendengar ucapan Mahira. Bagaimana tidak, Mahira sedang hamil dan bi Karti yakin Mahira tak kekurangan uang sedikit pun lalu kenapa Mahira harus bekerja.


Mahira pun menurut, dia duduk si sebelah bi Karti.


Dengan lembut, bi Karti memegang tangan Mahira.


"Mahira, kenapa kau harus bekerja, Nak. Bukankah suamimu selalu memberimu uang. Lalu bagaimana dengan kandunganmu?" tanya bi Karti. 


"Bi, saat hari-hariku kemarin, setiap hari, aku selalu berdoa agar mas Gani menerima ku dan calon anaknya. Aku tau, aku tak pantas berharap lebih. Walaupun mas Gani tak menerimaku sebagai istrinya setidaknya dia mengakui anak yang sedang ku kandung. Tapi kemarin, aku mendengar dari mulut mas Gani sendiri bahwa kami adalah sebuah kesalahan. Hatiku sakit Bi ... Maka dari itu, aku memutuskan untuk meminta berpisah saat anak ini lahir. Aku tak ingin saat anakku besar dia akan mengemis kasih sayang dari ayahnya. Dan semoga bu Hilda mau memberiku pekerjaan agar aku mempunyai biyaya melahirkan," ucap Mahira sambil menahan sesak di dada. 


"Kau tidak perlu bekerja, Mahira. Jika kau memang tak ingin bergantung lagi pada tuan Gani, bibi akan memberikan gajih bibi padamu," ucap bi Karti lagi yang tak tega jika Mahira akan bekerja. 


Mahira menggeleng, "Tidak, Bi. Aku tau bibi sedang mengumpulkan untuk naik haji. Jadi biarkan aku berusaha sendiri untukku dan untuk anakku," ucap Mahira. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah.


Dengan sigap, bi Karti memeluk Mahira membiarkan Mahira menangis dalam pelukannya. 


"Ayah, jadi, kan, hari ini kita pergi?" Tanya Dita saat dia dan Gani sedang sarapan.


Gani mengelus pucuk kepala sang putri,  hal yang sudah lama tak dia lakukan setelah kepergian istri pertamanya. 


"Ayo! Setelah ini kita berangkat," jawab Gani. Dia kembali memasukan roti ke mulutnya. Mata Gani menatap kesana kemari. Tanpa Gani sadari, dirinya mencari Mahira yang semalam tak ada di kamarnya dan pagi ini tak ikut sarapan seperti mereka. 


Dan bertepatan itu, Mahira muncul dari arah dapur. Dia berjalan menghampiri Dita untuk pamit pada putri tirinya agar tak mencarinya.


Seketika pandangan Gani tertuju pada Mahira. Dia terpaku menatap Mahira yang hari ini tampak lebih cantik karena Mahira mengikat rambutnya. Seketika Gani tersedak. 


Gani pikir, Mahira akan mengambilkannya minum untuknya. Namun, Gani salah, Mahira bahkan tak meliriknya sama sekali.


Akhirnya Gani pun mengambil minum sendiri.


"Dita, Tante pergi dulu, ya," ucap Mahira sambil mengelus rambut putri tirinya.


Dita pun hanya tersenyum dan mengangguk. 


Mahira pun pergi meninggalkan ruang makan. Lagi-lagi, Gani dibuat terdiam saat Dita memanggilnyanya tante.


"Mahira, memakai cara apapun kau takan bisa mendapatkan perhatianku," lirih Gani dalam hatinya. Rupanya dia masih mengira Mahira bersikap acuh karena ingin mendapat perhatiannya.

__ADS_1


°°°


Dengan menaiki ojek online, Mahira pun sampa di kediaman bu Hilda. Saat dia akan masuk, gerbang terbuka dari dalam karena ada  mobil yang keluar.


Saat mobil keluar, Mahira dibuat kaget saat melihat pengendara mobil tersebut. Karena kaca mobil yang terbuka membuat Mahira bisa melihat dengan jelas siapa yang mengendarai mobil tersebut.


"Bukankah, dia yang mencopetku dulu," lirih Mahira. Ya, dia yakin orang itu adalah yang mencopetnya dulu. Sebab sebelum dia di copet, copet itu berpura-pura bertanya pada Mahira.


 Tiba-tiba dia juga teringat mendiang Rahma yang langsung berada di terminal setelah dia kecopetan dan langsung mengajaknya bekerja tanpa bertanya tentang kehidupan Mahira terlebih.


"Sebenarnya siapa mereka," lirih Mahira yang merasa bahwa Rahma memang sudah merencanakan ini dari awal hingga dia harus menjadi istri Gani. Bahkan Mahira merasa tak asing saat melihat wajah mendiang Rahma saat mereka pertama kali berjumpa. , Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, bu Hilda yang akan menutup gerbangnya melihat Mahira yang sedang melamun.


"Mahira!" Panggil bu Hilda. Bu Hilda sangat terkejut dengan kedatangan Mahira. Bu Hilda hanya berharap Mahira tak melihat siapa yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Asaalamualaikum, Bu," ucap Mahira sambil mencium tangan bu Hilda. 


"Waalaikum salam, ayo, masuk, Nak."


Bu hilda pun Mahira pun masuk kedalam rumah. 


Dan Mahira pun bercerita semuanya pada bu Hilda dan bu Hilda menyuruh Mahira untuk bekerja di butik miliknya. Tentu Mahira senang. Sebenarnya bu Hilda menawarkan untuk membantu Mahira secara cuma-cuma. Namun, Mahira menolak. Dia lebih memilih untuk bekerja di butik bu Hilda. 


Sedangkan Gani, saat dalam perjalanan menuju wahana permainan bersama Dita. Dia teringat mantan mertunya. Sudah lama sekali Gani tak menjenguk mantan mertuanya. Gani pun memutuskan untuk mampir sebentar sebelum membawa Dita ke area permainan. 


Saat sampai dirumah mertunya,  Gani mengernyit heran saat pintu rumah tidak tertutup. 


Gani dan Dita pun masuk kedalam rumah.


"Omaa!" Teriak Dita saat melihal Hilda sedang duduk bersama Mahira di sofa. 


Hilda pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Dita. 


"Dita kau kemari bersama siapa, Nak?" Tanya Mahira. 


Belum Dita menjawab,  Gani sudah muncul dari arah belakang.


Melihat Mahira di rumah mertuanya. Tiba-tiba emosi Gani meledak,  dia berpikir buruk lagi tentang Mahira.


"Bu, bisa bawa Dita pergi,  saya ingin bicara pada Mahira," ucap Gani pada mertuanya. Rupanya dia tak sabar untuk mencecar Mahira.


Bu Hilda pun mengangguk dan membawa Dita pergi.


Setelah mertuanya pergi membawa Dita. 


Gani menatap tajam Mahira. 


Dia maju kearah Mahira dan menarik tangan Mahira dan mengajaknya untuk berbicara di taman.


"Pak, sakit," ucap Mahira saat Gani menarik tangannya. 


Saat sampai taman, Gani melepaskan tangan Mahira dengan kasar hingga Mahira meringis.


"Setelah gagal merebut posisi Rahma dirumah saya sekarang kamu ingin merebut juga posisi Rahma dirumah ini, Hah!" Teriak Gani dengan emosi. 


Sungguh, saat ini Mahira merasa malu sekali saat beberapa pekerja di rumah bu Hilda melihatnya saat dimarahi oleh Gani. 


"Kuat Mahira, kau harus kuat," lirih Mahira. 


Mahira menghela napas sejenak, dia berusaha meredam gejolak dalam hatinya. 


"Pak, ayo kita bicara baik-baik," ucap Mahira sambil tersenyum. Dia tak ingin menghadapi emosi dengan emosi. 


Melihat Mahira tersenyum, Gani terpaku. Emosinya menguap begitu saja saat melihat senyuman Mahira.


Mahira mendahului Gani duduk di sofa yang terletak di taman. 


Dan Gani pun menyusul duduk di depan Mahira. 


Setelah mereka duduk berhadap-hadapan. mahira membuka tasnya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan Atm.


"Pak, ini atm yang pernah bapa lemparkan pada saya. Saya kembalikan ini pada bapak. Bapak bisa mengeceknya, saya belum pernah memakainya sama sekali. Dan juga, saya kesini bukan untuk menggantikan posisi mendiang mba Rahma, saya hanya ingin meminta pekerjaan pada bu Hilda dan juga ... Mari kita bercerai Pak. Karena kita hanya menikah siri, Setelah anak ini lahir bapa bisa langsung mentalak saya. Bapa tenang saja, saya tak akan menuntut apa-apa dari Bapak." Mahira berucap penuh ketenangan. Ia tak membiarkan Gani menyela ucapannya. Bahkan tak ada rasa ragu saat Mahira mengatakan tentang perceraian. 


Deg. 


Gani terdiam mendengar ucapan Mahira dan ....

__ADS_1


Dan Gani langsung terkena serangan jantung mak 🤣🤣🤣🤣🤣 becanda deng.


__ADS_2