
"Kau mau makan siang di mana?" tanya Zidan saat Ane tak berhenti merengek. Ia terpaksa mengikuti kemauan Ane karena Ane terus merengek lapar.
"Bagaimana kalau makan di restoran khas jepang?" tanya Ane di tanggapi anggukan oleh Zidan.
Zidan pun bangkit dari duduknya, ia memakai jasnya dan tak lupa menyambar kunci mobil. Saat Ane akan menggandeng tangannya, Zidan dengan cepat berjalan mendahului Ane. Jujur saja, Zidan sangat risih dengan tingkah Ane.
Saat melewati ruangan Audrey, Zidan menoleh. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang saat melihat Audrey mengucir rambutnya, memerlihatkan leher jenjangnya yang putih. Saat ini di mata Zidan, Audrey begitu menggemaskan.
Tak lama, Zidan tersadar saat Ane menabrak tubuhnya, ia pun meneruskan langkahnya di susul Ane di belakangnya.
•••
Setelah makan siang, Zidan pun sengaja mengantarkan Ane ke apartemennya. Jujur saja, ia tak ingin di ganggu oleh Ane.
Zidan ke dalam kantornya sambil menenteng paperbag di tangannya. Paperbag itu berisi makan siang untuk Audrey. Ia sengaja mempersingkat makan siangnya agar bisa membawakan makanan untuk Audrey
Tanpa Zidan sadari, sedikit-sedikit, hatinya sudah terpaut pada seorang Audrey Khail. Entah sejak kapan rasa itu hadir, entah rasa kagum atau rasa yang lainnya. Tapi, satu hal pasti, ia selalu matanya selalu terhipnotis saat dekat dengan Audrey. Seolah, matanya hanya ingin melihat Audrey.
"Nona Audrey!" panggil Zidan.
Audrey yang sedang fokus pada laptopnya menoleh, "Anda butuh sesuatu tuan Zidan?" tanya Audrey sambil bangkit dari duduknya.
Zidan pun maju ke arah Audrey, ia meletakan paperbagnya di meja Audrey. "Ini makan siang untuk mu," ucap Zidan di tanggapi anggukan oleh Audrey.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Zidan," balas Audrey.
"Hanya itu," batin Zidan menggerutu saat melihat reaksi Audrey yang biasa-biasa saja. Ia pikir, Audrey akan senang karena di bawakan makanan olehnya. Tapi ia salah, Audrey tetap bersikap datar dan dingin.
Tapi anehnya Zidan menyukai sikap Audrey yang acuh dan apa adanya, dari pada sikap Ane yang manja dan sikap yang terlalu dibuat-buat.
"Apa anda membutuhkan yang lain, Tuan Zidan?" tanya Audrey saat Zidan masih diam di ruangannya.
Zidan tersadar, kemudian menggeleng. "Silahkan lanjutkan," ucap Zidan, ia pun keluar dari ruangan Audrey.
•••
Waktu menunjukan pukul 04 sore, Audrey membereskan mejanya karena waktu kerjanya sudah selesai. Ia bangkit dari duduknya dan membawa berkas untuk di tanda tangani oleh Zidan.
"Tuan Zidan, ini berkas yang harus anda tangani," ucap Audrey.
Zidan pun mengangguk, ia mengambil berkas dari tangan Audrey.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Audrey ketika Zidan sudah menerima berkas yang di berikannya.
"Nona Audrey!" panggil Zidan tanpa sadar saat Audrey sudah akan keluar dari ruangannya.
"Ya, tuan Zidan."
__ADS_1
Zidan tersadar, ia mengutuk dirinya sendiri kerena ia memanggil Audrey tanpa sadar.
"Tidak, bolehkah saya meminta nomer ponsel anda," lagi-lagi, Zidan berucap tanpa sadar. Ia mengucapkan apa yang ada di hatinya.
Audrey pun maju ke arah Zidan, ia merogoh tasnya dan memberikan kartu namanya pada Zidan. "Kalau begitu saya permisi," pamit Audrey di tanggapi anggukan oleh Zidan.
"Ada apa denganmu Zidan," lirih Zidan sambil melihat kartu nama Audrey. Ia tersenyum sambil memutar kursinya. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Keesokan harinya.
Karena Simma sedang sakit, Audrey pun meminta ijin pada Zidan untuk keluar. Tentu Saja untuk menjemput Kelly.
Setelah cukup lama menunggu, Kelly pun keluar dari kelasnya dan langsung menghampiri Audrey.
"Mommy!" sahut Kelly dengan nada riang.
"Bagaimana harimu, Sayang?" tanya Audrey. Ia mengelus rambut Kelly yang sedang memeluk pinggangnya.
Tak jauh dari Audrey berdiri, Zidan melihat interaksi keduanya. Rupanya saat Audrey pergi, Zidan pun pergi. Sonya menyuruhnya menjemput Arleta karena Sonya sedang ada kegiatan bersama Albert.
Tubuh Zidan menegang saat anak kecil memanggil Audrey Mommy.
"Kaka!" panggil Arleta dengan suara yang sedikit keras. Membuat Audrey dan Kelly menoleh.
__ADS_1
Tubuh Audrey terdiam saat ia menatap Zidan yang juga sedang menatapnya dan ....