
Setelah sekretarisnya keluar.Sturad pun bangkit dari duduknya, ia menghampiri Simma dan mendudukan dirinya di sebelah Simma.
"Kau mau makan dulu yang mana, Sayang?" tanya Stuard.
"Aku ingin makan pasta saja," jawab Simma. Ia langsung mendahului Stuard mengambil piring. Padahal Stuard, ingin menyuapinya.
Mata Stuard menyipit saat melihat reaksi Simma. Ia yakin, ada yang sedang mengganggu pikiran istrinya. Ia memilih menunggu Simma menyelesaikan makannya dan akan bertanya setelah Simma selesai.
"Bolehkah aku beristirahat?" tanya Simma setelah membereskan makannya, membuat Stuard semakin yakin ada yang mengganggu pikiran istrinya. Sebab, Simma sama sekali tak memanggil Daddy atau tak memanggil namanya. Seketika, Simma benar-benar membangun pembatas yang nyata dengannya.
"Ayo, beristirahat di kamar pribadiku" ajak Stuard. Simma pun bangkit mendahului karena tak ingin Stuard menyentuh tangannya.
Saat Simma sudah berbaring, Stuard keluar dari kamar pribadinya. Ia ingin memberi Simma waktu seorang diri.
Stuard mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Matanya menerawang, mencoba menerka- nerka apa yang terjadi dengan istrinya. Tak lama, ia mengusap wajah kasar saat menyadari bahwa istrinya sedang cemburu, Stuard baru sadar, bahwa sikap istrinya berubah setelah Rana masuk ke ruangannya. Stuard pun kembali bangkit, ia kembali lagi masuk ke kamar, untuk menyusul Simma.
Setelah masuk, Stuard menggeleng saat melihat tubuh Simma bergetar ia tau bahwa Simma sedang menangis.
Stuard membuka kemejanya, hingga kini, ia bertelanjang dada. Lalu ia naik ke ranjang dan membaringakan diri di sebelah Simma.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku berjanji aku akan memindahkan sekretarisku ke devisi lain," ucap Stuard. Ia memeluk Simma dari belakang dan mengecup bahu Simma, membuat Simma langsung tersadar.
Dengan cepat, Simma menghapus air matanya dan berbalik, hingga kini, ia dan Stuard berhadap-hadapan.
"Se-Stu," ucap Simma terbata-bata
"Kau cemburu, hmm?" tanya Stuard lembut. Ia merapihkan rambut yang menutupi wajah istrinya, kemudian, membawa rambut Simma kebelakang telinga.
Mendengar ucapan Stu, tiba-tiba tangis Simma kembali pecah, seperti biasa lelaki di depannya ini selalu tau apa yang ia rasakan.
Mengerti apa yang di rasakan oleh Simma, Stuard langsung membawa Simma kedalam dekapannya. "Aku berjanji. Tak akan ada lagi wanita di sekelilingku," ucap Stuard lagi.
"Tapi, dari wajahmu mengakatakan hal yang sebaliknya," jawab Stuard sambil tergelak. Seketika Simma mencubit pinggang Stuard karena lelaki di depannya ini selalu tau apa yang ia rasakan apa yang ia inginkan.
Stuard semakin tergelak saat Simma mencubit pinggangnya. Ia langsung membawa kembali Simma kedalam pelukannya.
"Tak perlu cemas, aku milikmu dan milik anak-anak kita," kata Stuard. Simma pun mengangguk.
"Kau hanya milikku, tak boleh ada yang menyentuhku selain aku dan anak-anak kita," jawab Simma dengan nada fosesif yang kentara. Moodnya sudah membaik setelah ia di peluk oleh suaminya.
__ADS_1
"Aku masih lapar, dan aku mau menghabiskan steak dan burger yang tadi di pesan," ucap Simma lagi. Membuat Stuard tak bisa menahan tawanya. Ia sadar betul tentang hormon kehamilan istrinya.
"Mau aku suapi?" goda Stuard.
"Tentu saja! Kau harus menyuapiku," jawab Simma.
Sementara di sisi lain.
Terjadi Ketegangan dan suasana mencekam di sebuah ruangan, suara tamparan begitu nyaring terdengar.
Briana memegang pipinya, sudut bibirnya mengeluarkan darah karena di tampar oleh sang ayah.
"Angkat kepalamu!" teriak Regard, ayah dari Briana.
Briana menelan ludahnya, tangisnya luruh, ia tau jika ia mengangkat kepalanya, sang ayah akan menamparnya lagi, lagi dan lagi, hingga Briana terkulai.
"Briana!" teriak Regard. Briana tak punya pilihan lain, ia lebih memilih berpura-pura tak sadarkan diri, karena takut ayahnya akan melukainya lebih parah dan akan membahayakan kandungannya.
Nanti di jelasin ya ada apa sama Briana.
__ADS_1
Hate komen blok 😎