
Amelia membuka matanya, kemudian Ia melihat kesana kemari, lalu ia melihat sebelahnya. Ternyata, ada Gabriel sedang tertidur menggenggam tangannya.
Rasa haus mendera, Amelia. Lalu, ia menggerakkan tangannya. Hingga Gabriel terbangun. Gabriel menegakkan tubuhnya lalu bangkit dari duduknya, dan mendekat ke kepala Amelia.
“Gabriel, aku haus,” ucap Amelia. Gabriel mengambil air dari atas nakas, kemudian membantu Amelia untuk minum.
“Gabriel, dimana putra kita?” tanya Amelia. melihat kesana-kemari. Karena memang setelah operasi selesai, Amelia langsung tertidur. Hingga ia tak tau keberadaan putranya. Gabriel tak menjawab, Ia malah mencium seluruh wajah istrinya.
“putra kita masih dia dalam ruangan bayi. Mungkin sebentar lagi akan di antarkan kemari,” jawab Gabriel. Gabriel melepaskan penyangga brangkar, kemudian ia ikut berbaring di samping Amelia, karena Brangkar yang di tempat Amelia cukup besar.
Gabriel berbaring dengan posisi menyamping. Kemudian ia mengelus perut Amelia. “Apa ini sakit?” tanya Gabriel, Amelia menggeleng.
__ADS_1
“Tidak, karena dokter sudah memakai metode modern. Jadi qku tidak terlalu sakit. Hanya saja tubuhku sedikit lemas,” Jawab Amelia, Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya kemudian ia mencium bibir Amelia sekilas, hingga Amelia melihat ke arahnya.
“Gabriel!” panggil Amelia. “Hmm?" jawab Gabriel, ia memainkan tangganya untuk mengelus rambut Amelia.
“Apa kau bahagia dengan kelahiran anak kita?” tanya Amelia. Walaupun sudah melihat ekspresi Gabriel dan udah yakin bahwa Gabriel bahagia. Tapi rasanya, ia belum puas jika tidak mendengar langsung dari mulut Gabriel.
Sedikitnya, bayangan tentang kekejaman Gabriel masih tersimpan di otaknya. Hingga terkadang, ia tidak percaya ketika Gabriel melakukan hal manis padanya.
Gabriel menarik tangan Amelia, kemudian mengecupnya. “Bahagia, aku sangat bahagia. Terima kasih telah menjadi ibu yang hebat untuk anak-anakku. Terima kasih telah menjadi istri yang hebat untukku,” ucap Gabriel. Setitik bulir bening langsung jatuh dari pelupuk matanya, saat mengutarakan perasaanya pada Amelia.
“Kenapa kau sekarang jadi manis.” Amelia menutup mulutnya, saat tak sengaja mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Jujur saja. Terkadang, ia melihat Gabriel yang kejam seperti dulu. Tapi terkadang, ia melihat Gabriel seperti melihat orang lain.
__ADS_1
“Maksudmu aku manis sekarang?” tanya Gabriel. Amelia menggeleng.
“Tidak ... tidak, bukan begitu maksudku,” jawab Amelia. Setelah itu, Amelia memejamkan matanya membuat Gabriel tertawa. Ia menemukan sisi Amelia yang lain, ternyata Amelia sangat gengsian.
Gabril mendekatkan wajahnya pada wajah Amelia, lalu ia berbisik di telinga istrinya. “ i love you ... i love you ... i love you,” Gabriel berbisik dengan cepat, hingga Amelia membuka matanya dan menatap kearah Gabriel. Hingga kini wajah Gabriel dan wajah Amelia sangat dekat, dan lagi-lagi, Gabriel mencuri ciuman di bibir istrinya.
Saat Gabriel menciumnya, wajah Amelia memerah. Terlihat jelas, wajahnya sedang tersipu. “Kenapa kau terus mengatakan i love you padaku?” tanya Amelia dengan wajah yang berseri-seri.
“Karena aku ingin selalu berkata bahwa aku mencintaimu dan aku juga tahu, kau juga ingin mendengar tentang perasaanku. Apa tebakanku benar?” tanya Gabriel.
“Tidak, aku tidak ingin mendengar itu,” Jawa. Amelia. Padahal, wajahnya sudah menjelaskan semuanya. “ Gabriel, perutku sakit,” dusta Amelia saat Gabriel akan membuka mulutnya, seketika Gabriel tertawa kemudian ia mengelus perut Amelia. Lalu ia mencium pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
__ADS_1
”Istirahatlah, sebentar lagi putra kita akan kemari!” titan Gabriel, diam-diam mengembangkan senyumnya. Sungguh kebahagiaan ini tak ternilai untuknya. Ia menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru, bersama Gabriel. Lelaki yang dicintainya sekaligus ayah dari anak-anaknya.
Scroll lagi. gengs