
Lutut Amelia melemah saat melihat Gabriel sedang duduk di sofa sambil bertelanjang dada dan memegang segelas wine di tangannya. Tak perlu bertanya lagi, Amelia sudah tau apa yang akan terjadi
Mendengar suara pintu terbuka, Gabriel menoleh. Kemudian menyeringai. “Kau sudah sembuh. Layani aku seperti biasa,” ucap Gabriel dengan arogannya, membuat lutut Amelia melemah.
“ Ga-Gabriel, Bisakah kau menundanya, aku ingin beristirahat lebih lama ,” ucap Amelia dengan bibir bergetar.
“Ibumu sudah bisa berjalan dan sekarang kau harus membayarnya, karena aku telah telah membayar biaya pengobatan ibumu. Hngga ibumu pulih,” ucap Gabriel, membuat Amelia memejamkan matanya, ketika Gabriel menyebut nama Ibunya.
“Jika kau sudah tidak mau menurut padaku, maka aku akan menghentikan pengobatan ibumu, dan ibumu sendiri akan kembali seperti semula,” ucap Gabriel lagi.
dengan kaki yang bergetar, Amelia maju ke arah Gabriel. Kemudian Ia, langsung berjongkok di bawah Gabriel. “Ga-Gabriel, Bisakah kau jangan mencambukku hari ini, tubuhku belum terlalu pulih,” ucap Amelia dengan tatapan memohon.
Gabriel tampak berfikir. “Aku tidak akan melakukan hal yang seperti biasa. Tapi kali ini kau harus membuat aku puas dan kau harus melakukan semuanya dengan caramu,” ucap Gabriel lagi.
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban Amelia, Gabriel membuka celananya, kemudian ia mendorong kepala Amelia dan memasukkan senjatanya ke mulut Amelia.
Gabriel mengadahkan kepalanya ke belakang saat merasakan mulut Amelia begitu memanjakan miliknya.
Setelah sekian lama, akhirnya Gabriel mencapai puncaknya dan ia mengeluarkannya di dalam mulut Amelia membuat Amelia tersedak-sedak.
Gabriel mengambil wine kemudian meminumnya, “Menari di depanku!” titah Gabriel, Amelia bangkit dari berjongkoknya. Kemudian, Ia membuka pakaiannya lalu setelah itu Gabriel menyalakan musik, sehingga mau tak mau Amelia menari di depan Gabriel dengan tangis yang luruh, sedangkan Gabriel tersenyum ketika melihat Amelia menuruti semua apa perintahnya.
“Dasar wanita bodoh!” umpat Gabriel sambil meminum wine di tangannya, membuat tangis Amelia semakin luruh, ketika mendengar Gabriel menghinanya.
Setelah itu, Ia membalikkan tubuh Amelia, lalu memasukkan miliknya lewat belakang tanpa pemanasan dan tanpa aba-aba, sehingga Amelia berteriak kesakitan.
Gabriel tidak peduli ketika Amelia berteriak, Ia Menghujam Amelia secara gila-gilaan sambil berteriak Memanggil nama Ariana, Amelia hanya mampu meremass seprei, merasakan rasa sakit yang begitu hebat di bagian perut bawahnya. Sayangnya, Amelia tidak menyadari bahwa ia baru saja kehilangan calon anaknya Hingga ia merasakan sakit di bagian perut bawahnya.
__ADS_1
Dan akhirnya setelah setelah sekian lama menghujam Amelia, Gabriel mencapai puncaknya dan Ia langsung melepaskan penyatuannya.
Gabriel membanting tubuhnya di ranjang, ia berbaring di samping Amelia, nafasnya masih terengah-engah.
Tanpa Gabriel sadari, Amelia baru sembuh dari kegugurannya. Itu sebabnya, ketika Gabriel bermain kasar, perut Amelia terasa diremass-remass. Hingga pada akhirnya, Amelia tak kuat menahan rasa sakitnya, dan di tengah permainannya, Amelia tidak sadarkan diri.
Setelah nafasnya mulai teratur, Gabriel menolehkan kepalanya ke samping, ia melihat ke arah Amelia.
Ia menatap wajah Amelia lekat-lekat, tanpa sadar, tangannya terangkat untuk mengelus wajah Amelia. Tiba-tiba, jantung Gabriel berdetak dua kali lebih cepat saat tangannya menyentuh kulit Amelia.
Namun, tak lama. Ia tersadar ketika pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Gabriel bangkit dari berbaring nya, kemudian ia memakai celananya lagi dan membuka pintu.
“Ada apa?” tanya Gabriel pada anak buahnya.
__ADS_1
“Apa!” teriak Gabriel ketika mendengar ucapan anak buahnya yang mengatakan ....
Hate komen libur setaon, ga komen kita enggak flend