
Zidan terduduk lemas saat melihat keponakannya menubruk-nubrukan miniatur mobil miliknya. Seandainya ia bisa, ia ingin merebut dan menyelamatkan miniatur mainannya. Tapi, sayang. Ia tak tega.
"Kaka!" lirih Arleta dari belakang. Zidan menoleh seraya tersenyum pada adiknya. Ia melambaikan tangannya pada Arleta menyuruh Arleta untuk mendekat ke arahnya.
Arleta mendekat, lalu duduk di sebelah Zidan. "Kau ingin sesuatu, hmm?" tanya Zidan. Arleta menggeleng.
"Aku mengantuk, tapi aku tak bisa tidur," ucap akan kecil yang kini menginjak 8 tahun tersebut.
Zidan yang sedang bersila langsung memajangkan kakinya, ia menepuk pahanya, mengisyaratkan agar Arleta berbaring di pahanya. Setelah, Arleta berbaring, Zidan pun mengelus rambut adiknya.
Leo yang sedang bermain mobil menghentikan gerakannya. Ia langsung menghampiri Zidan dan mengikuti Arleta yang berbaring di paha Zidan.
"Mereka yang mempunyai anak, kenapa aku yang repot!" gerutu Zidan. Sambil mengelus rambut adik dan keponakannya.
••
"Siapa, Dad?" tanya Gia saat melihat suaminya tersenyum ketika melihat ponsel.
Zayn menaruh ponselnya, ia kembali berbaring di sebelah istrinya dan kembali memeluk Gia. "Zidan, yang mengirimiku pesan, Leo merusak semua miniatur milik Zidan dan dia minta, aku menggajihnya 10 kali lipat," ucap Zayn dengan tergelak.
.
"Lagi?" pekik Gia dengan kaget saat putranya kembali berulah. "Dad, sudahlah mulai saat ini, jangan menitipkan lagi Leo pada Zidan. Bagaimana ia akan berkencan jika kau selalu menitipkan Leo padanya," gerutu Gia.
__ADS_1
"Hanya sekali lagi, setelah itu aku akan memberikannya cuti yang panjang."
"Sekali lagi" ulang Gia yang tak mengerti dengan apa yang di ucapkan suaminya.
"Aku ingin mengajakmu berbulan madu lagi, Sayang. Bukankah kau ingin pergi ke Bali?" tanya Zayn.
Gia menggeleng, ia merubah posisinya menjadi menyamping hingga kini wajahnya dan wajah suaminya berhadap-hadapan.
"Dad!" panggil Gia. Ia mengelus pipi suaminya dan mengecup bibir Zayn sekilas.
"Hmm?"
"Terimakasih sudah selalu mengikuti apa mauku, tapi bolehkah aku menukar hadiah liburan kali ini?" tanya Gia.
"Tidak, Sayangku. Kau tak boleh menolaknya. Bukankah kau sudah lama ingin pergi ke Bali. Jadi tak ada alasan untuk menolak."
"Dad, tapi, Leo?"
"Aku akan mengurusnya, Zidan pasti takan keberatan."
"Tapi hanya sebentar. Aku tak ingin terlalu lama meninggalkan Leo," ucap Gia lagi, di tanggapi anggukan oleh Zayn.
"Apa kita bisa memproduksi satu lagi?" tanya Zayn sambil membelai perut istrinya.
__ADS_1
"Semoga ... Semoga Leo akan cepat mendapat adik," balas Gia. "Dad, aku mengantuk," ucap Gia ketika tangan suaminya sudah turun ke area bawah.
•••
"Zayn apa kau tidak punya pekerjaan?" tanya Zidan. Saat sang kaka berdiri di pintu sambil menatapnya. Sejak Zayn masuk, Zidan berpura-pura tak menyadari keberadaan sang kaka, karena tau apa yang akan di bicarakan oleh Zayn.
"Bisakah kau menolongku lagi, adikku?" tanya Zayn.
"Zayn, kau membuatku merinding!" seru Zidan, membuat Zayn tergelak. Zayn pun menegakan tubuhnya lalu duduk di sofa.
"Kau tau kan aku dan kaka iparmu ...."
"Carikan aku apa yang ku mau. Maka aku akan menjaga Leo," potong Zidan dengan cepat.
"Memangnya apa yang kau mau?" tanya Zayn mengernyit heran.
"Itu tugasmu, mencari tau apa yang aku mau."
"Kau pikir aku cenayang?" tanya Zayn dengan nada tak percaya. Bisa-bisanya sang adik memberikannya syarat yang tak masuk akal. Jika saja Leo mau di titipkan pada Sonya dan Albert, pasti akan lebih mudah bagi Zayn.
Sedangkan Zidan hanya mengangkat bahunya acuh saat Zayn terlihat tak terima dengan syarat yang dia ajukan.
Scroll ya
__ADS_1