
Ariana terus terisak di pelukan Nancy, ia sungguh tak rela berpisah dari pengasuh yang selama ini bersamanya dan menamaninya.
"Ariana dengarkan aku!" titah Nanci lagi saat Ariana terus terisak.
"Semua sudah berlalu, kau selalu berharap kau tinggal bersama Mommy dan Daddymu bukan, jadi ini saatnya kau melupakan semua," kata Nancy pada Ariana. Namun, Ariana bergeming. Ia tak membalas ucapan Nancy, ia hanya menangis sekencang-kencangnya.
Beberapa bulan berlalu setelah kematian Regard, tak membuat semua menjadi lebih baik. Trauma Ariana sudah menjadi-jadi. Josh dan Briana sudah membawa Ariana ke psikiater. Namun, tak ada perubahan apa pun pada gadis kecil itu.
Ariana kerap mengamuk ketika Josh membawa paksa Ariana ke rumah utama, tanpa sadar, ia memaki pada sang ayah dan melontarkan umpatan tentang kelakukan Josh selama ini yang mengabaikan dirinya.
__ADS_1
Hingga pada akhinya, Ariana kembali tinggal di paviliun belakang, bersama Nancy, gadis kecil itu selalu mengunci paviliun agar Briana dan Josh tak bisa masuk.
Kesakitan yang di rasakan Ariana sudah mendarah daging, rasanya ia sungguh mati rasa. Dulu, ia selalu mengharapkan kehadiran ibu dan ayahnya. Dulu, ia selalu berharap bisa tinggal dengan kedua orang tuanya dan hidup normal seperti anak lain pada umumnya.
Tapi, ketika semua impiannya terwujud, Ariana sudah berubah. Luka telah membuat gadis kecil itu lupa tentang keinginannya dulu. Hatinya seolah membeku, ia membenci hal yang dulu ia harapkan.
Karena Josh dan Briana sudah kehilangan akal untuk membujuk Ariana untuk tinggal di rumah utama. Akhirnya, Josh memutuskan untuk meliburkan Nancy sementara agar Ariana kembali ke rumah utama.
"Aku mohon, Nancy. Bawa aku denganmu. Aku berjanji, aku tak akan merepotkanmu," kata Ariana saat berada di pelukan Nancy, tangis Ariana terdengar pilu, membuat Nancy mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Ariana, aku berjanji. Aku akan sering mengunjungimu. Aku aku berjanji, jika urusanku sudah selesai, aku akan tinggal lagi bersamamu," kata Nancy, membuat Ariana melepaskan pelukannya. Ia menghapus Air mata lalu menatap kedepan dengan pandangan kosong.
"Ternyata semuanya saja. Aku di tinggalkan karena aku cacat!" kata Ariana, membuat batin Nancy teriris perih. Setelah mengatakan itu, Ariana turun dari kursi, lalu berjalan sambil tertatih-tatih.
Sambil melangkah, tangis gadis kecil itu kembali berlinang. Kini, setelah Nancy pergi. Ia akan sendiri lagi, di paviliun, tak akan ada yang menemaninya tidur lagi, sampai kapan pun, gadis kecil itu tak mau kembali ke rumah utama dan ia tak akan mengijinkan kedua orang tuanya menemaninya.
Ia lebih baik tinggal sendiri di paviliun, setiap melihat kedua orang tuanya, dada Ariana selalu berdenyut nyeri. Ia hanya mengingat kesakitan-kesakitan yang selama ini di torehkan oleh kedua orang tuanya, terutama oleh sang ayah.
Mungkin, mustahil bagi gadis sekecil Ariana bisa berpikiran sejauh itu. Tapi, luka dan kesakitan yang Ariana alami, terkadang membuat Ariana berpikir jauh.
__ADS_1
Saat berada di dalam mobil untuk kembali, Nancy melirik pada Ariana. Namun, gadis kecil itu bergeming. Ariana tetap melihat kearah luar. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Nancy walaupun ia tau, bahwa Nancy terus melihat padanya.
Scrooll lagi iesss