Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
253


__ADS_3

Plakkkk


Satu tamparan mendarat di pipi Josh, suara tamparan itu begitu nyaring. Briana menampar Josh begitu keras hingga sudut bibir Josh mengeluarkan darah.


"Apa kau sungguh manusia Josh?" Tanya Briana. Matanya menatap Josh dengan kilatan amarah yang berkobar. Napasnya terengah-engah, dada Briana naik turun karena emosi yang berdesir sampai ke ubun-ubunnya.


"Dasar Iblis Keparaat!" teriak Briana lagi saat Josh masih terdiam. Ia meludahi wajah Josh, lalu mengambil tongkat yang di lemparkan Ariana dan melemparkannya ke tubuh Josh.


Ini titik terendah Briana sebagai seorang istri yang selama ini selalu patuh pada Josh. Ia tak ingin lagi patuh pada siapa pun, persetan dengan sang ayah dan suaminya


Briana tak perduli.


Setelah mengatakan itu, Briana pun segera masuk kedalam. Ia hanya ingin segera memeluk Ariana, meminta maaf dan mengajak pergi Ariana dari tempat terkutuk ini.


•••

__ADS_1


Ariana menangis tergugu, ia berdoa meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya. Rasanya sakit, sangat menyakitkan. Ia sudah terlalu lelah dengan apa yang terjadi.


Gadis kecil, berusia 8 tahun itu seharusnya menjalani hari-harinya dengan suka cita. Tapi, yang terjadi. Ia melewatinya dengan kesepian, ketakutan, rasa was-was dan rasa sakit yang luar biasa karena ia terlahir cacat.


"Ariana ... Ariana," teriak Briana dari luar. Ia menggedor-gedor pintu karena pintu terkunci dari dalam. "Buka pintunya Sayang!" teriak Briana lagi.


Ariana mendudukan diri di lantai. Ia menekuk kakinya dan menutup telinganya saat mendengar teriakan Briana.


Dulu, ia sangat ingin memanggil Briana Mommy dan baru beberapa jam harapannya terkabul, Tuhan sudah membuyarkan harapan yang baru saja terkabul dan menggantikan dengan hal yang luar biasa sangat menyakitkan.


"Arhhhhh!" teriak Ariana saat suara Briana terus memanggilnya. Tangisnya semakin berderai, tangannya tergerak untuk mengambil penggaris kayu.


"Kenapa kau harus pincang, Hah. Kenapa!" Teriak Ariana sambil memukulkan penggaris ke kakinya.


Kakinya langsung memar, rasa sakit menjalar di seluruh kakinya. Tapi, gadis kecil itu tak perduli. Ia terus memukuli kakinya dengan sekuat tenaga, dan pada akhirnya kakinya membiru beberapa bagian bahkan mengeluarkan darah.

__ADS_1


Setelah Kakinya mengeluarkan darah, dan ia merasakan sakit yang luar biasa, Ariana melempar penggaris yang di pegangnya, lalu ia menatap kakinya dengan tatapan nanar. "Gara-garamu, hidupku menderita. Gara-garamu aku tak bisa seperti anak lain, gara-garamu ...." Ariana tak sanggup lagi meneruskan ucapannya, suaranya bergetar dan tenggelam karena tangisan.


Wajah Briana memerah saat mendengar Ariana berteriak, Ia mencoba menggedor-gedor pintu. Wajahnya semakin panik, ia takut Ariana melukai dirinya sendiri


"Nyonya ada apa?" tanya Nancy yang baru saja datang ke Peviliun setelah menyelesaikan tugas di rumah utama.


"Na-nanci. A-apakah kau menyimpan kunci duplikat kamar Ariana?" tanya Briana dengan bibir bergetar dan wajah yang panik.


Nancy pun mengangguk. Ia langsung mengambil kunci di laci dan memberikannya pada Briana.


"Ariannaaaa!" Teriak Briana saat masuk dan melihat Ariana tergolek di lantai dengan kaki berdarah, dan sepertinya Ariana akan kehilangan kesadaran.


Briana berlari dengan cepat ke arah Ariana, ia merangkul tubuh sang putri, memeluknya dengan erat dan mencium pucuk kepala Ariana bertubi-tubi. Tangis pilu Briana semakin pecah kala melihat sang putri melukai dirinya sendiri.


Ariana yang memang akan kehilangan kesadarannya, kembali membulatkan matanya. Saat ia merasa tubuhnya di peluk dan mendengar suara Briana

__ADS_1


Seketika rasa benci menelusup dalam dada Ariana. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Ariana mendorong tubuh Brian.


Scroll lagi iess.


__ADS_2