
"maklum lah om, jangankan untuk memikirkan beli rumah. itu saja aku keluar dari rumah mendadak om jadi aku tak sempat membeli" jawab Bayu membuat om Handoko semakin tertawa lebar.
"Bayu, Bayu aset ayahmu itu banyak bay. jangan kan perusahaan ini, bahkan rumahnya ada beberapa di kota ini kamu tinggal memilih ingin menempati rumah yang mana. jangan bilang kamu gatau dengan semua itu?" tanya om Handoko sembari terkekeh.
"bukan begitu om, sebanarnya selama ini emang aku ga pernah memikirkan untuk keluar dari rumah itu. ya aku tau jika ayah memiliki beberapa rumah dikota ini tapi semua itu sudah aku pikirkan untuk Naura dan juga Maura, sedangkan aku dan Rita memilih tinggal dirumah almarhum ayah dan ibu. tapi ternyata,,,,,," jawab Bayu terputus.
"yasudah tak usah dipikirkan, tapi kalo emang kamu mau punya rumah sendiri om siap bantu. oh iyaa kenapa kamu ngga bikin rumah ditanah yang ditengah kota itu? kamu bisa design sendiri rumah yang kamu dan istrimu inginkan. itu lebih baik bukan?" kata om Handoko memberi saran.
"oh iyaa om betul sekali, bahkan aku ga kepikiran untuk bikin rumah ditanah itu" jawab Bayu dengan menganggukan kepala.
"nah, coba kamu tanya sama istrimu punya kah dia rumah impian. bangun lah sesuai dengan yang ia mau" jawab om Handoko sekali lagi diangguki oleh Bayu.
"baik om, om punya kenalan arsitek handal kah?" tanya Bayu.
"tentu saja ada, makanya om menyarankan kamu untuk membangun rumah sendiri. lagi pula kamu memang sudah membutuhkan rumah itu kan?" kata om Handoko.
"yaudah kalo begitu nanti aku kabari om, dan minta kenalan om itu menunjukan desaind terbagus yang ia punya nanti akan aku tunjukan sekalian pada istriku om" jawab Bayu diberi anggukan oleh om Handoko.
"baiklah kalo gitu, om pulang dulu. sepertinya para tamu juga sudah mulai pulang, kamu bisa kan mengerjakan ini semua sendiri? kalo ada apa-apa kamu bisa tanyakan sama Winda atau kamu bisa telpon saya" kata om Handoko berpamitan pada Bayu.
"baik om, tenang aja. bersenang-senang lah om bersama istri dan cucu dirumah" jawab Bayu menjabat tangan om Handoko, keduanya pun terkekeh kecil sebagai salam perpisahan.
"Alhamdulillah, yaallah izinkan aku mulai mengembangkan usaha almarhum ayah" gimana Bayu melihat ke sekeliling ruangan CEO tersebut.
tok,,, tok,, tok
"masuk" kata Bayu memberi arahan pada orang yang mengetuk pintu.
"permisi pak, saya Winda sekretaris pak Handoko dan sekarang akan menjadi sekretaris bapak. jika ada apa-apa bapak bisa memanggil saya didepan" kata orang tersebut yang ternyata adalah Winda.
"terimakasih Winda, tapi maaf sepertinya saya akan memindahkan kamu ke bagian lain. karna saya akan mencari sekretaris seorang lelaki untuk saya" jawab Bayu membuat Winda membelalakan mata.
"ta-tapi kenapa pak?" tanyanya dengan gugup.
"tidak apa-apa, ku dengar kerjamu pun bagus tapi bukan hal itu yang utama" jawab Bayu sambil melihat penampilan Winda dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"ada apa pak? apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Winda dengan santai.
"tidak juga. saya hanya tidak suka melihat wanita berpenampilan seperti kamu, bikin mata saya sakit!" jawab Bayu membuat Winda tersentak, dan seketika ia melihat penampilannya dari bawah hingga ke atas.
"mohon maaf pak kalo saya lancang, tapi apa ngga berlebihan jika hanya karna penampilan saya harus sampai dipindah kan pak? selama ini pak Handoko pun tak pernah komplain dengan penampilan saya" jawab Winda dengan kepala tertunduk.
"suka-suka saya lah, hak saya mau siapapun yang menjadi sekretaris disini. kalo kamu ngga terima, kamu bisa ajukan resign dari kantor ini" jawab Bayu semakin membuat Winda membelalakan mata.
"ba-baik pak, tapi saya mau dipindah kemana pak?" tanya nya dengan gugup.
"kamu suruh HRD merekrut karyawan sebagai sekretaris saya disini, dengan kriteria. mempunya skil lima bahasa asing, berpengalaman di bidangnya minimal dua tahun, lelaki berumur dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, tegas, dan mampu bela diri, jago dalam bidang IT diutamakan" jawab Bayu, Winda pun mencatat semua yang dikatakan oleh sang CEO baru. ia pun menganggukan kepala setelah meneliti semua persyaratan yang diberikan oleh Bayu tersebut.
"ternyata CEO baru ini bukan orang yang suka main-main, buktinya mencari sekertaris aja seperti ini. harus sempurna semuanya, emmm susah juga kalo begini. aku si ga ada apa-apanya" pikirnya dalam hati.
"sudah jelas kan win?" tanya Bayu membuat Winda terlonjak kaget.
"je-jelas pak, kalo gitu saya permisi untuk memberitahukan ini pada kepala HRD pak" jawab Winda membuat Bayu menganggukan kepala. setelah kepergian Winda, Bayu pun mulai memeriksa daftat jadwal agenda yang berada satu tumpukan dalam berkah yang diberikan om Handoko. ia pun menggelengkan kepala karna ternyata jadwalnya begitu padat sebagai CEO baru.
"aaaahh aku telpon Vidio rita dulu lah, biar lebih semangat" gumamnya mengambil handphone dari saku celana miliknya.
"assalamualaikum sayang" katanya setelah panggilan video dijawab oleh Rita, terpampang wajah cantik sang istri yang sedang menggendong anak mereka.
"Alhamdulillah lancar, anak ayah lagi ngapain?" jawab Bayu membuat Rita mengarahkan kamera pada wajah keena yang ia gendong.
"keena lagi tidur ayah" jawab Rita seolah keena yang menjawab pertanyaan Bayu.
"yaaahh kok tidur sih" kata Bayu mendesah kecewa melihat sang anak ternyata tidur dalam gendongan istrinya.
"iyaa dia abis minum asi makanya tidur mas" jawab Rita membuat Bayu menganggukan kepala.
"yasudah kalo gitu aku tutup dulu telponnya ya, aku mau mengerjakan pekerjaan ku dulu" jawab Bayu membuat Rita menganggukan kepala.
"iyaa mas, assalamualaikum" kata Rita menggakhiri panggilan teleponnya.
"waalaikumsalam" jawab Bayu kembali meletakkan handponenya kedalam saku celana miliknya.
__ADS_1
ia pun fokus mempelajari berkas yang menumpuk dimeja kerja milik ya itu, terlihat ia sibuk membolak balikkan kertas yang ada ditangannya. hingga jam makan siang datang, pintu pun terketuk kembali.
"masuk" jawab Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang masih berada ditangannya.
"maaf pak, sudah waktunya istirahat. untuk makan siang, bapak mau dipesankan atau mau makan siang diluar?" tanya Winda sekretaris Bayu saat ini.
Bayu pun mengecek jam yang melingkar dipergelangan tangannya, kemudian ia mengalihkan pandangan pada Winda yang terus menunduk.
"saya akan makan siang diluar. bagaimana dengan yang tadi saya suruh?" tanya Bayu dengan serius.
"pihak HRD sudah membuatkan iklannya pak, jika ada kandidat bapak bisa menyeleksi sendiri nanti" jawab Winda menatap Bayu yang menganggukan kepala.
"baiklah kalo gitu, kamu boleh keluar" jawab Bayu, Winda pun keluar ruangan sang bos tanpa mengucap sepatah katapun lagi.
"telpon Andi deh, ajak makan siang bareng sekalian nawarin dia jadi asisten pribadi" gumam Bayu kembali mengeluarkan handponenya dari saku celana.
"hei bro, makan siang diluar yuk. aku traktir" kata Bayu setelah sambungan telepon diangkat oleh Andi disebrang telepon.
",,,,,,,,,"
"okee, aku tunggu dikafe biasa. lima menit lagi aku jalan" jawab Bayu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Bayu pun memberikan meja kerjanya yang berantakan, banyak berkas yang berserakan. kemudian ia pun melangkah kan kaki keluar dari ruang kerjanya, ia tak melihat adanya Winda dimeja kerjanya. akhirnya ia pun memutuskan terus berjalan keluar dari kantor.
setelah sampai ditempat ia janjian bersama Andi, Bayu pun memilih tempat yang agak jauh dari pintu masuk cafe. tak lama Bayu sampai Andi pun sampai, mereka pun memesan menu makan siang setelah salah satu pelayan menghampiri keduanya.
"tumben kamu ngajak aku makan siang bareng bay?" tanya Andi penasaran.
"begini, kebetulan aku mau ngajakin kamu jadi asisten pribadi aku ndi. kamu mau kan?" tanya Bayu dengan hati-hati.
"apa? asisten pribadi, kamu ga salah bay? aku mana bisa jadi asisten pribadi, aku aja cuma karyawan biasa gaada basic jadi asisten pribadi" jawab Andi merendah.
"gampang itu, kamu kan nanti tinggal menyesuaikan aja. lagian aku butuh orang yang bisa aku percaya sebagai asisten pribadi" jawab Bayu dengan wajah dibuat lesu.
"tapi bay, aku ga bisa. kamu tau sendiri lah kerjaan aku dikantor gimana, apalagi jadi asisten pribadi" jawab Andi
__ADS_1
"ayolah ndi, ya ya ya. toh nanti kamu bisa belajar dulu" paksa Bayu membuat Andi mau tak mau menganggukan kepala.
"yasudah kalo kamu terus memaksa. jadi aku resign nih dari kantor?" jawab Andi membuat Bayu seketika tersenyum dan menganggukan kepala, layaknya anak kecil yang mendapat permen Bayu pun tersenyum sangat lebar membuat Andi bergidik melihat temannya itu.