
hari-hari terus berlalu, sejak kejadian itu. Bayu maupun Rita tidak pernah mendengar kabar Maura kembali, mereka hanya sesekali menelpon ibu mertua Rita untuk menanyakan kabar dan keadaannya. mereka pun hidup damai dan nyaman didalam rumah kontrakan sederhana tersebut, Naura pun terlihat sudah bisa terbiasa dengan keadaannya. ibu Bayu pun sudah sering kali meminta ketiga anaknya itu pulang karna keadaan rumah yang cenderung lebih sepi, meskipun sudah ada pekerja yang menemani ibu mertua tapi menurutnya dirinya merasa hampa tanpa ketiga anaknya tersebut.
hari ini kepanikan pun terjadi dengan dua orang wanita didalam rumah berukuran sedang itu, karna tiba-tiba wanita hamil yang berada didalam menjerit membuat sang adik ipar terlonjak kaget karna teriakannya. tak lama adik iparnya keluar dari kamar melihat sang Kaka ipar sudah memegang perutnya dan menahan sakit berpegangan tembok.
"mbak, mbak kenapa?" tanya Naura pada Rita yang wajahnya sudah pucat.
"nau, sepertinya mbak mau melahirkan. perut mbak mules nau" kata Rita disela-sela ia merintih kesakitan.
"apa? lahiran! aduuhh gimana dong mbak, mas Bayu kerja lagi!" gumam Naura dengan wajah panik dan khawatir menjadi satu.
"nau, nau, aduuuuhh,,,,,,, huh, huh, huh" panggil Rita pada Naura yang terlihat bingung.
"iyaa mbak, sebentar Naura lagi bingung" jawab Naura cepat sambil terus mondar mandir tak jelas didepan Rita, membuat Rita semakin pusing melihat tingkah Naura.
"nau, cepat ambil perlengkapan melahirkan mbak ditas yang didalam lemari pakaian mbak. cepat ayok kita kerumah sakit, pesan taksi" kata Rita dengan suara parau, sesekali merintih kesakitan.
"i-iyaa mbak, sebentar" jawab Naura dengan suara bergetar. Naura pun segera melangkah kan kaki menuju kamar kakak dan kakak iparnya, tak lama ia pun telah kembali sambil membawa tas kecil dan dompet tak lupa handphone dan tas milik kakak iparnya tersebut.
mereka pun menuju rumah sakit menggunakan taksi online yang telah dipesan Naura sejak tadi, tak lama keduanya sampai didepan rumah sakit ibu dan anak tempat dimana Rita selalu kontrol kandungan.
"suster,,, dokter tolong kakak saya cepaaaatttt,,, dia mau melahirkan" teriak Naura didepan ruang IGD RSIA tersebut.
__ADS_1
tak lama seorang suter pun datang dengan membawa kursi roda ditangannya, Naura pun membatu kakak iparnya tersebut turun dari taksi online setelah itu Rita didorong oleh perawat menggunakan kursi roda masuk kedalam IGD untuk diperiksa sedangkan Naura menunggu diluar ruangan IGD dengan cemas sampai ia lupa menghubungi Bayu sebagai suami dari kakak iparnya.
"astaga, gue lupa kabarin mas Bayu" gumamnya menepuk keningnya sendiri karna keteledoran dirinya. ia pun mengambil handphone didalam tasnya dan mencoba menghubungi sang kakak.
setelah dua kali menelpon tak diangkat, sepuluh menit kemudian sang kakak pun menelpon. Naura pun bergegas mengangkat telpon sang kakak dengan nada panik dan khawatir, membuat seseorang disebrang sana menjadi khawatir.
"mas, assalamualaikum" jawab Naura setelah menggeser tombol hijau dihandphonenya.
"waalaikumsalam, ada apa nau?"tanya Bayu disebrang telpon.
"mbak Rita mas, mbak Rita....." kata Naura yang belum bisa melanjutkan perkataannya karna kecemasan berlebih yang ia derita.
"ada apa nau? kenapa dengan Rita?" tanya Bayu dengan nada khawatir disebrang telpon yang terdengar.
"apa? dimana? sekarang kalian dimana?" tanya Bayu.
"kami sudah dirumah sakit ibu dan anak tempat biasa mbak Rita kontrol mas, kesini sekarang mas kasian mbak Rita. aku panik mas, baru sempet ngehubungin mas" jawab Naura dengan gugup takut sang kakak memarahinya karna telat mengabari dirinya.
"yaudah mas segera kesana, kamu tetap ditempat sampai mas datang jangan kemana-kemana temani kakak ipar kamu" jawab Bayu membuat Naura menganggukan kepalanya.
sedangkan didalam ruang IGD, Rita akan dipindahkan keruang bersalin. Naura yang melihat Rita keluar dari ruang IGD di dorong menggunakan kursi roda pun mengikuti menuju ruang bersalin. Rita masih menahan rasa mulas pada perutnya, sesekali ia meringis kesakitan. Naura pun memegang tangan kakak iparnya itu dan mengelus punggung tangannya. kali ini Naura diizinkan masuk menemani Rita didalam ruang bersalin sambil menunggu proses pembukaan hingga sempurna.
__ADS_1
"kamu sudah hubungi mas Bayu nau?" tanya Rita pada Naura yang masih terlihat sangat khawatir.
"sudah mbak, mas Bayu sudah dalam perjalanan kesini" jawab Naura masih menggenggam tangan kakak iparnya tersebut.
"ibu? apa kamu udah kabari ibu juga?" tanya Rita.
"belum mbak" jawab Naura cepat. sepertinya ia masih belum memaafkan sang ibu atas peristiwa waktu itu, Rita pun memaklumi.
"yasudah biar mas Bayu saja nanti yang mengabari ibu dan kedua orangtua mbak" jawab Rita dengan lirih. sesekali menahan sakit, membuat Naura ngilu dibuatnya. ia yang notabenenya masih seorang perawa pun merasa sangat ketakutan melihat perjuangan wanita melahirkan buah hatinya, pikirannya bekelana pada sang ibu saat itu melahirkan dirinya. semarah apapun dan sebenci apapun Naura pada ibu nya, anaknya anak pasti merasakan rasa yang berbeda jika pindah jauh dari sang ibu.
Naura pun menggelengkan kepala, berusaha tak mengingat segalanya tentang sang ibu. Rita pun menggelengkan kepalanya
tak lama terdengar ketukan dari arah luar, kemudian suara decit pintu yang saling beradu. Naura dan Rita pun melebarkan netra matanya melihat siapa yang masuk kedalam rumah tersebut, sudah ada mas Bayu diambang pintu dengan wajah khawatir yang menderanya.
"sayang, kamu gapapa?" tanya Bayu menghampiri Rita dan Naura. Naura pun bernapas lega dengan hadirnya Bayu didalam ruangan tersebut, kemudian ia pun melangkah kan kaki keluar dari ruangan bersalin tersebut.
setibanya diluar ruangan, Naura pun mengambil nafas panjang dan membuangnya. sesekali melirik kearah ruang bersalin. sedangkan didalam, Rita terus merasakan sakitnya kontraksi yang semakin sering datang.
dokter pun memeriksa dan pembukaan sudah lengkap.
"ibu, kalo saya suruh dorong maka ibu dorong ya" kata dokter sambil memakai sarung tangan miliknya, Rita pun hanya menganggukan kepala sedangkan Bayu masih berada disamping Rita dan memegang tangannya mengelus kepala Rita dengan sayang.
__ADS_1
"Ayuk dorong Bu" kata dokter yang menangani Rita, Rita pun mendorong dengan sekuat tenaganya. dengan tiga kali dorongan, akhirnya keluarlah bayi lucu yang dinantikan kelahirannya. Rita dan Bayu pun mengucap syukur berkali-kali, bayu pun tak hentinya mencium kening sang istri sebagai ucapan terimakasih.
"selamat pak, Bu bayinya perempuan sehat dan cantik" kata dokter yang menangani Rita sembari tersenyum, suterpun menyerahkan bayi mungil tersebut pada Bayu. Bayu pun mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang ayah untuk pertama kalinya, mengadzani anaknya. Rita pun meneteskan air mata haru mendengar suara merdu sang suami melantunkan azan untuk sang anak.