
kedua orang itu pun saling pandang setelah Maura bertanya tentang pekerjaan yang akan dikerjakan.
"gampang saja, kamu hanya harus mengikuti apa yang aku perintahkan. ingat, apa yang keluar dari mulutku adalah arahan dari bos. dan kamu harus mematuhinya, meskipun bos berada dalam sel tapi beliau bisa tau apa yang kamu kerjaan dan becus atau tidak perkerjaan kamu" jawabnya menyesap rokok yang berada ditangannya.
"ja-jadi dia?" kata maura yang langsung terputus oleh lelaki tersebut.
"yaa, dia adalah bos kami. kamu sudah tau kan? jadi rahasiakan semua ini dari orang lain, kalau tidak!" tanya memperagakan dua jarinya berada dileher untuk mengancam Maura.
Maura yang takut dengan ancaman tersebut pun segera menganggukan kepala sebagai jawaban.
"baiklah aku akan memproses menjaminmu, kau bisa bebas beberapa hari lagi. persiapkan dirimu untuk mengerjakan apa yang bos katakan"jawabnya yang langsung pergi meninggalkan Maura tanpa mendengar jawaban dari wanita tersebut.
Maura pun kembali kedalam sel tahanan dengan diiringi oleh sipir yang berada tak jauh dari tempatnya bertemu orang tersebut.
"jadi anda adalah bos dari mereka?" tanya Maura pada sosok napi yang sedari tadi berbincang dengannya,lelaki itu pun menganggukan kepala sembari tertawa menatap maura yang bertanya dengannya dengan raut wajah heran.
"jadi dia sudah bilang padamu?" tanyanya membuat Maura menganggukan kepala.
"baguslah, jadi kau tak perlu kaget seperti itu" jawabnya membuat Maura memutar bola mata sinis.
"bagaimana aku tak kegat, kamu berbicara seolah kamu adalah seorang bawahan ternyata kamu lah otak dari semua bandar dinegara ini. sungguh cerdik otakmu tuan" jawab Maura membuat lelaki tersebut terkekeh mendengar perkataan Maura.
"tapi tentu saja dia setujukan untuk membebaskan kamu, bagaimana dengan kamu? apa kamu terima tawaran yang dia ajukan,?" tanyanya membuat Maura menganggukan kepala.
"tentu saja aku menerimanya, biarlah bagaimana pun caranya aku harus bebas dari tempat ini. aku tak sudah berada disini berlama-lama" jawab Maura memandang jijik dalam sel tersebut.
"Maura, Maura baiklah. ingat kamu harus menjalankan beberapa misi yang akan diberikan oleh orang tadi, dan itu harus berhasil. jika berhasil dengan cepat maka aku akan memberikanmu dua puluh lima juta, bagaimana?" tanyanya dengan pelan menatap maura yang mengeluarkan mata binar mendengar uang yang akan dia terima.
"dua puluh lima juta? apa itu ngga terlalu kecil, apalagi aku tak tau pekerjaan apa yang akan aku geluti. andai kau suruh aku mengedarkan barangmu tentu saja itu sangat beresiko dan aku tak mau jika hanya diberikan segitu" jawab Maura dengan wajah dibuat menjengkelkan.
"tugasmu hanya mengantarkannya dengan rapi dan tentunya tanpa ada yang tau, uang segitu sudah terlalu banyak untuk seorang pemula seperti mu" jawab napi tersebut memandang kesal kearah Maura yang masih saja terlihat angkuh didepannya.
"tapi tetap saja itu justru sangat beresiko untukku, bahkan aku bisa saja dihukum mati karna pekerjaan ini" jawab Maura membuat napi tersebut terkekeh kecil.
__ADS_1
"itulah pintar-pintar mu bagaimana caranya kamu harus tetap aman, makanya bermain cantik. terserah padamu jika kau tau mau ya aku akan bilang pada orang tadi jika kau tak jadi keluar dari sel ini" jawab napi tersebut dengan santai membuat Maura membelalakan mata.
"huh, yasudah baiklah. tapi ingat ya semakin bagus pekerjaanku kau harus membayarkan dengan lebih mahal dari ini, bagaimana?" tawar Maura yang kandung diangguki oleh napi tersebut.
"tenang saja, ini hanya harga permulaan. jika kau bisa melakukannya dengan baik maka kau akan mendapatkan lebih banyak dari sekarang" jawabnya membuat Maura menganggukan kepala antusias.
"terimakasih" kata Maura dengan senyum mengembang. napi tersebut pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
sementara dirumah Rita dan Bayu, Naura yang sudah pulang dri ospek keduanya kini tengah merebahkan diri disofa ruang keluarga bersama dengan Rita dan juga bi Surti sedangkan bi asih sudah pulang pagi tadi bersama dengan Bayu yang berangkat kerja.
"bagaimana ospek hari ini nau?" tanya Rita pada Naura yang langsung memalingkan wajah menatap kakak iparnya tersebut.
"sangat, sangat buruk mbak. hari ini benar-benar melelahkan untukku, asal mbak tau ya aku tuh tadi ketemu sama kating yang benar-benar menguras emosi." kata Naura yang langsung duduk menghadap Rita yang menyeritkan kening mendengar perkataan adik iparnya.
"emosi kenapa? kamu aja kali yang ga bisa mengontrol emosi kamu?" kata Rita membuat Naura berdecak kesal.
"jelas aja lah mbak, masa aku disuruh buat surat cinta untuk salah satu dari mereka mbak. udah gitu suruh bacain didepan orangnya langsung lagi, dan mbak tau andai orang itu acuh maka aku harus membujuknya sampai dia membalas surat cinta aku. gila gak tuh mbak" kata Naura membuat bi Surti dan juga Rita tertawa kecil.
"iyaa tapi Naura kan kesel mbak, Naura juga malu. apalagi Naura jadi bahan ejekan sekalas mas, duuuhh malu banget Naura tau mbak" jawab Naura menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"sudahlah namanya juga hanya sekedar hiburan, lebih baik kamu makan siang. pasti kamu belum makan kan?" tanya Rita pada Naura yang langsung dijawab gelengan kepala olehnya.
"belum mbak, sangking malunya Naura sampai ngga berani kekantin mbak jadi Naura langsung pulang kerumah aja deh" jawab Naura dengan wajah ditekuk.
"yasudah jangan menekuk muka seperti itu, yuk makan ibu temani" kata bi Surti yang langsung disambut anggukan kepala antusias oleh Naura.
"Ayuk Bu, masak apa hari ini?" tanya Naura pada bi Surti yang menggandeng tangannya menuju ruang makan.
"masak mangut lele, ini makanan kesukaan ibu. rasanya enak, cobalah" jawab bi Surti memberikan satu ekor ikan lele yang diberikan bumbu rempah kengkap dengan kuah santan dan juga daun kemangi yang membuat masakan tersebut menjadi lebih harum.
"eemm enak banget Bu, bener-bener juara masakan ibu. ini baru pertama kali Naura makan ikan seperti ini Bu, rasanya sangat enak" jawab Naura dibalas senyum oleh bi Surti.
"habiskan makannya kalo enak, bila perlu nambahlah. ibu akan tunggu kamu sampai selesai makan" jawab bi Surti membuat Naura tersenyum lebar.
__ADS_1
"baiklah Bu, makasih banyak ya Bu" jawab Naura dibalas anggukan kepala oleh bi Surti.
"anak perempuan kalo makan itu pelan-pelan nau, ngga kaya kamu seradak seruduk begitu" kata Rita yang menyusul kedapur dengan menggendong keena.
"eehh mbak, kok nyusul. emang belum makan juga?" tanya Naura pada Rita yang langsung dijawab gelengan kepala oleh ibu beranak satu itu.
"ngga, mbak mau makan buah semangka. kayanya seger siang-siang begini, Bu nitip keena dulu ya. saya mau potong semangka dikulkas" kata Rita pada bi Surti yang langsung mengambil alih keena kedalam gendongannya.
"kayanya enak tuh mbak, aku mau dong mbak. sama apel ya mbak" kata Naura yang langsung diangguki oleh Rita.
"kamu makan nasi aja belum selesai nau, udah mau makan buah lagi. selesaiin dulu nasinya baru nanti makan buah, mubazir kalo ngga habis" jawabrita membuat Naura menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"gapapalah mbak, itu kan untuk cuci mulut mbak biar ngga asem abis makan nasi sama santan begini." jawab nauradnegab panjang lebar.
"Halah ngeles aja kamu itu kalo dibilangin" jawab Rita membuat Naura terkekeh.
"oiyaa Bu, ibu segera bereskan barang-barang ibu ya. ibu jadikan tinggal bersama Naura disana?" tanya Naura pada bi Surti.
"eemm gimana ya nak, kayanya ibu disini aja ngga sih. masa mbakmu mau ditinggal bersama orang baru, bukan apa ibu hanya belum bisa percaya dengan mereka. lagi pula mereka kan memang masih harus diawasi nak" jawab bi Surti membuat nejfa menganggukan kepala tanda mengerti apa yang bi Surti katakan.
"yasudah kalo begitu, lagi pula sepertinya memang ada yang tidak beres dengan salah satu dari mereka. ibu memang harus mengawasi mereka dengan teliti si, takutnya mereka adalah salah satu orang yang dikirim oleh orang lain" jawab Naura membuat Rita menyeritkan kening.
"pikiranmu nau, jauh banget sampai kesana. bahkan mbak aja ngga berani bersuuzhon dengan orang lain nau" jawab Rita membuat Naura memutar bola mata malas.
"mbak kapan sih pernah berpikir buruk tentang orang lain, bahkan sampai dibuat celaka juga tetap aja masih memaafkan orang itu. mbak itu aneh menurutku tau ngga" jawab Naura dengan nada kesal.
"yaa ngga gitu juga nau, tapi sebagai manusia kan memang kita diharuskan berpikir positif dan tidak berpikir jelek pada orang lain" jawab Rita yang juga diangguki oleh bi Surti.
"mbakmu benar nau, lagian kamu tau dari mana jika ada yang beres pada salah satu dari mereka" tanya bi Surti pada Naura.
"karna Naura dengar sendiri bi dia menelpon seseorang dan merencanakan sesuatu" .........
bersambung....
__ADS_1