Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
limapuluhlima


__ADS_3

POV Maura.


hari ini aku ada janji dengan seseorang yang akan membantuku mengawasi rumah mas Bayu dan mbak Rita, kami janjian tak jauh dari lokasi rumah mereka. aku sengaja janjian dengan orang tersebut dipagi hari agar sekalian aku berangkat ke kampus, ini juga yang akan aku buat alasan pada ibu agar aku bisa rumah tanpa dicurigai.


iyaa, selama aku ketahuan terang-terangan ingin mengusik rumah tangga kedua kakak ku itu aku selalu diawasi oleh ibu. bahkan untuk keluar malam pun aku sudah tak diperbolehkan, tetapi kadang aku melakukan berbagai cara agar aku bisa keluar rumah saat malam hari.


aku bersiap untuk melakukan rencanaku kali ini, aku tak ingin kali ini gagal untuk membuat rumah tangga mereka hancur berantakan. apalagi karna mereka ibu sudah tidak memanjakan aku lagi seperti dulu, bahkan uang jajan ku pun sudah tak sebanyak dulu.


"mau kemana kamu mau?" tanya ibu ketika aku turun dari lantai dua kamarku.


"mau kuliah lah Bu, mau kemana lagi emangnya" jawabku dengan sedikit senyum pada ibu angkatku tersebut.


"ingat, jngan macam-macam. oke" jawab ibuku.


"iyaa iyaa Bu, udah mana sarapan ku" jawab ku ketus.


kesal dan sebal rasanya setiap ingin keluar rumah selalu mendengar perkataan itu, seolah-olah aku selalu biang masalah. padahal apakah salahku, aku hanya ingin mendapatkan cintaku. aku yang lebih dulu mencintai mas Bayu ketimbang mbak Rita. tak ada satu orangpun yang mengerti perkataanku.


"aku berangkat dulu Bu" kataku berpamitan tanpa menyelesaikan sarapan pagiku. rasanya tak mood untuk menghabiskannya, tanpa menyalami punggung tangannya aku pun keluar rumah dengan perasaan dongkol sekali. aku bertekad kali ini harus berhasil.

__ADS_1


aku melaju ke arah tempat tinggal mbak Rita dan mas Bayu menggunakan motor kesayanganku, hingga begitu tiba disana aku pun langsung menemui orang tersebut disebuah warung pinggir jalan yang lumayan sepi pembeli.


"sudah lama?" tanyaku pada orang tersebut.


"baru" jawabnya singkat sambil terus menghisap rokok yang ia pegang.


"ingat ya, kamu harus terus mengawasinya dan jika sudah waktunya laksanakan rencana kita" kataku pada orang tersebut, ia pun menganggukan kepala mengerti dengan apa yang aku ucapkan.


"tenang aja, asal bayaran aku sesuai sama kerjaannya" jawabnya, aku pun mendengus mendengar perkataan orang ini. kerjaannya pun belum dilakukan sudah meminta bayaran.


"heh, kerja aja belom udah ngomong bayaran. kerjain dulu kerjaan Lo, baru gue bayar" jawabku dengan ketus.


"nih, ingat ya harus berhasil" kataku menyerahkan beberapa lembar uang ratusa ribu pada orang tersebut. setelah menerima uang tersebut orang itu pun pergi meninggalkan aku seorang diri diwarung, aku yang merasa tak ada keperluan lain pun segera meninggalkan tempat itu juga sebelum ada seseorang yang memergoki ku didaerah ini. tapi, sebelum aku menstater motorku terdengar suara sesorang memanggilku dengan berteriak.


"Mauraaaa" teriaknya dari jarak kira-kira sepuluh meter dari tempatku saat ini, aku pun segera menengok kebelakang. alangkah terkejutnya aku melihat bapak mbak Rita berada di belakangku dengan pandangan yang sulit diartikan.


"kamu mau ngapain didaerah ini? dan kenapa kamu berurusan dengan preman itu?" tanyanya membuat jantungku berpacu dengan capat. seketika akupun tak bisa menjawab pertanyaan orangtua ini.


"ngapain kamu mau? oh atau jangan-jangan kamu merencanakan sesuatu lagi untuk membuat kedua kakak kamu berpisah?" tanyanya dengan membulatkan kedua matanya. aku pun menatap heran dirinya yang seolah tau apa yang aku lakukan.

__ADS_1


"heh pak tua, jangan sok tau. lagian ini area umum jadi siapapun berhak ada disini" jawabku dengan memandang sinis bapak mbak Rita.


"iyaa memang siapapun berhak ada disini, tapi yang saya heran kamu berurusan dengan preman seperti itu. inget ya Maura, orang yang kamu sakiti adalah anak dan menantu saya. jika kamu menyakiti salah satunya, berarti kamu juga menyakiti saya." katanya dengan nada tegas.


"ngga usah ikut campur urusan orang pak, apapun yang aku lakukan adalah urusanku. ngga ada sangkut pautnya sama bapak, kita lihat saja siapa yang akan menang nantinya. sebaiknya bapak banyakan istirahat sebelum tubuh tua bapak memburuk" kataku bergegas menyalakan starter dan meninggalkan bapak tua tersebut menuju kampusku.


saat tiba dikampus aku pun berkumpul bersama kedua sahabatku, Linda dan Siska. aku selalu mendapatkan olokan dari mereka karna tak juga berhasil memisahkan kakak dan kakak iparku itu.


"hei, kenapa itu muka dateng-dateng asem kaya gitu?" kata Siska mengolokku yang baru saja mendudukan diri disebalahnya.


"hahaha biasa, palingan juga gagal lagi sis" jawab Linda membuatku menghela nafas kasar.


"udahlah nau, Lo itu udah gagal. ngapain si selalu ngerusak hubungan ipar Lo, Lo tuh cocok banget deh dipanggil pelakor nekat. segala cara lu lakuin buat dapatin Abang ku sendiri yang jelas-jelas cuma nganggep ku itu sebagai adik, gua rasa lu perlu cek mentak deh mau" kata Siska membuatku membelalakan mata mendengar perkataannya yang sangat menyakitkan.


"heh jangan kurang ajar ya, enak aja gue dibilang sakit mental. Lo itu yang sakit mental!" jawabku membantah Siska. mood ku benar-benar buruk hari ini.


"udahlah sis, percuma kita bilangin dia. ngga akan ada habisnya, apalagi dia udah bergaul sama Sandra. udah tambah hancur mental nya, udah ah mendingan kita masuk kelas aja yuk. biarin aja dia lakuin apa yang membuat dia bener, kita ingetin pun dia ngga bakalan dengerin perkataan kita" ajak Linda pada Siska yang menganggukan kepala menyetujui perkataan Siska.


setelah kepergian kedua orang itu, moodku pun bertambah hancur. memang pernah terbesit menghentikan semua ini, tapi hatiku tak bisa membohonginya karna terlalu menginginkan mas Bayu menjadi bagian dari hidupku. meskipun kami memang sudah bersama sejak kecil tapi memang rasa lain itu membuatku selalu menginginkan kan lebih dari seorang adik kakak.

__ADS_1


__ADS_2