
"jelas lah Bu, sebelumnya mereka semua baik sampai kenyataan yang sebenarnya terungkap baru semuanya berubah dan akhirnya sayalah dirumah itu sendirian sampai saat ini" jawab bi asih menundukkan kepala membuat aku dan bi Surti saling pandang melihat respon yang dikeluarkan bi asih.
"hehe sabar lah Bu, nanti kan kami akan kembali kerumah itu. ibu tenang aja, kan nanti katanya Naura mau tinggal dirumah itu dan saya pun juga ikut kesana. jadi nanti kita pasti bisa menjadi teman yang baik" jawab bi Surti membuat bi asih tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa Bu, Alhamdulillah kalo mbak Naura mau balik lagi kerumah itu. padahal saya kira justru mbak Naura ngga akan mau kerumah itu lagi, karna saya yakin dia lah yang paling terluka atas semuanya" jawab bi asih membuatku dan bi Surti saling pandang, karna kami sangat tau persis bagaimana perasaan Naura saat ini.
"iyaa bi Alhamdulillah, Naura bisa mengerti keadaanya dan lebih bisa berlapang dada. aku juga ga nyangka dia bisa buat keputusan seperti itu, tapi karna dia mau bawa bi Surti ya sudah aku izinkan aja. yang penting ada yang mengawasinya, lagi pula ketiga temannya juga bisa dipercaya. jadi saya berikan mereka kepercayaan yang lebih" jawab Rita yang langsung diangguki oleh kedua wanita paru baya tersebut
"Alhamdulillah kalo begitu mbak, gapapa mbak lagipula rumah itu memang harus tetap ditempati. biar gimana pun itu rumah utama keluarga Adipura, ngga mungkin dibiarkan kosong begitu aja. ya meskipun yang harusnya menempati rumah itu mbak Rita dan mas Bayu, tapi mau gimana lagi. kalian sudah punya rumah sendiri" jawab bi asih membuat Rita terkekeh kecil.
"iyaa bi, tapi nanti kami pasti akan sering main kok. bibi tenang aja" jawab Rita disertai senyum yang membuat bi asih menganggukan kepala.
"ini mbak nauranya mana mbak?" tanya bi asih yang sedari tadi tak melihat orang lain selain kedua orang itu.
"Naura kekampus bi, hari ini ospek pertama" jawab Rita dengan senyum mengembang.
"oohh udah masuk kampus ya, ngga nyangka mbak Naura udah kuliah sekarang" jawab bi asih dengan menghela nafas.
"iyaa bi Alhamdulillah, Naura juga sudah lebih bisa berfikir dewasa dari anak seusianya" jawab Rita membuat bi asih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"maksudnya mbak?" tanya bi asih yang masih belum mengerti.
"iyaa Naura, bisa lebih berfikir dewasa dalam menyikapi masalah yang terjadi dalam keluarganya bi. sepeti yang kita tau, bahwa ibunya lah penyebab kematian ibu kandung mas Bayu dan juga ayah mertua. sementara Maura berbuat jahat padaku dan juga mas Bayu, bahkan dia sampai seperti orang yang hampir depresi bi. tapi dia bisa menyikapi persoalan dengan dewasa, dengan bercerita pada orang terdekatnya sehingga dia ngga memendamnya sendiri. andai dia pendam sendiri, aku yakin saat ini kita sedang sama-sama merawatnya" jawab Rita membuat bi asih membelalakan mata.
"yang bener mbak? yaallah malangnya nasib mbak Naura, ngga nyangka beliau setegar itu. anak tangguh" jawab bi asih yang diangguki oleh Rita dan juga bi Surti.
"benar Bu, Naura memang anak yang tangguh. saya tau sekali rasa sayangnya pada kakak perempuan dan ibunya sangat besar, tapi dia masih berfikir waras dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. saya juga salut dengan dia" jawab bi Surti dengan mata berbinar.
"iyaa bi Alhamdulillah, Naura bener-bene anak yang baik" jawab Rita membuat keduanya menganggukan kepala.
"nak Rita, saya buat makan siang dulu ya sudah hampir jam sebelas takut waktu makan siang nanti ngga keburu" kata bi Surti yang langsung diangguki oleh wanita beranak satu tersebut.
"biar saya bantu ya Bu" kata bi asih menawarkan diri.
"ngga usah Bu, ibu kan tamu masa mau bantuin didapur" jawab bi Surti membuat bi asih terkekeh.
__ADS_1
"gapapa kok Bu, mbak Rita saya boleh kan bantuin bi Surti didapur?" tanya bi asih pada Rita yang langsung disambut anggukan kepala olehnya.
"iyaa boleh kok bi, tapi ingat ya jangan berantem" jawab Rita membuat keduanya terkekeh.
keduanya pun melangkah kan kaki menuju dapur meninggalkan Rita yang tengah asik menonton tv sinetron kesukaannya.
satu jam kemudian makan siang pun sudah terhidang dimeja makan, bi Surti yang mengurus penataannya sementara bi asih memanggil Rita yang masih sibuk menonton tv diruang keluarga.
"mbak, makanannya udah siap. makan siang dulu" kata bi asih yang langsung membuat Rita menghadap kearahnya.
"oohh iyaa bi bentar lagi ya, bibi kalo mau makan duluan aja. sekalian panggil yang lain ya bi, kasian udah siang mereka juga harus makan siang" jawab Rita membuat bi asih tersenyum dan menganggukan kepala sebagai jawaban.
"yaudah kalo gitu saya panggil yang lain dulu ya mbak" jawab bi asih yang juga diangguki oleh Rita.
setelah mendapatkan jawaban dari wanita itu bi asih pun melangkah kan kaki ke meja makan dimana bi Surti masih berada disana menata makanan yang sudah siap dihidangkan.
"nah, Rita kemana tuh? kok kamu kembalinya sendiri aja Bu asih?" tanya bi Surti pada bi asih.
"sebentar lagi katanya Bu, saya mau panggil yang lain dulu. dimana tempatnya ya??" tanya bi asih kepala bi Surti.
"yaudah saya panggil dulu ya Bu, ngga enak sama mbak Rita nanti nunggu kelamaan" jawab bi asih yang langsung jalan meninggalkan bi Surti yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"lah belum pada datang Bu?" tanya Rita yang baru saja datang beberapa menit setelah kepergian bi asih memanggil para asisten rumah tangga yang baru.
"belum nak, baru dipanggil sama si asih. sini keena biar sama ibu, kamu makan aja duluan" kata bi Surti menyuruh Rita memulai makan lebih dulu tanpa menunggu yang lain.
"yaudah kalo gitu Bu, aku duluan ya Bu. aku juga udah sangat lapar" jawab Rita dengan terkekeh kecil.
"iyaa, biar ibu yang jaga keena" jawab bi Surti yang langsung diangguki oleh Rita.
baru saja menyendok nasi, ternyata keenam asisten rumah tangga baru itu datang menghampiri keduanya bersama dengan bi asih yang mengekor dibelakangnya.
"naahh ini dia, yuk pak Bu makan siang dulu. kalian pasti lelah dan lapar kan" kata Rita menatap keenam orang tersebut bergantian sambil mengambil berbagai macam menu kesukaannya.
"emm mereka sungkan mbak, makan bareng dimeja makan" jawab bi asih sebagai perwakilan dari keenam art baru tersebut.
__ADS_1
"udah gapapa kok Bu pak, sekali-kali. lagipula ini untuk menyambut kedatangan kalian semua, Ayuk makan-makan jangan malu-malu ya. saya duluan" jawab Rita dengan senyum mengembang.
satu persatu dari mereka pun mulai menduduki kursi kosong pada meja makan tersebut, kemudian mengambil nasi yang dimulai dari bi asih yang mengawali.
"Ayuk Bu bapak jangan malu-malu, jangan sungkan sana nak Rita. memang nak Rita itu baik, anggap saja ini ucapan selamat datang di keluarga ini" kata bi Surti membuat keenam orang tersebut pun tersengum senang.
"iyaa Bu terimakasih" jawab mereka bersamaan.
"ibu ngga makan Bu?" tanya bi asih pada bi Surti yang dijawab gelengan kepala oleh wanita paru baya tersebut.
"saya mah santai Bu, nanti gantian dengan nak Rita setelah dia selesai." jawab bi Surti dengan senyum mengembang, bi asih pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"kami duluan ya Bu" kata bi asih kembali.
"iyaa Bu pak silahkan" jawab bi Surti dengan sopan.
bi Surti pun mengajak keena keruang keluarga agar lebih nyaman dan merasa tenang, setelah semua selesai Rita pun mulai bertanya-tanya pada keenam orang tersebut yang dipantau oleh bi asih.
"sebelumnya, bapak dan ibu apa pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga?" tanya Rita pada keenamnya, ada yang menggelengkan kepala dan ada yang menganggukan kepala sebagai jawaban.
"okee saya tanya mulai dari yang sebelah bi asih, siapa nama ibu?" tanya Rita pada beliau.
"nama saya Lastri Bu, sebelumnya saya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga tapi tidak menginap" jawab elwanita bernama asih tersebut.
"baik, sebelahnya lagi?" jawab Rita beralih kesebelah wanita bernama Lastri.
"saya Narti Bu, saya baru kali ini jadi asisten rumah tangga" jawab perempuan bernama narti.
"oohh gitu, kalo ibu emm yang sama bapak tadi. apa kalian pernah bekerja sebelumnya?" tanya Rita pada pasangan suami istri tersebut.
"belum Bu, kami baru dari kampung kebetulan sekampung sama bi asih. nama saya Lasmi dan suami saya sarman Bu" jawab perempuan bernama Lasmi tersebut yang langsung diangguki oleh Rita.
"oohh gitu, eemm maaf apa bapak dan ibu punya anak? maaf kalo saya mengorek masalah pribadi, mungkin nanti yang lainnya pun akan saya tanyakan satu persatu saat ada kesempatan" ......
bersambung......
__ADS_1