Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
delapanpuluhdua


__ADS_3

"assalamualaikum ibu-ibu" terdengar suara salam memecah keheningan yang terjadi diantara Rita dan beberapa ibu-ibu yang masih berada dihalaman rumahnya.


"waalaikumsalam Bu RT" jawab serempak ibu-ibu tersebut.


"ada apa ini jam segini pada ngumpul, tumben" tanya Bu RT pada beberapa ibu-ibu yang berada tepat didepannya.


"gaada apa-apa kok Bu RT, biasalah namanya juga bertetangga. gaada salahnya kan kita silaturahmi" jawab Bu Bagas dengan senyum yang dibuat-buat.


"oohh gitu, iyaa betul bagus itu ibu-ibu. semoga warga RT sini terus rukun seperti ini ya" jawab Bu RT dengan mengembangkan senyum.


Naura dan teman-temannya pun saling berpandangan mendengar jawaban dari Bu Bagas pada Bu RT, rupanya mereka menyadari jika Bu Bagas sedang mencari alasan untuk menutupi kegaduhan yang terjadi karna ulahnya. seketika dini pun memiliki ide untuk menjahili Bu Bagas dan para ibu-ibu tersebut.


dini pun memasuki rumah dan mengambil handphone miliknya, kemudian saat berada tepat didepan pintu rumah ia sengaja berpura-pura menelpon polisi untuk melaporkan kasus yang dialami oleh Rita dan keluarganya dan kerusuhan yang terjadi hari ini.


"iyaa pak polisi segera ke TKP ya saya tunggu, kasian kakak saya pak polisi" kata dini sengaja mengeraskan suara agar Bu Bagas dan ibu-ibu yang lain mendengar.


Rita yang dan lainnya yang melihat dan mendengar apa yang dikatan dini pun mengerutkan alis, tapi setelah melihat kode yang diberikan dini mereka pun mengerti dan akan mengikuti apa yang dini rencanakan.


"terimakasih pak polisi, selamat pagi menjelang siang" kata dini mengakhiri sandiwaranya. kemudian memasukkan handphonenya kedalam saku celana dan menatap bergantian ibu-ibu dan juga rita dan teman-temannya sambil menedipkan sebelah matanya.


"maaf de, siapa yang adek ini telepon? kenapa bawa-bawa polisi segala?" tanya Bu RT dengan wajah penasaran.


" iyaa jelas lah Bu RT saya telpon pas polisi untuk jagain rumah mbak Rita ini, abis tadi ibu-ibu ini protes karena suami-suami mereka ikut siskamling dan mereka juga protes karna disuruh bayar iuran tambahan untk biaya siskamlingnya Bu RT" jawab dini dengan nada dibuay sedih.

__ADS_1


"tunggu, tunggu. ini bagaimana maksudnya?" tanya Bu RT yang masih tak mengerti.


"begini loh Bu RT, ibu-ibu ini tadi tuh komplen ke mbak Rita. karna kejadian yang dialami mbak Rita dan keluarganya, keluarnya mereka jadi ikut repot karna harus menambah iuran warga dan juga suami-suami mereka harus mengikuti siskamling. begitu loh Bu" jawab Salma dengan nada yang lebih sopan.


"apa bener itu ibu-ibu?" tanya Bu RT pada para ibu-ibu yang masih pucat mendengar perkataan dini saat menelpon polisi. satupun dari mereka tak ada yang berani menjawab apa yang ditanyakan oleh Bu RT.


"ibu-ibu saya tanya sekali lagi, apa bener yang dikatakan adek-adek ini jika kalian merasa keberatan dengah iuran tambahan dan juga siskamling yang diadakan di rt kita ini?" tanya Bu RT dengah penuh ketegasan, yang ditanya pun hanya saling sikut dengan wajah tertunduk.


"be-benar Bu RT" jawab bu Bagas sebagai perwakilan dari yang lainnya.


"nah begitu dong Bu Bagas dijawab kalo ada orang nanya tuh, jangan bisa cuma menghakimi orang lain dengan mulut nyinyir situ doang" jawab Naura yang merasa geram dengan bu Bagas yang terang-terangan melabrak Rita.


"yaampun ibu-ibu, uang iuran tambahan itu juga digunakan untuk bapak-bapak yang siskamling loh Bu. lagipula tambahannya pun tidak seberapakan? hanya lima ribu rupiah Bu, itupun kembali lagi untuk kopi dan rokok bapak-bapak yang berjaga. kenapa hal seperti ini harus dipermasalahkan?" tanya Bu RT yang tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh Bu Bagas dan ibu-ibu lain yang berjumlah empat orang.


"lagi pula ya Bu ibu, adanya siskamling ini bukan cuma bertujuan untuk melindungi keluarga mbak Rita. tapi juga untuk mengamankan RT kita yang sering kali mengalami kehilangan pada malam hari, apa ibu-ibu lupa berapa kali warga kita rumahnya di bobol maling? itulah tujuan ya Bu ibu" lanjut Bu RT menjelaskan pada kelima ibu-ibu tersebut.


"astagfirullah, apa bener begitu ibu-ibu?" tanya Bu RT sekali lagi.


"bener Bu RT, tapi itu semua kan yang ngomong Bu bagas Bu. kami ngga ngomong begitu loh Bu" jawab salah satu dari bagian dari ibu-ibu tersebut.


"alah, sama aja. kalian juga membenarkan apa yang dikatan Bu Bagas, iyakan temen-temen" kata Nana membalas perkataan ibu-ibu tersebut.


"hei, kalian anak kecil lebih baik ngga usah campur ya. lagian kalian bukan orang sini kan? kenapa kalian bisa ikut campur dalam masalah ini?!" kata Bu Bagas mendadak emosi mendengar perkataan Nana yang semakin menyudutkannya.

__ADS_1


"maaf ya Bu RT dan ibu-ibu sekalian, kami memang bukan warga RT sini tapi kami adalah sahabat Naura dan Naura adalah adik mbak Rita jadi kami berhak ikut campur karna kami ada disini. lagipula sebentar lagi ada polisi yang akan datang, pasti kami juga dimintai keterangan atas kasus yang saya laporkan barusan" jawab dini membuat nyali kelima ibu-ibu tersebut menciut mendengar apa yang dikatakannya.


"tapi adek-adek, apa ngga sebaiknya masalah ini kita bicarakan baik-baik dulu secara kekeluargaan. ngga baik jika harus melapor-lapor pada polisi seperti itu?" kata Bu RT menyarankan.


"maaf ya Bu RT, tapi tadi ibu-ibu ini membuat kegaduhan tanpa memikirkan perasaan mbak Rita. mereka berucap seolah mereka bukan seorang perempuan dan seorang ibu, coba seandainya semua itu menimpa Bu RT apa yang akan Bu RT lakukan? terlebih mereka juga sedari tadi memojokkan mbak Rita dan keluarga hanya karna iuran yang bertambah tanpa meminta keberan dari pihak terkait lebih dulu Bu RT" jawab Naura dengan tenang dan tegas tanpa rasa takut.


"lihat ibu-ibu, inilah akibatnya jika kalian bertindak gegabah dalam menyikapi setiap persoalan. lagipula saya bingung, kenapa ibu-ibu ini seperti tidak memiliki empati pada tetangga padahal kalian ini saling sebelahan loh. suatu saat ntah Bu Bagas atau ibu-ibu yang lain pasti membutuhkan pertolongan juga, jika sikap kalian seperti ini apa menurut kalian akan ada tetangga yang akan datang menolong kalian jika kalian sudah?" ucap Bu RT telak membuat kelimanya saling berpandangan, tak ada yang berani menjawab perkataan Bu RT.


"maaf kan kita Bu RT, kami hanya terpancing dengan apa yang dikatan Bu Bagas" jawab salah seorang ibu dengan kepala tertunduk.


"bener Bu RT, maafkan kita" kata yang lainnya serempak.


"loh, kenapa kalian jadi menyalahkan saya? kalian juga kan sependapat dengan saya tadi, kenapa sekarang jadi melempem begini cuma karna gertakan anak bau kencur begini. dasar Cemen!" ketus Bu Bagas membuat dini memelototkan mata.


"Bu Bagas, Bu Bagas sebenernya ada masalah apa ya sama saya. kayanya kita ngga pernah bersinggungan sebelumnya, bahkan kita pun juga ngga pernah akrab. jangan kan akrab bertegur sapa pun jarang, apa salah saya pada Bu Bagas? saya minta maaf" kata Rita yang sedari tadi terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berada disekitarnya.


Bu Bagas pun terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rita, ntah mengapa Rita merasa bu Bagas tidak menyukainya sedari mereka pindah ke perumahan tersebut. maka keluarlah apa yang memang Rita ingin ucapkan yang sedari tadi tertahan dalam hatinya.


"nah Bu Bagas, coba kalo ada apa-apa itu diselesaikan dengan baik. apa selama ini mbak Rita ini menyusahkan Bu Bagas dan membuat Bu Bagas tidak nyaman seperti apa yang disampaikan oleh mbak Rita?" tanya Bu RT mempertegas pertanyaan Rita.


Bu Bagas yang ditanya seperti itu pun hanya tertunduk tanpa mau menjawab pertanyaan Bu RT maupun pertanyaan Rita, rasa iri terhadap Rita yang tumbuh di hati bu Bagas pun semakin menjadi ntah karna apa alasannya hanya dirinya sendiri yang tau.


"sudah jika Bu Bagas tidak mau menjawab, sebaiknya ibu-ibu minta maaf dengan mbak Rita setelah itu bubar karena saya masih ada urusan dengan mbak Rita" kata ibu RT sambil melangkah mendekati Rita yang berada tak jauh darinya.

__ADS_1


"mbak Rita maafkan kami ya, mohon jangan perpanjang masalah ini kepolisian" kata salah satu dari keempat ibu-ibu.


"iyaa bener mbak Rita" mereka semua serentak menganggukan kepala, sedangkan Rita merasa bingung karna dia sama sekali tak merasa harus melaporkan kejadian seperti ini pada pihak kepolisian.


__ADS_2