Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
seratus72.


__ADS_3

"oohh gitu, eemm maaf apa bapak dan ibu punya anak? maaf kalo saya mengorek masalah pribadi, mungkin nanti yang lainnya pun akan saya tanyakan satu persatu saat ada kesempatan" kata Rita merasa tak enak kepada sepasang suami istri tersebut.


"gapapa Bu, kami dikaruniai satu anak tapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karna depresi" jawab bi Lasmi dengan mata berkaca-kaca.


"oohh maaf Bu, saya ngga tau" jawab Rita dengan menundukkan kepala.


"gapapa Bu, sudah lewat juga. sudah takdirnya seperti itu Bu" jawab pak sarman dengan senyum lembut.


"baik lah kalo begitu silahkan kembali istirahat nanti kita ketemu lagi diruang keluarga setelah asar ya Bu?" kata Rita menatap bi Surti yang baru saja datang menghampiri beberapa orang tersebut.


"iyaa nak, nanti saya akan kasih tau apa saja kerjaan kalian semua dirumah ini. semoga kita bisa menjadi partner yang baik" jawab bi Surti dengan senyum menatap keenam orang tersebut.


"baik bi" jawab keenamnya serempak.


"yaudah kalo gitu saya tinggal keatas ya, saya mau menyusui dan istirahat dulu" jawab Rita mengambil keena dari gendongan bi Surti yang langsung dengan cekatan memberikan keena pada sang ibu.


Rita pun melangkahkan kaki menuju kamar setelah berpamitan pada kedelapan orang tersebut.


tak lama Naura pun pulang dari kampus memasuki rumah tepat pukul satu siang, ia pun heran melihat kondisi rumah itu yang sangat ramai orang membersihkan meja makan.


"loh loh ini siapa? bu, Bu" teriak Naura memanggil bi Surti.


"ada apa nak?" jawab bi Surti yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dilantai bawah.


"ini siapa Bu, kok ramai banget?" tanya Naura pada bi Surti yang tersenyum menatap anak angkatnya tersebut.


"oohh ini loh, ini semua itu asisten rumah tangga dan juga calon satpam dirumah ini yang baru nak. bibi baru aja selesai sholat Zuhur, baru mau makan siang. tadi mbakmu dengan mereka sudah makan siang duluan, sengaja ibu menunggu kamu" kata bi Surti dengan senyum mengembang.


"yaudah yuk kita makan bi" ajak Naura pada bi Surti yang tersenyum dan menganggukan kepala.


"eehh non Naura, udah pulang dari kampus non?" tanya bi asih yang melihat Naura disebelah bi Surti.

__ADS_1


"udah bi, baru aja. gimana kabar bi?" tanya Naura pada bi asih.


"Alhamdulillah baik non, non sendiri gimana? baik-baik aja kan?" tanya bi asih pada Naura.


"Alhamdulillah aku juga baik bi, oohh ini bibi yang bawa pasukan ya makanya rame begini rumah mbak Rita" jawab Naura membuat bi asih dan bi Surti terkekeh kecil.


"iyaa non, ini semua pesanan mbak Rita loh bukan bibi yang bawa begitu aja" jawab bi asih dengan mengerucutkan bibirnya.


"heheh yaudah bi, Naura mau makan dulu. bibi udah makan?" tanya Naura menyendokkan nasi pada piring miliknya.


"udah dong non, bibi temenin non sama bi Surti aja. mereka paling sebentar lagi juga masuk kekamar mereka, masih disuruh istirahat tadi sama mbak Rita" jawab bi asih membuat Naura menganggukan kepala.


Naura pun mulai memasukkan suap demi suap nasi beserta lauk dan sudah ada dipiringnya.


"mbak asih, kami masuk kamar dulu ya non, Bu?" kata bi Lasmi berpamitan pada ketiga orang didepannya.


"iyaa Bu, silahkan" jawab bi asih dan bi Surti berbarengan, sementara Naura hanya tersenyum dan menganggukan kepala menatap keenam asisten rumah tangga baru kakaknya tersebut.


"mereka seusia bi asih semua ya?" tanya Naura pada bi asih.


"iyaa bagus itu bi, jadi mbak Rita memang sudah harus berjaga-jaga" jawab Naura dengan senyum kecil.


bi Surti dan bi asih pun saling pandang mendengar apa yang Naura katakan terlihat raut wajah keheranan Dimata bi asih mendengar perkataan Naura sementara bi Surti hanya tersenyum sebagai respon dari kebingungan bi asih.


"Naura udah selesai ya bi, Bu. Naura kekamar dulu" pamit Naura membuat kedua orang tersebut tersenyum dan menganggukan kepala sebagai jawaban.


"non Naura kenapa ya bi, kok begitu jawabannya. untung saja ngga salah pilih calon asisten rumah tangga untuk disini" kata bi asih dengan wajah heran.


"iyaa begitulah bi, makanya eemm dibilang trauma si sepertinya ngga ya hanya takut aja sebenarnya" jawab bi Surti membuat bi asih menganggukan kepala dengan raut wajah heran.


"kasihan juga ya non Naura, bibi kalo bibi diposisi dia juga pasti akan merasa takut dan trauma si bi. apalagi seharusnya yang lebih trauma itu mbak Rita ya bi, ini malah non Naura" jawab bi asih membuat bi Surti tersenyum.

__ADS_1


"iyaa seharusnya, tapi justru nak Rita yang menjadi penguat buat naura. nak Rita bisa menjadi sosok pengganti seorang ibu buat Naura" jawab bi Surti memandang kasihan kearah kamar Naura.


"Alhamdulillah kalo begitu bi, memang mbak Rita itu baik kok bi. bisa jadi pengayom buat non Naura" jawab bi asih membuat bi Surti menganggukan kepala dengan senyum lembut.


"oiyaa bi Surti udah lama disini?" tanya bi asih pada bi Surti yang menagnggukan kepala.


"udah bi, udah dari penghuni lama. sempet juga penghuni lama rumah ini silaturahim dengan nak Rita, Alhamdulillah mereka bisa akrab" jawab bi Surti dengan senyum mengembang.


"berapa tahun bi?" tanya bi asih.


"berapa ya, hampir empat tahun kalo ngga salah bi. sampai akhirnya penghuni yang lama berpisah digantikan dengan mas Bayu dan juga nak Rita" jawab bi Surti dengan mengerutkan kening me jawab pertanyaan bi asih.


"lama juga ya bi, pasti pemilik rumah yang lama baik ya sampai bibi betah dirumah ini?" tanya bi asih.


"baik Bu, tapi sayang rumah tangganya ngga bertahan lama karna orang ketiga dan juga karna orangtua tuan yang dulu seperti membenci nyonya bi" jawab bi Surti, bi asih pun hanya merespon dengan anggukan kepala sebagai jawaban.


"kasihan ya bi, ekonominya bagus tapi diuji dengan ujian yang lain. lah kita, paling kalo ngga maut yang memisahkan ya faktor ekonomi ya bi" jawab bi asih disambut tawa kecil oleh bi Surti.


"yaa iyaa beda lah bi, mereka loh ngga kekurangan ekonomi cuma aja mereka kekurangan hati. kasihan pihak wanita yang menjadi rugi karna keegoisan semata" jawab bi Surti menerawang jauh.


"iyaa benar bi, Alhamdulillahnya mas Bayu itu ngga terpengaruh dengan semua rencana non Maura dan godaan dari dia. saya ngga tau gimana nanti mbak Rita kalo sampai pak Bayu tergoda sama perempuan gila itu" jawab bi asih dengan menggebu-gebu.


"memang Maura itu siapa si bi, saya selalu dengar nama itu tapi ngga pernah tau yang mana orangnya" tanya bi Surti pada bi asih.


"jelas lah ngga pernah ketemu, lah wong saat ini ada di kantor polisi kok bi. dia itu yang udah berusaha memisahkan mbak Rita dan juga mas Bayu bi, bahkan dia juga yang udah buat rencana jahat untuk keluarga mbak Rita. yaa sampai akhirnya orang yang meneror keluarga mbak Rita itu ketangkep dan akhirnya buka suara siapa yang menyuruhnya, jadilah non Maura ini jadi tersangka. apalagi dengan pengakuan mbak Rita, pasti udah diputuskan kalo non Maura benar-banar jadi tersangka dikepolisian" jawab bi asih membuat bi Surti menganggukan kepala.


"nah, itu gimana ceritanya bisa sampai ditahan polisi?" tanya bi Surti penasaran.


"ceritanya panjang bi, kalo diceritain ngga akan ada habisnya. intinya ya Maura itu adik tiri mas Bayu yang ternyata satu ibu dengan non Naura bi, cuma beda bapak. kalo mas Bayu itu anak kandung dari pak Adipura dengan istri pertamanya yang sudah meninggal, sementara Naura anak kandung pak Adipura dengan ibu suri/ibu sari itu. nah Maura ini, emmm maaf ya Bu anak selingkuhan ibu sari dengan lelaki lain yang ternyata dibuang Bu. selama ini katanya ngga pernah ada yang tau jika ibu sari hamil non Maura bi" jawab bi asih dengan pelan takut Naura atau Rita mendengar apa yang mereka bicarakan.


"oohh begitu ya bi, pantesan beberapa waktu yang lalu nak Rita dan nak Bayu ke kantor polisi dengan Naura juga. terus Naura pulang dan nangis, yaa seperti yang bibi tau. disitu Naura sepeti depresi, takut jika nak Bayu membencinya karna terlahir dari wanita yang sudah membunuh ibu kandungnya bi" jawab bi Surti membuat bi asih menutup mulutnya.

__ADS_1


"kasihan sekali non Naura, tapi Alhamdulillah dia kuat ya bi. saya bersyukur non Naura dididik dengan orang yang benar" jawab bi asih dengan senyum.


"Alhamdulillah bi, non Naura mewarisi sifat ayahnya dan mengikuti sifat kakak lelakinya bi bukan sifat ibu atau kakak perempuannya" jawab bi Surti yang langsung diangguki oleh bi asih.


__ADS_2