
Naura pun tak peduli dengan teguran yang diberikan Rita, ia tetap saja mengeluarkan suaranya dengan keras. namun ibu Bayu tak kunjung keluar dari kamarnya, ntah Naura yang sengaja membuat keributan atau memang Naura ingin ibu nya tak terus-terusan membela orang yang salah.
"nau, sudah jangan teruskan semua ucapan kamu itu. kasian ibu nau, biar gimana pun ibu tetap ibu kamu" kata Rita membuat Naura menyunggingkan senyum sinis.
"mbak, andai aku bisa memilih. aku ngga akan mau dilahirkan dari ibu yang licik seperti dia mbak, aku gamau" jawab Naura membuat Rita membelalakan mata mendengar perkataan kasar yang keluar dari mulut Naura.
"astagfirullah nau, sadar. andai ibu dengar pasti akan lebih sakit hatinya nau. jaga lisan nau, apalagi beliau ibu kandungmu" kata Rita memperingati Naura yang ia rasa sudah kelewatan.
bi asih pun hanya diam mendengar perdebatan antar ipar tersebut, ia pun memilih mengambil keena dari gendongan Rita yang terlihat terus membantah apa yang Naura katakan.
"Naura capek mbak, Naura capek. ibu ngga betul betul menyayangi kita mbak, selama ini ibu ngga betul-betul ada dipihak kita. lantas apa artinya selama ini kita meminta bantuan dari ibu mbak, bahkan kita semua tau jika rumah tangga mbak yang jadi korban karna kelakuan Maura. tapi apa nyatanya? ibu terus membela dia. Naura lelah mbak" jawab Naura dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"tapi ga seharusnya kamu berkata seperti itu nau, gimana pun sikap ibu pada kita dia tetaplah ibu nau. ibu kandung kamu, ibu yang melahirkan kamu." jawab Rita dengan lembut menghampiri adik iparnya yang tengah menahan Isak tangis dibibirnya namun air matanya terus mengalir dari matanya.
"tapi ibu sudah keterlaluan mbak, demi Allah hati Naura sudah terlalu sakit dengan semua yang ibu lakukan hanya demi Maura mbak. bukannya Naura iri dengan Maura yang terus dibela ibu, tapi kenapa setiap Maura melakukan kesalah ibu selalu bela mbak? itu ngga adil kan? aku juga anak ibu mbak, bahkan mbak tau sendiri bagaimana ibu dengan gampangnya memberikan tamparan dipipiku. sudah berapa kali mbak? mbak Rita tau kan?" jawab Naura dengan Isak tangis yang mulai terdengar ditelinga Rita dan juga bi asih yang berdiri tak jauh dari keduanya dengan menggendong keena.
"mbak tau nau, sangat tau. sabarlah nau, mbak yakin Allah ngga akan memberikan ujian di atas kemampuan umatnya. semakin tingga ujian kita, semakin tinggi pula derajat kita dihadapannya. bersabarlah nau, yang penting Maura sudah mendapatkan balasannya di sel sana" jawab Rita diangguki oleh bi asih.
"betul apa yang dibilang mbak Rita mbak, sabar saja. bi asih juga merasa heran dengan ibu yang tiba-tiba berubah, bahkan dengan bi asih yang sudah biasa menemaninya pun ibu juga menjadi lebih sensitive sekali mbak" jawab bi asih mendekati kedua anak majikannya tersebut.
"kamu dengar sendiri kan nau, bukan cuma kamu yang merasakan perubahan ibu tapi kami juga nau. maka dari itu aku mau ajak kamu supaya bisa mengambil hati ibu lagi, menurutku mungkin selama ini ibu hanya terlalu kecewa dengan kita yang tiba-tiba meninggalkan rumah dan ia tinggal bersama dengan Maura. jadi, emm gimana ya mungkin bisa dibilang ibu sudah terlalu lama dicuci otaknya oleh Maura. begitu, itu si perkiraan aku ya" jawab Rita dengan mimik wajah serius.
Naura yang mendengar jawaban Rita pun mulai menghapus air matanya dengan kasar, ia pun duduk menghadap Rita dan menatap matanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"maksud mbak Rita bagaimana?" tanya Naura penasaran.
"maksudku, mungkin aja ibu sudah terpengaruhi oleh kata-kata yang mungkin saja disampaikan oleh Maura. kita tidak tau apa yang Maura sampaikan selama kita tidak tinggal dengan ibu, bisa saja Maura menghasut ibu. iyakan?" jawab Rita dengan alis terangkat.
Naura pun hanya diam, meskipun ia tau bahwa bukan itu lah alasan sebanarnya sang ibu membela mati-matian Maura. Namun, karna belum ada satu pun yang mengetahui rahasia besar sang ibu Naura pun berusaha diam dan tak berbicara sembarangan meskipun pada Rita. ia hanya akan mencari bukti, agar apa yang dikatakan ketiga sahabatnya bisa dipercaya oleh Bayu dan juga Rita.
"betul, mungkin saja begitu. walaupun memang saya selama ini selalu menemanip ibu, tapi saya kan tidak setiap waktu bersamanya. apalagi jika ibu dikamar, saya tidak mungkin masuk kedalam kamar ibu jika tidak berkepentingan. berbeda dengan Maura yang bisa kapan saja masuk kedalam kamar ibu karna sebagai anaknya" jawab bi asih dibenarkan oleh Rita, Naura pun masih diam berusaha berfikir apa yang dikatakan oleh dua orang dihadapannya ini.
akhirnya Naura pun menganggukan kepala membenarkan perkataan kakak ipar dan asisten rumah tangga sang ibu, ia pun mengajak keduanya kedalam kamar dan akan menceritakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tersebut.
"mbak, bi sebenarnya ada yang akan aku katakan. tapi aku harus memastikan jika kalian tidak membongkar ini sebelum aku mendapatkan bukti yang kuat, dan kalian harus berjanji akan membantu aku" kata Naura setelah ketiganya berada didalam kamar yang Naura tempati.
Rita dan bi asih pun saling berpandangan, melihat wajah Naura yang terasa sangat serius keduanya pun akhirnya menganggukan kepalanya dan berjanji tidak akan memberitahukan rahasia tersebut kepada siapapun.
"iyaa mbak, bibi janji ngga akan bocor kok dan akan bantu mbak Naura sebisa bibi" jawab bi asih yang masih menggendong keena ditangan kanannya.
"baik, aku percaya. jadi gini...." Naura pun menjelaskan apa yang ia ketahui dari ketiga sahabatnya yang sempat mengintai Maura dan juga ibu dengan cara yang dimiliki oleh ketiganya. Rita yang mendengarnya pun hanya menganggukan kepala seolah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naura, tentu saja karna Rita tau kelebihan yang dimiliki oleh ketiga sahabat Naura.
sedangkan bi asih hanya melongo mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Naura, ingin percaya pun mustahil namun tak percaya pun,,,, ntahlah, bi asih pun belum mengerti. bi asih hanya bisa membantu Naura untuk mencari bukti otentik atas apa yang menjadi kecurigaan anak majikannya tersebut.
"bagaimana? apa mbak Rita dan bi asih mengerti apa yang aku maksud?" tanya Naura setelah selesai men cenceritakan kebenaran yang ia ketahui dan menjelaskan rencana yang ia susun agar mendapatkan bukti yang ia inginkan.
"tapi nau, apa kamu yakin?" tanya Rita yang kurang percaya dengan apa yang Naura rencanakan.
__ADS_1
"mengapa ngga mbak, hanya itu satu-satunya cara mbak. mendesak ibu agar mengakui apa yang menjadi rahasianya. cukup agar ibu mengakui aja mbak, kan disini aja cctv yang bisa diakseskan? kayanya ada suaranya juga, jadi aku yakin ini akan berhasil" jawab Naura dengan yakin.
"tunggu-tunggu, berarti kemungkinan mas Bayu tau dong kejadian tadi pagi?" tanya Rita yang merasa khawatir jika Bayu tau apa yang ibunya katakan pada Rita.
"ntah, bisa iya bisa juga ngga. mas Bayu kan sekarang sibuk mbak, belum tentu juga mas Bayu buka cctv. nyatanya kekantor polisi sama mbak aja dibatalin kan?" tanya Naura seketika membuat Rita menganggukan kepala.
"iyaa kamu bener nau, semoga aja mas Bayu belom liat cctv pagi tadi. mbak ngga mau malah memperkeruh suasana dengan kemarahan mas Bayu" jawab Rita dengan lirih.
"maaf mbak, ini non keena kayanya haus. sepertinya disusuin aja dulu mbak" kata bi asih menyerahkan keena yang sudah mulai tak bisa diam dalam gendongannya.
"oiyaa sini bi, biar saya kasih asi dulu. bibi masih ada kerjaan kah?" tanya Rita, bi asih pun segera menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Rita.
"ngga ada si mbak, palingan nanti sore nyapu sama ngepel aja. gampang itu mah" jawab bi asih dengan gaya khasnya.
"oohh gituu, oiyaa gimana sama asisten rumah tangga sama satpam dan juga supir yang baru bi? apa udah ada yang mau?" tanya Rita, bi asih pun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"belum mbak, agak susah si cari asisten rumah tangga jaman sekarang mbak. tau sendirilah orang sekarang kegedean gengsi mbak" jawab bi asih membuat Rita seketika terkekeh.
"kenapa bi asih mau jadi asisten rumah tangga?" tanya Rita berusaha menahan tawanya.
"yaa karna butuh mbak, bibi mah apa aja kerjaan yang penting halal bisa buat anak dikampung mbak" jawab bi asih dengan menundukkan kepala.
"iyaa ya bi, saya juga heran dengan orang sekarang yang mendepankan gengsi. padahal kerja apapun asal halal dan berkah banyak ya bi" jawab Rita diangguki oleh bi asih.
__ADS_1
"iyaa mbak, malah jaman sekarang banyak yang melakukan kerjaan kotor asal dapat uang banyak. kalo saya naudzibillahiminzalik mbak" jawab bi asih sambil bergidik ngeri membayangkan perkerjaan kotor yang baru saja ia katakan, bahkan membayangkannya saja bi asih merasa jijik sendiri.