
mereka pun tertawa lepas didapur tersebut dengan Rita yang masih membuat teh untuknya sendiri.
"ibu ada-ada aja, masa disamain sama yang viral itu. jelas beda lah Bu, pasti lebih enak dia kemana-kemana" jawab bi Surti dengan menundukkan kepala.
"yaa gapapa bi, memang bisa disetarakan dengan yang itu sih menurutku. lagian ini memang enak loh bi" jawab Rita dengan senyum mengembang.
"ya dihabiskan lah Bu kalo enak, oiyaa non keena belum bangun Bu? udah sore loh, apa ngga dimandikan" kata bi Surti sambil mengerjakan cucian piring yang sudah menumpuk.
"oiyaa bi, sekarang ini jam berapa ya. saya sampe ga merhatiin waktunya keena mandi ini sangking enaknya makan kue bawang bikinan bibi" jawab Rita masih dengan mengunyah kue bawang tersebut.
"hampir jam empat bu, bawa aja dulu Bu kue bawangnya. ngga akan kehabisan, kan masih banyak juga saya buatnya" jawab bi Surti membuat Rita menganggukan kepala.
"yaudah deh, kalo gitu aku mandiin keena dulu ya bi. ini aku bawa aja deh kekamar, nanti diabiskan sama Naura dan teman-temannya lagi" jawab Rita dengan tertawa kecil, bi Surti pun hanya menganggukan kepala mendengar perkataan Rita.
Rita pun melangkahkan kaki menuju kamarnya dengan membawa setoples kue bawang dan juga setoples biji ketapang, tak lupa dengan segelas teh manis yang ia buat. semua ia bawa kedalam kamarnya untuk ia nikmati setelah memandikan keena, karna Rita tau setelah mandipun keena pasti akan tertidur lagi.
"dduuuhh udah bangun dia rupanya, maafin mama ya sayang kamu sendirian didalam kamar" kata Rita ketika melihat keena yang sudah menggeliat didalam boks bayinya, Rita pun segera menyiapkan pakaian untuk dipakai oleh keena yang menurutnya nyaman. kemudian Rita membuka pakaian yang melekat pada tubuh keena, setelahnya barulah ia membawa bayi kecil tersebut kedalam kamar mandi.
"setelah sepuluh menit Rita pun menyudahi mandi keena yang sudah terlihat lebih fresh setelah mandi, ia pun memakaikan pakaian untuk keena. setelah selesai, Rita pun kembali memberikan asi nya pada keena. tapi, keena yang memang baru saja terbangun pun sudah tidak mau lagi kembali tidur seperti biasanya. akhirnya Rita pun membawa keena ke ruang keluarga dan menitipkannya pada Naura dan ketiga temannya
ketika sampai diruang keluarga Rita melihat ketiga teman Naura yang tengah bersiap untuk pulang, rita pun menyapa mereka yang terlihat tengah membereskan bekas mereka menonton Drakor.
"waaahh udah selesai ya nontonnya?" kata Rita ketika sampai diruang keluarga.
"udah mbak, kita juga mau pamit pulang ini. udah sore" kata Nana diangguki oleh dini dan juga Salma.
__ADS_1
"kok ngga nginep aja disini, banyak kamar kosong kok" jawab Rita membuat ketiganya menggelengkan kepala.
"ngga usah deh mbak, ngga enak kita nginep terus disini" jawab dini dibenarkan oleh Nana dan juga Salma.
"iyaa mbak, gapapa kita pulang aja. makasih ya mbak makanan sama jaminannya" jawab Salma membuat Rita tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa sama-sama, yaudah kalo gitu kalian hati-hati ya. padahal mbak baru aja mau nitipin keena sama kalian" kata Rita dengan tersenyum lembut.
"yaudah gapapa mbak sama aku aja sini keenanya, mbak mau ngapain si?" tanya Naura pada Rita.
"mbak mau mandi lah nau, mau ngapain lagi. udah hampir setengah lima ini, nanti kesorean malah dingin" jawab rita membuat Naura menganggukan kepala.
"oohh yaudah kalo gitu" jawab Naura pelan.
"oohh iyaa, hati-hati dijalan ya na, Din, sal" kata Naura. sementara Rita hanya menganggukan kepala dan juga tersenyum menatap ketiga sahabat Naura.
"makasih ya kalian udah mau main kesini" kata Rita pada ketiganya yang hanya menganggukan kepala.
"sama-sama mbak, tapi lain kali kami boleh dong datang kesini lagi?"kata Salma dengan wajah berbinar.
"boleehh doongg, mbak malah seneng kalo kalian mau main kesini" jawab Rita disertai dengan kekehan kecil. Naura pun memutar bola mata jengah menatap Salma yang tertawa kecil mendengar jawaban Rita.
"makasih ya mbak, duh senang banget deh punya ipar kaya mbak Rita ini. pasti kamu juga kan nau, apalagi jago masak baik hati dan tidak sombong pula" jawab Salma yang langsung diangguki oleh dini dan juga Nana.
kini kelima orang tersebut sedang berjalan menuju pintu keluar yang lumayan jauh dari ruang keluarga, saat tepat didepan pintu terlihat ibu Bayu tengah berdiri menatap ke lima orang didepannya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
kemudian ibu Bayu pun melangkah mendekati Rita, kemudian melayangkan tamprab pada pipi menantunya tersebut.
"ibu, ibu apa-apaan si!" kata Naura yang berada disebelah Rita yang menggendong keena.
"tanya sama ipar kamu yang sudah kelewatan ini, ngga tau diri. sudah dikasih tau sama orangtua, kamu sengaja membuat Bayu durhaka sama orangtuanya sendiri atau gimana. hah!!" kata ibu Bayu menunjuk-nunjuk Rita yang menggelengkan kepala.
"apa salah aku Bu, sampe ibu membenci ku seperti ini. apa salahku Bu?" kata Rita menahan Isak tangis yang keluar dari bibirnya.
"salahmu, karna kamu ngga berhasil membujuk Bayu untuk mencabut tuntutannya pada maura" jawab ibu Bayu dengan nebyedekapkan tangannya didada.
"itu bukan salah mbak Rita Bu, itu memang salah Maura sendiri. untuk apa ibu terus membela anak kurang ajar itu, apa ibu ngga ingat apa yang udah dia lakukan pada ibu kemarin, hah! kalo bukan karna mbak Rita, mungkub sekarang ibu sudah tak ada lagi didunia ini" jawab Naura membuat Rita, ibu Bayu dan juga ketiga temannya tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"nau, jangan ngomong gitu. biar gimana pun dia orangtua kamu." kata Rita mengingatkan.
"orangtua yang kaya gimana mbak? orangtua yang adil sama anaknya, anak orang lain lagi. bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu pada anak kandungnya sendiri mbak, bahkan mbak lihat dia bisa menampar mbak didepan kami. lihatlah mbak" jawab Naura dengan wajah yang penuh sekali dengan emosi yang ingin ia lupakan.
"iyaa mbak tau, tahan emosi kamu ya. jangan sampai semuanya jadi berimbas kakamu sendiri" jawab Rita berusaha membuat tenang Naura. Naura pun menganggukan kepala mendengar nasihat yang keluar dari mulut kakak iparnya.
"kamu tega bicara seperti itu pada ibumu sendiri nau, kamu menyumpahi ibu? bahkan kamu lebih mendengarkan omongan perempuan ini dibanding ibu kamu sendiri?!" kata ibu Bayu dengan mata melotot menatap Rita.
"sudah puas kamu terus menghasut kedua anakku untuk membenci ibunya sendiri, sudah puas hah?!" lanjutnya dengan terus membentak Rita membuat Rita menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ibu mertuanya katakan.
"ngga Bu, aku ga pernah melakukan apa yang ibu tuduhkan. semua yang aku katakan itu murni keputusan mas Bayu, bukan lagi keputusan aku" jawab Rita dengan memegang pipi yang masih terasa perih karna tamparan ibu mertuanya.
"alaaahh kamu itu pintar sekali ngeles, sudahlah percuma sama bicara sama kamu!!" jawab ibu Bayu melangkah memasuki rumah dengan sendirinya.
__ADS_1