Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
delapanpuluhempat


__ADS_3

selang lima menit kemudian taksi online yang dipesan Naura pun sudah sampai didepan kantor polisi, keempatnya segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan pekarangan kantor polisi dengan membawa segala pikirannya masong-masing.


"Nana, kamu ikut kerumah mbak lagi? tanya Rita tang duduk disamping Naura dan juga Nana, sedangkan Bu RT duduk dikursi depan bersebelahan dengan supir.


"hehe iyaa mbak, gapapa kan?" tanya Nana memasang senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Naura yang mendengarnya pun hanya terdiam, ia sibuk dengan pikiran dan juga kecemasannya mendengar apa yg akan terjadi dirumah sesuai dengan apa yg dikatakan oleh Nana.


"waahh bagus kalo gitu, tapi tadi kenapa kamu pamitan segala?" tanya rita dengan wajah heran.


"yaa atuh kenapa emangnya? ngga boleh gitu kalo berubah pikiran?" tanya Nana dengan mencebikkan bibir.


"yaa gapapa dong, mbak kan malah senang" Jawa Rita disertai senyum mengembang membuat Nana melebarkan senyum dibibirnya.


"Naura kenapa nih diem aja, udah kaya Bu RT aja dari tadi diem kaya banyak yang dipikirin. kalo bu RT wajar karna banyak warganya jadi banyak mikir, lah kamu bengong mikirin apaan nau?" lanjut Rita membuat Nana dan juga Bu RT menahan tawa melihat ekspresi Naura setelah Rita menyelesaikan perkataannya.


"iihh mbak Rita ini, emang salah kalo aku diem aja? masa aku harus teriak-teriak sih biar ngga sepi" jawab Naura memasang wajah kesal.


"yaa ngga gitu juga nau, lagian emang sepi loh kalo ngga ada suara kamu. bener kan na?" tanya Rita yang langsung diangguki oleh Nana yg juga heran dengan Naura, karna Nana merasa setelah mendengar penjelasannya tadi sikap Naura menjadi lebih pendiam.


"mbak ini kepo banget, urusan anak muda tau" jawab Naura langsung mengalihkan pandangan menatap jendela pintu mobil.


ketiganya pun dibuat tertawa melihat tingkah kekanakan Naura, begitupun supir taksi online yg juga menahan tawa dengan sikap Naura. setelahnya tak ada lagi kicauan pertanyaan yang keluar dari mulut Rita, ia sibuk mengajak bicara keena yang sudah membuka mata selama diperjalanan menuju rumah.


"yaampun, mama sampai lupa bilang sama ayah kamu nak kalo harus kekantor polisi" gumam Rita yang terdengar sampai ketelinga Bu RT.


"nanti kan bisa cerita sewaktu mas Bayu dirumah mbak, kasian kalo lagi kerja diberi kabar seperti ini nanti malah panik mas bayunya" jawab Bu RT. Rita pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Bu RT, ia pun meruh kembali handphone yang sudah digenggamnya kedalam tas kecil yang ia bawa. menelpon Bayu untuk mengabarkan keadaan tadi ia urungkan, ia lebih memilih menceritakannya nanti setelah Bayu sampai dirumah.


"loh-loh itu ada apa didepan rumah mbak Rita??" kata Bu RT terkaget, membuat Naura dan juga Rita Rita menoleh kearah yg ditunjuk Bu RT, diikuti oleh Nana. kebetulan mereka telah sampai dihalaman tak jauh dari rumah Rita setelah tiga puluh menit melakukan perjalanan dari kantor polisi.


"masa dirumah saya si Bu RT? bukan kali ah" jawab Rita dengan dahi menyerit.


"bener itu dirumah mbak Rita, coba berhenti sebentar pak kita lihat apa yg terjadi sebenarnya dari sini" kata Bu RT membuat pak supir seketika memberhentikan mobilnya dihalaman bagian tiga rumah dari rumah Rita.


"iyaa mbak itu bener dihalaman rumah kita, ada apa ya? na, ada apa na?" tanya Naura dengan wajah penasaran menatap sang sahabat yg tersenyum tipis.

__ADS_1


"kita turun aja kalo mau tau, yuk" jawab Nana membuat Naura dan Rita merasa heran dengan perkataannya.


"yang bener kamu na? apa ngga bahaya buat mbak Rita dan ponakan aku?" jawab Naura dengan kekhawatiran yg tertuju pada kakak ipar dan juga ponakannya.


"gapapa, santai aja nau. udah ketangkep kok, tuh lihat disana" jawab Nana menunjuk seseorang yang sudah terikat dengan dikelilingi oleh beberapa bapak-bapak dan juga satu satpam komplek.


"ini pak ongkosnya, terimakasih ya" kata Rita memberikan uang senominal yang tertera pada aplikasi.


"sama-saka mbak" jawab si sopir dengan senyum.


keempat orang tersebut pun turun dan melangkah menghampiri segerombolan orang yang berada didepan rumah Rita, terlihat Salma dan dini yang sudah menunggu kedatangan keempat orang tersebut sambil duduk bersedekap dada melihat pemandangan didepannya.


"lama banget si na, lihat tuh udah bonyok begitu orangnya juga" kata Salma membuat Nana hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"kami kan naik mobil, kamu kan naik motor jadi cepet. apalagi kami sempet agak lama nunggu taksinya, tapi berhasil kan?" tanya Nana pada Salma dan dini yang langsung menganggukan kepala.


"iyaa dong, siapa dulu Salma/dini" jawab keduanya serempak kemudian menyatukan telapak tangan mereka.


"ada apa ini bapak-bapak dan pak satpam?" tanya Bu RT dengan wajah penasaran.


"terus ini kenapa orangnya sampe babak belur begini?" tanya Bu RT membuat semua orang terdiam.


"maaf Bu RT, kami semua kepancing emosi" jawab pak Rio yang juga berada disana.


"kalian ini, malah main hakim sendiri. kalian udah kasih tau pak RT belum?" tanya Bu RT disambut gelengan kepala oleh semua bapak-bapak tersebut.


Bu RT pun segera menelpon sang suami yang kebetulan memang berada dirumah setelah tadi pagi pergi kekantor kekelurahan. tak berselang lama setelah ditelpon oleh istrinya, pak RT pun datang dengan menggunakan sepeda motor miliknya.


"ada apa ini bapak-bapak?" tanya pak RT setelah berhadapan dengan pak satpam dan juga beberapa bapak-bapak dihalaman rumah Rita.


"ini pak RT, orang yang selama ini kita cari. sudah ketangkep berkat adanya kedua gadis muda ini" jawab pak Rio membuat pak RT menatap Salma dan dini secara bergantian.


pak RT pun mendekati orang yang dicurigai, ia pun seperti mengingat-ingat wajah orang tersebut yang terasa familiar dimatanya.

__ADS_1


"sebentar, sepertinya saya kenal sama kamu?" kata pak RT membuat orang tersebut membuang muka tak berani menatap pak RT.


"masa sih pak, coba bapak lihat lagi. siapa tau salah, ngga mungkin pak RT kenal penjahat seperti dia" jawab Naura yang sedari tadi diam.


"dia, Roni pemilik rumah ini sebelumnya" jawab Nana membuat semua orang tercengang.


"aahh, iyaa bener ia Roni. sudah lama dia ngga kewilayah ini setelah rumah ini dijual oleh pemilik baru sekitar empat atau tiga tahun yang lalu" jawab pak RT membuat bapak-bapak yang berada disana membelalakan mata.


"pak Roni? suami Bu Indri yang meninggal setelah melahirkan anaknya itu? yg anaknya juga meninggal setelah beberapa jam dilahirkan?" tanya pak Rio dengan dahi menyerit.


"iya pak, bener yg itu" jawab pak RT dengan yakin.


"ngga nyangka, saya kira pak Roni ini kalem baik dan ramah. ternyata begini pekerjaan sebenarnya" kata salah satu bapak-bapak disebelah pak Rio.


mereka sangat terkejut dengan salah satu orang mereka kenal ternyata menjadi biang rusuh ditempatnya sendiri,orang yang selama ini dikenal dengan keramahannya sebagai warga ternyata seorang penjahat berdarah dingin.


Rita dan Naura pun begitu shok dengan apa yang mereka dengar, ntah apa hubungan orang itu dengan Maura. tak terlintas dalam benak Rita jika Maura mampu membahayakan nyawanya dan juga anaknya.


"bagaimana ini mbak Rita, sebaiknya kita apakah orang ini?" tanya pak RT membuyarkan lamunan Rita.


"saya terserah pak RT bagaimana baiknya, tapi sebaiknya mending kita jebloskan saja kejeruji besi pak RT" jawab Rita membuat pak RT menganggukan kepala.


"iyaa bener tuh pak RT, saya setuju dengan apa yang dikatakan mbak Rita" jawab pak Rio mewakili para bapak-bapak yg lain.


"percuma kalian menjebloskan saya ke polisi, jika kalian belom bisa menangkap dalangnya. kalian harus tau ngga hanya saya saja, bukan hanya saya!! hahahaha" kata pak Roni dengan suara menggelegar.


"maksud kamu apa hah?!" tanya pak Rio yg sudah siap menambahkan pukulan pada wajah pak Roni, untung cepat dicegah oleh pak RT agar warga tidak bertindak main hakim sendiri seperti apa yg sudah terjadi.


pak Roni pun kembali diam, ia kembali menutup mulut setelah memberikan informasi yang sebenernya sangat menguntungkan pihak Rita.


"sudah pak RT, orang seperti dia ngga mungkin kita paksa menjawab pun ngga akan pasti dijawab" kata Rita dengan pelan.


"sebaiknya lekas bawa ke kantor polisi pak RT, walaupun dalangnya belum ketangkep setidaknya salah satu orangnya sudah berada dibalik jeruji besi sebagai bukti" kata Naura membuat pak RT menganggukan kepala.

__ADS_1


pak RT dibantu oleh satpam dan juga beberapa warga itu pun membawa pak Roni menggunakan mobil pak Rio yang rumahnya tak jauh dari rumah Rita, setelah mereka berada jauh dari halaman rumah Rita mereka semua pun masuk kedalamnya begitupun dengan Salma dan juga dini yang mengikutinya dibelakang.


__ADS_2