
"silahkan" kata Bayu membawa sepiring jagung juga beberapa tusuk aneka sosis yang sudah dibakar olehnya, ia pun duduk bergabung dengan ibu dan juga sang istri yang masih sibuk bermain dengan sang anak.
"makasih mas" jawab Rita membuat Bayu tersenyum, ibu Bayu pun mulai mengambil jagung bakar yang sedari tadi sudah membuatnya meneteskan air liur.
"eemm enak banget bay, bumbunya pas" kata ibu Bayu dengan mulut penuh jagung yang ia kunyah.
"iyaa dong Bu, Rita yg racik bumbunya" jawab Bayu tersenyum pada sang istri yang wajahnya susah memerah karna digoda oleh suaminya.
"apaan si mas" jawab Rita sambil tersipu.
"ohya mana dagingnya katanya tdi kamu mau panggangin daging juga untuk kami" kata ibu Bayu membuat Bayu mendongakkan kepala menatap sang ibu yang masih sibuk dengan jagung bakarnya.
"yaampun Bu, ini aja belum habis loh baru ibu makan satu biji udah nanyain dagingnya. sabar Bu, daging kan butuh waktu sedikit lama biar matangnya pas" jawab Bayu membuat sang ibu menganggukan kepala.
"mas" teriak Naura dari tempat pemanggangan yang berada tak jauh dari tempat Bayu berkumpul dengan istri dan juga ibunya.
Bayu pun menoleh pada sang adik yang melambaikan tangan padanya, ia meninggalkan sang istri untuk memenuhi panggilan adik nya tersebut.
"ada apa si nau?" tanya Bayu setelah sampai tepat didepan sang adik.
"lirik sebelah kanan kamu mas! tepat depan rumah yang ada pohon besar itu" jawab Naura dengan berbisik. Bayu pun mengikuti apa yang adiknya katakan, ia pun berusaha tak terkejut melihat sesosok orang yang pakaian serba hitam dibawah pohon besar tersebut.
"sepertinya dia yang selama ini mengintai rumah kita mas" lanjut Naura memberitahukan pada Bayu, Bayu pun menganggukan kepala membenarkan perkataan Naura.
__ADS_1
"iyaaa, sudah kamu tenang aja. mungkin dia hanya melihat situasi, toh kita kan rame-rame disini. lagi pula sebentar lagi pasti bapak-bapak akan melakukan siskamling kan" jawab Bayu membuat Naura pun menganggukan kepala.
"sudah, jangan buat mbakmu khawatir. terlebih disini ada ibu dan Maura, kita berusaha sebaik mungkin menjaga mbak mu juga ponakanmu itu" jawab Bayu, Naura pun menganggukan kepala mengerti dengan apa yang dikatakan kakaknya itu.
"lanjutin bakar daging, mbak mu sama ibu udah lapar itu. tadi sudah menanyakan dagingnya" kata Bayu menyuruh Naura.
"iya-iyaa sebentar lagi jagung ini matang kok, nanti gantian aku bakar daging. tapi mas harus tetap lihat kematangannya"jawab Naura, Bayu pun segera meninggalkan Naura kembali menemui istri dan juga ibu nya.
"ada apa mas?" tanya Rita yang melihat sang suami kembali duduk disampingnya dengan wajah menekuk sempurna.
"gapapa sayang, dia cuma menanyakan tingkat kematangan kalo mau memanggang daging" jawab Bayu sedikit berbohong pada Rita, agar sang istri tidak merasa kekhawatiran yang ia rasakan.
"oohh, oh iya mas. kamu malam ini ikut siskamling lagi kan?" tanya Rita, Bayu pun menganggukan kepala sambil terus menggoda sang anak yang tersenyum padanya.
"iyaaa, kenapa?" tanya Bayu menjawab pertanyaan Rita.
"iyaa kan masih nanti sayang jam sembilan atau setengah sepuluh malam, sedangkan sekarang jam delapan aja masih kurang" jawab Bayu dengan lancar, Rita pun hanya menganggukan kepala sebagai respon. tak lama terdengar langkah kaki keluar rumah dari dalam, terlihat Maura datang dengan menggunakan pakaian tidurnya duduk disebelah sang ibu yang masih sibuk mengunyah jagung bakar ditangannya.
Maura pun ikut mengambil sebuah jagung yang sudah dibakar itu tanpa meminta izin pada sang empunya, membuat Rita dan Bayu saling berpandangan karna apanyang dilakukan Maura.
Naura pun melangkah kan kaki menemui sang kakak dengan membawa beberapa potong daging yang sudah dipanganggang, mengeluarkan harum yang semerbak memenuhi rongga hidung orang-orang yang berada disekitarnya.
"ini mas, mbak makan duluan aja aku masih panggang buat yang lain juga" kata Naura sambil melirik Maura yang menatap potongan daging ditangan Naura.
__ADS_1
"iyaa, taruh aja disitu dulu mas mau ambilkan piring untuk semuanya didalam, nanti kita makan sama-sama" jawab Bayu langsung bangkit, tetapi langkahnya terhenti dengan perkataan Salma dan juga dini.
"mas, mas biar kita aja yang ambil dibelakang, mas Bayu disini aja. sekalian kami mau kekamar mandi kok" kata Salma membuat dini menganggukan kepala.
"oohh yasudah kalo gitu, ambil yang cukup untuk kita semua ya. biar kita makan bareng-bareng disini" jawab Bayu kembali duduk tak melanjutkan langkahnya untuk mengambil peralatan makan.
"iyaa tenang aja mas" jawab dini juga salma berbarengan. kemudian, keduanya pun melangkah kan kaki memasuki rumah diringi tatapan tajam dari Maura yang kesal dengan tingkah keduanya membuat apa yang sudah Maura rencanakan pun gagal dengan adanya Bayu dihadapan mereka.
tentu saja, semua ini telah diketahui oleh ketiga sahabat Naura itu. makanya Salma dan dini berusaha tidak menjauhkan Bayu dari keluarganya, berada tetap disamping istri dan anaknya agar tidak ada terjadi apapun. apalagi setelah melihat Maura yang keluar dari kamarnya, membuat Nana semakin yakin jika akan sesuatu yang akan terjadi dengan istri dan anak dari Bayu. maka dari itu, Nana meminta Salma dan dini menggantikan Bayu mengambil peralatan makan dengan berbisik dengan ketiganya. tentu saja mereka setuju, toh memang itu tujuan mereka menginap dirumah ini.
tanpa menghiraukan Maura yang terus menatap keduanya, Salma dan juga dini pun melangkah kan kaki memasuki rumah tanpa sungkan. toh memang pemiliknya mengizinkan.
"siapa sih mereka itu, seenaknya aja keluar masuk kedalam rumah orang. ngga ada sopan santunnya" geruta Maura membuat keempat orang didepannya mendelik menatap tajam Maura.
"ngga sadar diri kamu? emang kamu itu siapa disini? kamu bukan siapa-siapa!!" jawab Naura membuat Maura menatap tajam adik angkatnya itu dengan wajah memerah menahan amarah.
"apa maksudmu? jelas saja, karena aku bagian dari keluarga ini. sedangkan mereka siapa? hanya orang luar Naura, kamu ga sadar. hah!!" jawab Maura dengan sinis menatap sang adik yang memutar bola mata jengah.
"lebih baik orang luar seperti sodara, dibanding sodara yang seperti musuh" jawab Naura menohok, setelahnya Naura pun meninggalkan ketiga orang tersebut dengan perasan dongkol.
"dasar, nenek lampir nyebelin. dia pikir dia siapa" gerutu Naura yang didengar oleh Nana yang langsung menyerit heran, karna memang Nana tak mendengar perdebatan antara Naura dan juga Maura. Nana sibuk dengan urusan memanggang yang diserahkan kepadanya.
"sudah jangan menggerutu terus, nih panggangan masih banyak" kata Nana membuat Naura mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"nenek sihir itu bikin ulah Mulu, kalo ngga ngajakin debat pasti ngga enak kali ya" jawab Naura.
Nana pun hanya menggelengkan kepala tanpa berkomentar dengan gerutuan yang terus dikeluarkan oleh Naura, ia pun sibu dengan urusan memanggangnya agar cepat matang. karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi mencium harum daging yang sudah matang buatan Naura.