Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
sembilanpuluhempat


__ADS_3

POV Bayu


"emmm totalnya punya aku, Naura juga keena seratus empat puluh jutaan mas kurang lebih" jawab istriku pada sambungan telepon ketika meminta izin membeli perhiasan untuknya, anakku dan juga adikku menggunakan black card yang aku berikan pada kedua perempuan yang aku sayangi tersebut.


yang membuatku tak percaya adalah, dengan santainya istriku berkata bahwa black card yang aku berikan padanya patah makanya ia memakai black card Naura untuk membeli barang yang hari ini ia beli. aku tak masalah, hanya heran sebegitu lugu kah istriku itu sampai black card hilang. jujur aku sampai tak bisa berkata-kata, aku hanya memijat pelipis dan menggelengkan kepala mendengar setiap perkataan istriku itu.


dan saat ini ia meminta aku mengizinkannya untuk membeli perhiasan dengan nominal yang lumayan besar, aku antara senang dan juga sedih. dari dulu aku selalu meminta ia untuk memberi barang yang ia mau, tapi kenapa baru sekarang bahkan harus izin denganku segala yatuhaaann. istriku ini memang langka.


"baiklah, belilah apa yang kamu mau sayang" jawabku pada akhirnya.


"makasih ya mas, aku matiin dulu telponnya" jawabnya dengan suara riang.


"iyaa sayang, assalamualaikum" jawabku mengakhiri telepon setelah ku dengar jawaban salam dari mulutnya.


aku pun menggelengkan kepala sambil tertawa kecil mengingat tingkah istriku saat ini, terdengar suara ketukan pintu ketika aku masih senyum sendiri didalam ruangan ku.


"woy bro, kopi yuk?" ajak Andi sabahatku menepuk pundak.


"duh kerjaan aku masih banyak nih, nanti aja lah. bentar lagi juga masuk jam makan siang" jawabku melanjutkan kerjaan yang tertunda karna menerima telepon dari istriku tadi.


"yasudahlah kalo gitu, lembur kamu?" tanyanya dengan dahi menyerit.


"iyaalah mau ngga mau, ngga mungkin aku kerjain semua kerjaan ini dirumah" jawabku memutar bola mata malas, Andi pun hanya tersenyum kecil mendengar perkataanku.


"bisa ajalah, kan bisa kamu kerjakan diruang tamu atau ruang keluarga. ini juga ngga deadline kan? santai ajalah" kata Andi membuatku menggelengkan kepala.


"aku tuh kalo udah sampe rumah pengennya main sama anakku ndi, masa dirumah aku juga kerja kaya gini" jawabku membuat Andi menganggukan kepala.


"lagian kamu kenapa si ngga ambil alih aja perusahaan keluarga mu itu, kamu kelola aja sendiri bay jangan terlalu percaya sama orang lain. ya meskipun memang sudah sangat lama mengabdi pada keluarga kamu si, tetap aja ia hanya orang lain dan lagipula pak Handoko itu udah terlalu tua untuk mengurusi perusahaanmu. sepertinya juga kamu udah cukup lah mencari pengalaman di perusahaan ini" katanya dengan lancar.


"gimana ya ndi, memang sudah beberapa kali om Handoko memintaku untuk menggantikannya tapi aku belum percaya diri untuk menjalani perusahaan itu sendiri ndi" jawab ku membuat Andi memutar bola mata malas.


"bay, bay seharusnya kamu udah siap dengan resiko itu. kamu kan anak lelaki satu-satu nya, pewaris dari seluruh aset ayah kamu" kata Andi dengan santai.


"ntah lah ndi, aku merasa belum siap aja" jawabku yang mulai mengerjakan pekerjaanku agar cepat selesai.


"pikirkan lagi bay, aku balik keruanganku dulu" katanya membuatku menganggukan kepala. setelah Andi keluar dari ruang kerjaku, aku pun memikirkan apa yang dikatakan olehnya.


"bener juga yang Andi bilang, udah cukup lah sepuluh tahun ini aku bekerja dari perusahaan satu keperusahaan lain untuk mencari pengalaman. udah saat aku aku mengambil alih perusahaan almarhum ayah, lagian kasian pak Handoko diusia sekarang memang lebih baik ia bermain bersama cucu nya hmmm. lebih baik aku hubungi om Handoko dulu deh" gumamku membuka handpone yang berada disampingku. ku cari kontak om Handoko dan ku dial nomernya, setelah dua kali berdering terdengar suara om Handoko menjawab teleponku.

__ADS_1


"assalamualaikum bayu, Alhamdulillah kamu menghubungi om. bagaimana keputusan kamu? ayolaaahh, om sudah sangat tua untuk mengurusi perusahan besar ini bay" katanya tanpa henti membuatku menggaruk kepala yang tak gatal.


"waalaikumsalam om, pelan-pelan om nanya nya satu-satu dong om" jawabku membuatnya tertawa.


"baiklah sepertinya kita harus bertemu, kapan kamu ada waktu?" tanya nya pada ku. aku pun mengajaknya makan siang bersama siang ini, sekaligus aku akan mengajak Andi bertemu om Handoko. rencananya aku ingin menjadikan Andi sebagai asisten pribadiku.


"siang ini boleh om sekalian kita makan siang bareng, kayanya udah lama kita ngga makan siang bareng. iyakan?" jawabku dengan yakin.


"boleh, boleh nanti kamu kirim aja alamatnya ya" jawabnya dengan santai.


"okeedeh om, aku tutup dulu telponnya ya om. masih banyak kerjaan aku" kataku mengakhiri panggilan telpon.


"baiklah kalo gitu, sampai ketemu nanti. assalamualaikum" jawabnya menutup telepon.


"waalaikumsalam" jawabku sambil menaruh handphone ku kembali ke tempatnya.


aku pun bergegas mengerjakan beberapa dokumen mengejar hingga waktu makan siang tiba, aku fokuskan pada lembaran dokumen yang ada di tanganku.


tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit Andi pun kembali menghampiriku yang masih fokus dengan laptop yang menyala dan dokem disampingnya.


"ayok bro makan siang dulu" ajaknya membuat ku mengalihkan pandangan menghadapnya.


"jam sebelas lima puluh, udah nanti aja itu diterusin. kita makan siang dulu" jawabnya dengan santai.


"yaudah yuk, kita makan didekat kantor ayah aja ya. aku mau sekalian ketemu om handoko, kamu ikut ya" ajakku pada Andi yang langsung menganggukan kepala.


"Alhamdulillah akhirnya kamu memikirkan ucapanku, selamat bro. calon CEO nih" katanya menggodaku.


"apaan sih kamu, udah yuk nanti keburu abis jam istirahat" ajakku meluangkan kaki keluar dari ruang kerja.


lokasi kantor ayah memang tak jauh dari kantor tempat ku bekerja, hanya dengan mengendari motor selama lima belas menit kami pun sampai didepan restoran depan kantor ayah. aku pun segera menghubungi om Handoko agar menyusul ku direstoran ini.


"aku telpon om Handoko dulu, kamu pesan aja duluan" kataku pada Andi yang menganggukan kepala.


"assalamualaikum om, aku udah direstoran depan kantor. om bisa kesini?" kataku setelah panggilan diangkat oleh om handoko.


"bisa, bisa. lima menit lagi om sampai sana, kamu tunggu ya" jawabnya segera mematikan telpon. aku pun menghampiri Andi yang terlihat sedang memesan makanan pada pelayan, aku duduk disebelahnya. ia pun menatapku penuh tanya.


"kamu pesen sekalian ga?" tanyanya padaku.

__ADS_1


"boleh deh, mbak saya pesan chicken steak satu sama lemontea ya" kataku pada pelayan tersebut. setelah menu dicatat pelan tersebut pun pamit undur diri. tak lama om Handoko pun datang dan menghampiriku yang duduk bersama Andi dikursi paling pojok.


"hai, assalamualaikum. apa kabar bay?" tanyanya dengan senyum sumringah.


"kabar baik om, kenalin ini Andi sahabatku dikantor" kataku memperkenalkan Andi pada om Handoko, Andi pun mengulurkan tangan pada om Handoko yang dibalas uluran tangan olehnya.


"saya Handoko, yang pegang perusahan ayah Bayu" katanya sambil tersenyum, Andi pun menganggukan kepala dan tersenyum.


"bagaimana bay? apa kamu udah punya keputusan?" tanya om Handoko langsung to the point.


"emm saya bingung om" jawab ku dengan ragu.


"ragu kenapa? om yakin kamu bisa menjalankan amanat ayah kamu ini" jawabnya.


"duh gimana ya, mending om pesen minum dulu deh. aku panggil waiters dulu" kataku memanggil seorang waiters untuk om Handoko.


"ada yang bisa saya bantu pak?" tanya wakters lelaki tersebut.


"saya mau pesan jus jeruk sama pasta carbonara ya mbak" jawab om Handoko yang diangguki oleh waiters tersebut


"baik pak tunggu sebentar ya" jawabnya setelah mencatat pesanan om Handoko. pelan tersebut pun pergi dari hadapan kami bertiga, kami pun meneruskan percakapan kami.


"ayolah bay, om sudah tua loh ini. bener ga nak Andi?" kata om Handoko mencari pembelaan dari Andi yang hanya tersenyum sedikit.


"baiklah om, setelah saya pikir-pikir mungkin sudah saatnya saya ambil alih perusahaan itu. tapi saya harap om tetap pantau saya, arahkan saya dari jauh ya om" jawabku pada akhirnya membuat om Handoko tersenyum dengan sumringah.


"Alhamdulillah hirabbil alamaiinn, akhirnyaaaa yaallaaahh kau kabulkan doa orangtua ini" katanya menadahkan tangan pada sang pencipta membuat ku mengerucutkan bibi mendengar perkataan om Handoko.


"kenapa ngga dari dulu aja bay kamu ambil alih, kenapa harus kemana-mana dulu. jadinya kan om enak bisa pensiun" lanjut om handoko sembari terkekeh.


"iyaa maaf deh om, Bayu masih belum sanggup memegang tanggung jawab itu" jawabku dengan sedikit ragu dengan keputusan yang aku buat.


"om tau, tapi biar gimana pun perusahan itu milik ayahmu. sebagai anak lelaki satu-satunya kamu yang berhak mengelola perusahaan itu, om bersyukur akhirnya kamu memberikan keputusan ini. terimakasih Bayu" katanya dengan wajah berbinar.


"iyaa om sama-sama, maafkan Bayu sudah banyak merepotkan om selama ini. dan makasih juga om sudah banyak membantu Bayu selama ini ya om" jawabku membuat om Handoko tertawa dan menganggukan kepala.


obrolan kami pun terputus karna pesanan kami datang satu persatu, setelah semua terhidang kami pun makan siang bersama tanpa ada satu pun yang berbicara. setelah selesai kami langsung melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.


"ini Andi rencananya akan aku jadikan asisten pribadiku om, bagaimana menurut om?" tanyaku pada om Handoko. Andi pun membelalakan mata mendengar perkataanku.

__ADS_1


"boleh, itu jauh lebih baik karna kalian berteman dekat. kalo gitu nanti kita bicara lagi, om masih ada meeting siang ini. om akan siapkan semuanya untuk acara penyerahan jabatan untukmu bay" kata om Handoko membuatku menganggukan kepala. ia pun meninggalkan kami berdua, Andi sudah ingin bicara namun aku keburu mengajaknya untuk kembali kekantor.


__ADS_2