
setelah hampir empat puluh lima menit menunggu, ketiganya pun kini berada dalam satu meja makan yang sama. menikmati masakan Padang yang tadi mereka pesan, dengan menyantap pesanannya masing-masing ketiganya hening tanpa ada yang keluar sepatah katapun dari mereka.
"Alhamdulillah kenyangnya" kata Naura mengelus perutnya yang kekenyangan, Rita dan Bayu pun saling pandang melihat kelakuan konyol Naura. setelahnya mereka berdua pun tertawa, membuat Naura menyeritkan kening.
"kenapa? kok mas Bayu sama mbak Rita ketawa, ada yang lucu kah?" tanyanya dengan bingung.
"lucu tingkahmu itu loh nau, udah gede masih kaya anak kecil aja" jawab Bayu membuat Naura menggaruk tengkuk.
"yaahh cuma begitu doang aja juga mas, lagian emang perut Naura itu kenyang banget. kayanya Naura mau ketoilet deh ini" jawab Naura sambil memegang perutnya, Bayu dan Rita pun membelalakan mata mendengar perkataan Naura.
"tuh kan, dasar jorok kamu itu ih" jawab Rita membuat Naura nyengir tak jelas.
"udah sana kalo mau ketoiletnya, nanti keburu keluar lagi disini" kata Bayu mengusir Naura yang mengerucutkan bibirnya.
Naura pun meninggalkan meja makan dengan wajah cemberut, Rita dan Bayu pun terkekeh melihat tingkahnya.
"dasar anak itu bener-bener ga pernah berubah" kata Bayu menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.
terdengar suara tangis dari keena yang berada didalam kamar, Rita pun segera menghampiri sang anak yang masih berada didalam boks bayinya.
"duh anak mama kenapa nangis sayang" kata Rita mengajak berbicara sang anak yang masih menangis.
Rita pun menggendong keena dan membawa nya kehadapan Bayu yang sudah berpindah ke ruang tamu dan menonton tv disana, begitu melihat sang anak Bayu pun mengambil alih dari gendongan Rita bocah yang masih dalam isakan tersebut.
dalam gendongan Bayu, keena pun diam dan merasa nyaman hingga ia kembali tidur dalam pelukan sang ayah.
"yaampun langsung tidur lagi kamu gendong mas" kata Rita membuat Bayu mengembangkan senyum.
"berarti dia nyaman sama aku sayang" jawab Bayu dengan pede.
"jangan kepedean mas, bisa aja dia pingsan nyium bau badan kamu" kata Naura yang baru saja tiba keruang tamu setelah menghabiskan waktu beberapa menitnya didalam kamar mandi.
"iissshh ngga ya sayang ya, emang ayah kaya Tante kamu itu yang jorok ya nak" kata Bayu membuat Naura mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"sudah lah, sini mas biar aku taruh lagi keena kedalam boksnya. lagian aku juga udah ngantuk nih, udah hampir jam delapan. lelah sekali rasanya hari ini" kata Rita merenggangkan otot-otot tangannya.
"yaudah, yuk masuk kamar. mas juga lelah hari ini, kamu juga nau masuk kamar kamu jangan nonton tv terus" kata Bayu pada Naura yang masih duduk diruang tamu.
"iyaa nanti juga Naura masuk kamar mas, lagian Naura lagi ga mood nonton tv. nanti Naura mau nonton Drakor dikamar" jawab Naura sambil mengotak Atik handphone miliknya.
"yaudah kalo gitu mas sama mbak Rita masuk dulu kedalam kamar ya" kata Bayu sambil meninggalkan Naura yang hanya menganggukan kepala.
sementara Naura yang ditinggal kedua kakaknya pun memasuki kamar setelah mematikan saluran televisi yang semua ditonton oleh Bayu.
"kebiasaan mas Bayu kalo abis nonton tv ngga dimatiin lagi, gimana sih" gumamnya dengan nada kesal.
setelah itu Naura pun kembali kedalam kamarnya dan melanjutkan menonton Drakor kesukaannya dengan menggunakan laptop kesayangan miliknya.
sedangkan dikamar milik sepasang sejoli yang baru saja dikarunia ini anak itu pun masih membahas seputar permintaan sang istri yang sangat berat untuk dijawab oleh sang suami.
"kenapa diem aja mas?" tanya Rita membuat Bayu menggelengkan kepala.
"sebenernya, aku pun gamau mas meninggalkan kamu. tapi aku juga gamau buat anak kita celaka, kamu tau sendiri kan mas Maura adalah dalang dari semua yang terjadi diantara kita. meskipun kita ngga punya bukti apapun, bahkan saksi yang sudah kita masukin kedalam penjara aja ngga cukup mas untuk menangkap Maura. karna apa? kita ga punya bukti yang jelas mas, yang menunjukan bahwa Maura adalah dalangnya. apalagi, Maura juga tiba-tiba menghilang kan mas? aku takut mas, aku takut Maura semakin bertingkah berlebihan dengan keluarga kita" kata Rita dengan Isakan.
"mas ngerti sayang, tapi bukannya kita udah janji buat ngejalanin ini semua sama-sama. bukannya kamu juga udah setuju buat terus dampingin mas dalam keadaan apapun, kenapa sekarang kamu menyerah sayang?" jawab Bayu membuat Rita menundukkan pandangannya dan terdengar semakin kencang isakan yang keluar dari mulut Rita.
"maafin aku mas, memang seharusnya itu yang aku lakukan. tapi kali ini beda mas, kali ini ada keena anak kita yang ahrus kita jaga mas. kamu ga bisa berada diantara kami selama dua puluh empat jam, dan kami pun dirumah ga bisa selalu meminta pertolongan pada tetangga untuk urusan pribadi kita. mengertilah mas" jawab Rita membuat Bayu terdiam. keduanya pun sibuk dengan pikirannya masing-masing, sehingga Rita berkata yang membuat Bayu berfikir cukup lama.
"belajar dari kejadian tadi pagi mas aku, betapa aku terpojokkan ya diantara banyaknya ibu-ibu yang komplen karna hal sepele seperti itu. iya mungkin terdengar sepele, tapi ternyata itu adalah bumerang mas. bahkan Bu RT pun ngga bisa ngebantu aku bicara mas, kalah dengan suara mereka yang sudah memandang ku jelek sesuai dengan pikiran mereka" kata Rita dengan sesenggukan menjawab perkataan sang suami.
"kenapa harus memikirkan perkataan orang lain sayang, kan kita menjalani lagipula semua ini adalah kenyataan yang ngga bisa kita elakkab rit. kamu harus tau, Allah memberikan ujian pada umatnya agar umatnya bisa naik kelas ketingkat yang lebih tinggi. kita serahkan semuanya pada Allah sayang" jawab Bayu dengan lembut memberikan pengertian pada Rita yang emosinya sedang tidak stabil.
"mas,andai kamu yang berada dirumah tadi pagi. mungkin kamu ngga akan bisa berkata seperti ini, kamu berkata demikian karna kamu ngga ngerasain apa yang aku rasakan sebagai seorang ibu yang nyawa anaknya sedang dalam keadaan terancam" kata Rita membalikkan tubuhnya menunggu sang suami yang tak bisa berkata -kata mendengar perkataan Rita.
Bayu pun terdiam, menurut nya percuma jika terus melawan sang istri yang dalam kondisi emosi tidak stabil. salah bicara sedikit akan mengangakibatkan kerusakan dalam rumah tangganya, akhirnya bayu pun memilih memeluk sang istri dari belakang dan mendekapnya dengan erat hingga ia tertidur. sedangkan sang istri sudah tidur karna lelah dengan tangisannya.
keesokan paginya semuanya diawali dengan hal yang biasa, namun ada hal yang tidak biasa dari Naura yang terlihat berseri-seri dan juga bangun lebih pagi dari biasanya.
__ADS_1
"tumben kamu udah bangun nau?" tanya Rita membuat Naura menyerit heran.
"kenapa emangnya? salah ya aku bangun jam segini?" jawab Naura mengerucutkan bibir membuat Naura terkekeh.
"gapapa sih, cuma mau ngapain gitu loh. mau bantu mbak masak buat sarapan? boleh, boleh dengan senang hati" jawab Rita membuat Naura menggelembungkan pipinya.
"nggalah siapa juga mau bantuin mbak, mana bisa aku terjun kedapur mbak. nanti yang ada bukannya kemakan malah semua orang keracunan makanan" jawab Naura dengan santai duduk didepan Rita yang terlihat sibuk mengupas bawang.
"namanya perempuan tuh harus pandai masak rit, harus pandai mengenyangkan perut suami. biar suami ngga cari rumah lain buat mengenyangkan perutnya" jawab Rita membuat Naura terkekeh.
"mbak ada ada aja sih, emangnya tu rumah bisa dimakan pake dicari lagi" jawab Naura dengan asal.
"rumahnya ngga bisa, tapi penghuninya kan bisa" jawab Rita membuat Naura terdiam.
"iyaa juga ya mbak, yaudah kalo gitu apa yang bisa Naura bantu mbak?" katanya dengan wajah heran.
"ini, mbak mau bikin apa sih? kok banyak banget bumbu kaya gini?" tanya Naura membuat Rita tersenyum pada adik iparnya tersebut.
"mbak mau bikin soto nau, terus sama goreng kerupuk. ini mbak lagi siapin bumbunya, kamu tolong rebusin air nya dulu ya nau. biar nanti airnya barengan matengnya sama selesainya bumbu ulek ini" jawab Rita membuat Naura menganggukan kepala.
"jadi, mbak mau bikin soto cuma pake bahan ulek doang?" tanya Naura penasaran.
"iyaalah nau, mau pake apa lagi? kenapa emangnya?" jawab Rita membuat Naura tertegun.
"emang ga capek itu tangan dipake buat ngulek terus? pasti tangan mbak udah kasar banget deh" jawab Naura yang memperhatikan telapak tangan sang kakak ipar.
"nggalah, aku udah biasa kok" jawab Rita dengan senyum mengembang.
"iyaa deh terserah mbak aja, lagian masa pagi-pagi sarapan soto si mbak. ngga ada porsi yang lebih sederhana lagi kah?" tanya Naura membuat Rita memutar bola mata malas
"ada sih itu roti, tapi mbaklagi pengen makan soto nau buat sarapan. makannya mbak bikin soto jam segini" jawab Rita membuat Naura menganggukan kepala.
"yaudah kalo gitu deng" jawab Naura singkat. kemudian Naura pun membantu Rita mencuci ayam dan memotong daun bawang yang akan dipergunakan, setelah selesai memotong daun bawang Naura pun pamit pada Rita ingin kembali kedalam kamar dan melakukan sholat subuh. Rita yang sudah melakukan sholat subuh lebih dulu pun mengizinkannya, Naura pun bergegas meninggalkan Rita berwudhu dan kembali kedalam kamar.
__ADS_1