Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
tujuhpuluhempat


__ADS_3

tak lama ibu Bayu pun kembali bersama dengan Maura yang menekuk wajahnya.


"ibu ngapain si ngajak aku keluar ih, aku udah ngantuk Bu" kata Maura dengan terpaksa duduk disebelah sang ibu yang dari tadi memaksanya untuk keluar kamar bergabung dengan yang lainnya.


"ibu ini, harusnya biarin aja dia didalam kalo emang gamau keluar. malah bagus kali Bu, ngapain pake diajakin makan segela. bikin mood ilang aja" jawab Naura.


"heh, siapa juga yang mau makan bareng sama Lo! jangan kepedean deh!!" jawab Maura membuat Naura memutar bola mata jengah.


"kalo Lo gamau ikut makan disini, kenapa Lo ikutin kemauan ibu buat keluar hah! harusnya Lo didalem aja ngga usah ikut keluar!!" jawab Naura dengan sinis.


"ini juga karna ibu yang maksa, kalo ngga juga gue malas!" jawab Maura dengan kesal.


"alah alasan Lo aja kan, bilang aja emang Lo pengen disini tapi dari tadi dianggurin. kasian banget si Lo!" jawab Naura dengan kekesalan yang masih belum reda.


"nau, sudah lanjutkan makan kamu" kata Rita menengahi pertengkaran antara adik kakak tersebut.


"males mbak, udah ga mood aku. ga nafsu makan, ngeliat muka dia yang super bikin enek!" jawab Naura membuat Maura memelototkan matanya.


"nau, jangan kurang ajar ya Lo! jangan mentang-mentang ini ditempat Lo, seenak Lo berbuat kaya gini ke gue!" kata Maura menahan amarah.


"kenapa? mau marah? apa mau manggil temen-temen preman Lo yang kampungan itu? iya! silahkan, gue ga takut!" jawab Naura menantang.


"sudah nau, Maura! gabaik bertengkar didepan makanan" kata Bayu tak dihiraukan oleh Naura dan Maura yang sibuk dengan adu mulutnya.


"ajarin adik kamu itu untuk lebih sopan sama kakak nya mas bayu, lihat mulutnya kaya ga pernah diajarin bicara yang sopan!" jawab Maura dengan menahan geram terhadap Naura.


"ngga usah sok ngajarin, kalo kenyataannya kelakuan Lo sendiri itu mines. heh ngaca deh, selama ini siapa yang bikin orang lain susah hah?" jawab Naura yang emosinya meluap.

__ADS_1


"nau, sudah" kata Rita dengan berbisik.


"biar dia tau diri mbak, selama ini kita udah diam aja. tapi apa kenyataannya, dia semakin menjadi-jadi. apa lagi yang dia mau?! ngga cukup dia buat kita keluar dari rumah kita sendiri, sehingga dia puas berada dirumah kita dan menguasai semuanya. emang dasar gatel, ngga bisa liat hidup orang lain tenang. orang kaya dia ini ngga bisa dikasih hati, dan lagi apa maksud dia ikut ibu menginap disini coba. sedangkan dia tau kalo kita sama sekali ngga Nerima dia, apa coba mbak?!" kata Naura mengeluarkan semua yang memang ia rasakan.


"Naura, sudah. mending kita masuk kedalam rumah aja yuk" ajak Salma dan Nana.


"ngga sal, na. lagi pula biar orang-orang disini tau, siapa itu Maura. ini nih bapak-bapak bapak yang selama ini bikin kegaduhan dirumah saya, ini dia orangnya" kata Naura dengan berteriak melihat bapak-bapak yang akan siskamling berada diluar pagar rumahnya. semua orang yang ada didalam pun terkejut karna melihat beberapa bapak-bapak yang berada didepan rumah Bayu.


"Naura, cukup nau. kasian nanti mbak Rita sama mas Bayu yang malu nau" bisik dini membuat Salma dan dini menganggukan kepala.


"apa, liat-liat? kenapa? kaget aku berani buka kelakuan kamu didepan semua orang yang ada disini, iya? mereka yang sudah kamu repotkan karna harus mengawasi ekstra keluarga mas Bayu, kamu tau karna apa? karna pengintai yang sudah kamu kirim kerumah ini!!" kata Naura membentak Maura yang sudah pucat pasi mendengar perkataan Naura.


"ap-apaan si Lo, jangan asal nuduh. gue bisa laporin Lo atas kasus pencemaran nama baik, Lo tau!" jawab Maura dengan gugup.


"ohya? silahkan, gue ngga takut tuh" jawab Naura dengan santai.


"kenapa pak RT? apa yang Naura lakuin ini salah? lihat pak RT, orangnya ada disini. seharusnya pak RT bawa orang ini kekantor polisi karna sudah menganggu ketentraman wilayah RT pak RT ini. kenapa pak RT jadi ikutan membela dia?" jawab Naura dengan nada kesal.


"nau, sudah nau" kata Rita mengelus punggung Naura menggunakan tangan kirinya karna tangan kanannya menggendong keena.


"mbak, semua ini karna ibu mbak. kenapa ibu harus membawa manusia ini kalo mau kerumah kita, kenapa Bu?!" kata Naura menyalahkan sang ibu yang sedari tadi terdiam, kini mendongakkan kepala menatap anak bungsunya.


"kenapa ibu selalu mengajaknya jika mau kesini? kenapa ibu ngga pernah memikirkan perasaan kami yang sudah khianati olehnya Bu? kenapa? sebenernya apa yang perempuan ini lakukan sama ibu sampai ibu menurut sekali mengikuti maunya?" tanya Naura menatap tajam yang ibu yang menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Bu-bukan seperti itu nau" jawab ibu Bayu dengan suara tertahan.


"lantas bagaimana Bu?" jawab Naura dengan kesalnya.

__ADS_1


"kalo bukan Maura yang mengantar ibu jika kesini, siapa lagi nau. tolong mengertilah" jawab ibu Bayu beralibi tak mampu menatap wajah sang anak yang memandang sinis wajah sang ibu.


"Bu, ibu. apa ibu ga ngerti juga sama apa yang pernah Naura bilang? Naura bilang, kalo ibu mau kesini ibu bisa minta jemput sama Naura Bu. kenapa ibu malah milih diantar sama Maura, seolah anak ibu cuma Maura doang?" jawab Naura sinis.


"semua omongan ibu itu hanya alibi untuk menutupi semua kelakuan Maura, iyakan Bu? Bu, ibu. suatu saat ibu baru akan sadar jika apa yang ibu miliki udah dirampas oleh anak yang ibu bela-belakan ini sehingga ibu lupa dengan anak kandung ibu sendiri" jawab Naura yang merasa muak dengan alasan sang ibu yang tak masuk akal menurutnya.


sepertinya kebencian Naura sama Maura sudah sangat-sangat dalam sehingga apa yang selama ini tahan mulai ia keluarkan dihadapan keluarga dan juga RT setempat, menurutnya inilah waktu yang pas membuka kedok Maura dihadapan semua orang yang ada disini.


"sudah stop, cukup Naura!!" bentak Bayu membuat Naura menatap wajah Bayu dengan bengis.


"cukup nau, jangan terus menyalahkan ibu. mas mohon, sudahi" kata Bayu dengan nada mulai melemah, Naura pun masuk kedalam rumah dengan wajah memerah dan amarah yang belum reda diikuti oleh ketiga temannya yang lain.


"maafkan Naura ya pak RT, pak Bagas dan bapak-bapak semua dia memang seperti itu jika bertemu dengan Maura ini. sekali lagi saya minta maaf ya" kata Bayu pada pak RT dan bapak-bapak yang lainnya.


"gapapa kok mas Bayu, lagian wajar namanya juga anak ABG pasti emosinya masih ngga stabil. ibu ngga apa-apa kan?" jawab pak RT melempar pertanyaan pada ibu yang sedari tadi terus menunduk.


"gapapa kok pak RT" jawab ibu Bayu.


"iyaa mas Bayu, gapapa kok. lagi pula wajar Naura marah sampai sepeti itu, kalopun kami yang diposisi ya juga akan melakukan hal yang sama. apalagi ini menyangkut soal nyawa orang, jujur kami pun setelah tau mbak ini yang namanya Maura rasanya kami gabisa terima dia diwilah kami" jawab salah satu bapak-bapak yang baru datang bersama bapak-bapak yang lain.


"kenapa begitu pak?" tanya pak RT dengan dahi menyerit.


"tentu saja kami ngga mau dengan adanya dia disini malah menjadi ancaman pak RT, bener kan bapak-bapak?" katanya menatap bergantian para bapak-bapak yang berada dibelakangnya.


"iyaa bener pak RT" jawab yang lainnya serentak.


pak RT, Bayu dan juga pak Bagas pun saling berpandangan. mereka jelas saja mengerti dengan apa yang dimaksud dengan para bapak-bapak tersebut, tapi jelas Bayu tak tega jika harus memulangkan Maura diwaktu malam sepeti ini. bukan karna merasa Maura benar, tapi hanya karna rasa kemanusiaan pada Maura. apalagi ia seorang gadis dan merupakan adiknya meskipun hanya adik angkat, dan lagi Maura pun kesini karna sang ibu yang mengajak otomatis jika Maura pulang ibunya pun pasti akan pulang juga kerumahnya. Bayu pun merasa bimbang sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2