Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
tigapuluhenam


__ADS_3

waktu menunjukan saatnya makan malam, semua orang sudah berada pada kursinyanya masing-masing. begitupun Rita yang kekeh ingin mengikuti malam malam bersama dengan keluarganya, mereka menyantap makanan yang ada diatas meja makan dengan tenang hanya dentingan sendok dan garpu yang berbunyi.


"aku sudah selesai, aku Ingin keruang kerja dulu" kata mas Bayu yang langsung berdiri kemudian meninggalkan meja makan. setelah mas Bayu pergi mulailah Maura dan Naura saling menatap dengan sinisnya, terlihat betul pancaran kemarahan Dimata keduanya.


"apa liat-liat" kata Naura memandang tajam Maura yang menghela nafasnya.


"mata-mataku, terserah aku mau lihat kemana. lagipula aku bukan lihat kamu, ngga usah keegeran" jawab Maura dengan nada kesal.


"terus kalo bukan lihat ke aku kesiapa, hah? mas Bayu, yang udah masuk keruang kerja?" kata Naura dengan sini, sementara Maura hanya memutar bola matanya, kemudian Maura pun beranjak dari kursinya dan melangkah melewati anak tangga dan masuk kedalam kamarnya.


"nau, kamu apa apaan si" kataku pada Naura yang masih terlihat kesal.


"aku kesal mbak, ngelihat mukanya" jawab Naura menghela nafas, ibu mertua pun melihatnya dengan menggelengkan kepala.


"nau, kamu itu selalu aja cari gara-gara dengan kakakmu"kata ibu mertua membuat Naura memelototkan matanya.


"bukan Naura Bu yang bikin gara-gara, tapi dia yang bikin gara-gara. ibu kenapa si malah belain dia!!" kata Naura dengan kesal.


"sudah cukup nau, dari tadi Maura tuh ngga ngapa-ngapain. kamu aja yang sensi banget sama dia, memang dia ada salah apa sama kamu?" tanya ibu mertua, aku pun menatap Naura dan menggelengkan kepala.


"udah lah Bu, ibu ngga akan juga percaya sama perkataan Naura. percuma Naura jelaskan sama ibu, nanti kalo udah terjadi baru ibu percaya sama perkataan Naura. liat saja nanti Bu" kata Naura sambil berlalu meninggalkan meja makan.


"Naura, Naura selalu saja seperti itu" gumam ibu mertua yang masih bisa ku dengar.

__ADS_1


aku pun melangkahkan kaki menuju dapur untuk merapikan piring bekas pakai makan malam, kemudian ibu menyusul membawa piring lainnya yang terlihat sudah kosong.


"sudah rit, biar ibu aja. kamu istirahat aja sana dikamar" kata ibu menyuruhku.


"gapapa Bu, biar aku bersihin ini dulu sebentar aja" jawab ku masih melanjutkan mencuci piring kotor.


"yasudah terserah kamu saja rit, ibu kembali kekamar dulu" kata ibu mertua, kemudian ibu mertua pun melangkah kan kaki menuju kamarnya aku pun melanjutkan mencuci piring hingga selesai.


"mbak,,," sapa Maura yang tiba-tiba ada didapur mengagetkan ku.


"yaaa," jawabku tanpa mengalihkan kan pandanganku.


"semuanya udah masuk kamar ya mbak?" tanya Maura berdiri bersandar di dinding dekat kulkas.


"sebentar lagi mbak, ohya mbak gimana si rasanya menikah?" tanya Maura membuatku berhenti sejenak.


"maksudnya?" tanyaku pura-pura tak mengerti.


"maksudku, apakah berumah tangga itu enak? bukankah diusiaku sekarang aku sudah cukup untuk berumah tangga?" tanya Maura membuatku menganggukan kepala.


"betul, apakah kamu sudah menemukan calon untukmu?" tanyaku pada Maura.


"sudah mbak, tapi,,,??" jawabnya.

__ADS_1


"tapi???" kataku mengulang perkataan Maura.


"pria itu masih berstatus suami orang mbak" jawab Maura dengan menundukkan kepalanya, sekilas aku melihat senyum sinis dibaliknya. aku pun menghentikan aktifitas ku dan melangkah mendekati Maura.


"jika ia masih berstatus suami orang, alangkah lebih baiknya kamu menjauh mau. tidak baik merusak rumah tangga orang lain, bukankah kamu juga wanita? pasti kamu tau bagaimana rasanya bila dikhianati pasanganmu" jawabku dengan panjang lebar pada Maura.


"mau bagaimana lagi mbak, aku sangat mencintainya. aku pun sudah berusaha menjauh, tapi ternyata aku gak bisa mbak. semakin aku menjauh perasaan ini semakin menyiksa, apalagi ketika melihat dia dan istrinya bersama-sama. hatiku semakin sakit mbak" kata Maura membuatku menyerit heran, sedetik kemudian aku pun menganggukan kepala. ternyata yang ia bicarakan adalah diriku sendiri dan juga mas Bayu, aku yakin Maura masih memiliki rasa untuk memiliki mas Bayu.


"mencintai memang hak masing-masing mau, tidak ada orang yang bisa memaksanya masuk pada hati kita. tapi ketika kita tau perasan itu hadir diposisi yang salah, sebaiknya jangan membuatnya benar sampai melakukan apapun untuk mendapatkan. apalagi pria itu sudah memiliki istri, sekarang yang aku tanyakan apakah pria itu memandangku sebagai perempuan atau hanya sebagai teman atau saudara?" tanyaku pada Maura yang langsung mengangkat kepala menatap mataku. aku membalas tatapan matanya yang tajam seolah mengatakan bahwa ia akan merebut mas Bayu dari hidupku.


"apa aku salah dengan perasaan cinta ini mbak? aku pun tidak mau memilikinya, tapi apa boleh buat. menghilangkannya pun terlalu sulit" jawabnya dengan nada santai.


"yasudah mau, aku sudah memberi tahu mu. tapi jika kamu tidak mendengarkan perkataanku, apa boleh buat. toh kita memang tidak sedakat itu" jawabku berjalan meninggalkan Maura yang masih berdiri pada tempatnya.


"mbak, gimana jika pria itu mas Bayu?" tanya Maura membuatku menghentikan langkah seketika dan berbalik menatap maura yang tersenyum dan tangan bersedekap didada.


"jika mas Bayu mau padamu, aku serahkan dengan suka rela. tapi jika dia memang memilihku, maka menghilangkan dari hidup kami" jawabku dengan tegas namun tetap tenang, sengaja ingin melihat sejauh mana ia bisa memanas manasiku.


"aku pasti bisa mendapatkan mas Bayu mbak, mungkin waktu itu aku gagal. tapi kali ini aku yakin, aku pasti bisa. apalagi,,,," kata Maura mendeja kalimatnya dan melihatku dari atas hingga bawah, tatapan yang membuatku risih meskipun sesama perempuan.


"lihat tubuhmu, sama sekali tidak terurus, kamu tau mbak. biasanya jika seorang istri sudah pernah melahirkan, suaminya pasti merasa bosan apalagi dengan istrinya yang pasti sibuk dengan bayinya. suami pasti kesepian, dan ia pasti akan mencari kesenangan diluar sana. daripada mas Bayu bersenang-senang dengan perempuan diluar sana, bukankah ia bisa bersenang-senang denganku saja dirumah ini" kata Maura membuat dadaku menahan nafas agar tidak emosi.


"bukankah sudah aku bilang, jika mas Bayu mau padamu. silahkan kamu miliki, tapi yang seperti kamu tau kan. selama ini mas Bayu hanya menganggap kami tak lebih dari seorang adik, sama seperti Naura. seharusnya kamu sadar mau, kamu bukan lagi akan kemarin sore yang harus diajarkan cara bersikap. apa kamu pikir dengan sikapmu seperti ini mas Bayu akan luluh padamu? jangan mimpi!" kataku menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutku. aku pun melangkah menuju kamar dengan perasaan campur aduk, rasa takut yang mendominasi setelah berdebat dengan Maura pun menguasai hati. berharap mas Bayu mampu menjaga pernikahan ini seperti apa yang aku lakukan.

__ADS_1


__ADS_2