
POV Naura
"karna Naura dengar sendiri bi dia menelpon seseorang dan merencanakan sesuatu" jawabku ketika kami berada dimeja makan bersama-saja membahas suatu hal menyangku art baru yang dibawa oleh bi asih.
"hust kamu ngga boleh suuzhon begitu sama orang lain nau, apalagi mereka semua art baru kita. lagi pula mbak rasa semuanya baik kok nau, ngga ada yang aneh-aneh" jawab mbak Rita membuatku menatap tak suka kearah kakak iparku ini.
mbak Rita selalu aja berfikir baik dan tidak pernah waspada pada orang lain, padahal aku dengar sendiri art tersebut merencanakan sesuatu untuk mbak Rita dan juga mas Bayu.
"aku ngga suuzhon mbak, tapi aku mendengar sendiri dan itu langsung dari bibir salah satu art mbak yang baru itu. mbak mah selalu begitu kalo aku kasih tau, mbak itu selalu berpikir baik pada orang sampai lupa untuk waspada" jawabku dengan sedikit kesal pada mbak Rita yang selalu bersikap seperti itu.
"bukan begitu nau, mbak cuma mengingatkan. andai emng apa yang kamu dengar benar seperti itu berarti kita perlu waspada kan, makasih loh kamu udah ingatin mbak. eemm gimana kalo kita minta mas Bayu untuk pasang cctv dirumah ini, dirumah ini belum ada cctv kan Bu?" tanya mbak Rita pada ibu Surti.
"sepertinya ngga ada nak, karna setau bibi waktu itu dicopot sama suami Bu Sandra" jawab ibu Surti membuat mbak Rita menganggukan kepala.
"nah tuh, kita bisa pantau lewat cctv itu nau"jawab mbak Rita dengan santai.
"mbak sadar ngga sih, cctv itu ngga mungkin kita pantau setiap saat. iyaa ngga Bu?" kataku pada ibu Surti yang hanya terdiam.
"terus mbak harus gimana nau, ngga mungkin juga kan mbak pulangin mereka. kasian lah nau" jawab mbak Rita yang langsung aku sambut dengan gelengan kepala.
"yaa memang ngga aku suruh buat pulangin. begini aja deh, aku akan ambil beberapa orang art itu untuk ikut aku dirumah peninggalan ayah termasuk art yang punya rencana buruk itu dengan begitu kan rumah ini aman. nanti untuk sementara biar ibu disini aja deh, gapapa itung-itu sebagai pengganti art yang aku ambil. gapapa kan Bu?" tanyaku pada bi Surti yang langsung disambut anggukan kepala olehnya.
"iyaa boleh lah begitu, lagian biar ibu juga beritahukan apa saja tugas mereka kedpannya dan bisa memantau para art itu. mbak kan ngga mungkin karna mbak harus menyusui keena ketika didalam kamar" jawab mbak Rita yang langsung menyetujui ucapanku.
__ADS_1
"yasudah kalo gitu udah fiks gitu aja lah ya mbak, biar ngga ada drama-drama rumah tangga mbak lagi" kataku membuat mbak Rita mengerucutkan bibir.
"nama nya juga rumah tangga nak Naura, pasti ada bumbu untuk menyempurnakannya. ibarat makanan pasti butuh bumbu, iyakan?" jawab ibu Surti yang juga diangguki oleh mbak rita.
"betul itu Bu, nanti kalo kamu udah berumah tangga juga pasti akan merasakan bagaimana rasanya berumah tangga nau. makanya sekarang kamu belajar lah dulu menjadi ibu rumah tangga, dengan mencuci sendiri piring bekas makan kamu itu" jawab mbak Rita menunjuk piring yang berada dihadapanku.
"lah kenapa gitu mbak, kan dirumah ini art, biar aja lah mereka yang membereskan. masa aku, gimana si mbak" jawabku dengan sewot.
"loh katanya mau belajar jadi ibu rumah tangga yang baik, gimana si kamu nau. udah sana cuci piringnya terus tidur sianglah mbak juga mau tidur siang ah sama keena abis makan buah ini" kata mbak Rita membuatku mengerucutkan bibir.
dengan terpaksa aku pun mengikuti kemauan mbak Rita untuk mencuci piring bekas makanku sendiri, aku pun membawa piring tersebut kedapur kemudian aku sabun dengan bersih baru aku bilas.
"begitu dong, kalo dikasih tau nurut" kata mbak Rita mengejek, aku pun tak menghiraukan. aku pun mengambil buah yang sudah dipotong mbak Rita kemudian menghabiskannya dengan sekejap.
aku pun melangkahkan kaki menuju kamar tanpa memperdulikan tatapan mbak Rita dengan tawa kecil yang keluar dari mulut ibu Surti.
setelah sampai kamar, aku pun bergegas menelpon ketiga sahabatku yang tidak sempat aku temui saat di kampus tadi.
"hai guys, kalian masih dikampus?" tanyaku pada ketiganya.
"iyaa masih nih, lagi dikantin. kamu kok ngga keliatan, malah udah dirumah lagi itu" jawab Salma.
"iyaa abis aku bete gara-gara tadi pagi aku jadi dibully sama kating itu, nyebelin banget ngga sih" jawabku dengan mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"yaa gapapa kali nau, lagian itu kan cuma hiburan aja ngga beneran. masa kaya gitu aja dimasukin ke hati si kamu itu" kata Nana yang juga diangguki oleh dini dan juga Salma.
"ngga si, tapi kan aku malu na. kamu bayangin aja aku dicengin satu kampus karna bikin surat cinta buat lelaki itu, harusnya kan aku yang dikasih sebagai perempuan masa aku yang ngasih" jawabku seketika menutup mulut mendengar perkataan yang membuat ketiga temanku tertawa.
"nah nah tuh kan ketauan kalo kamu juga ngarep, iyakan? udah deh nau ngaku aja. lagian kating yang tadi kamu kasih surat itu lumayan juga loh nau, yaa lumayan lah kalo untuk spek gebetan sebelum ada yang ganteng spek dewa" jawab dini membuat Nana dan juga Salma terkekeh.
"aaahh tau ah, aku itu nelpon kalian karna mau ngasih tau kalo lusa nanti aku udah mau pindahan dri rumah mas Bayu. kalian mau bareng aku tau mau kerumah peninggalan orangtuaku sendiri-sendiri?" tanya ku pada ketiga orang tersebut yang langsung menggelengkan kepala.
"yaa bareng lah nau, kami kan ngga ada yang tau rumah kamu jadi gimana nanti kami kesananya. iyakan na, Din?" jawab Salma yang langsung diangguki oleh dini dan juga Nana.
"iyaa tau nih Naura aneh-aneh aja, kamu kan belum pernah ajak kita kerumah lama kamu. iyakan na?" jawab dini yang langsung diangguki oleh Nana.
"iyaa bener apa kata dini dan juga Salma nau, yasudah lusa nanti kita akan kerumah mbak Rita dulu terus pindahan bareng sama kamu" jawab Nana yang langsung diangguki oleh yang lainnya.
"yaudah kalo gitu, barang kalian banyak ngga? kalo banyak nanti biar sekalian diangkut aja, jadi aku nyewa mobil pickup gitu" tanyaku pada ketiganya.
"aku si ngga, palingan pakaian aja si sama sepatu dua pasang. ya cukuplah nanti dimasuki kekoper, ngga tau kalo Salma atau dini" jawab Nana memandang kearah dini dan juga Salma.
"aku juga belum tau sih, palingan sama kaya Nana. lagian kan nanti pasti dirumah kamu kamarnya udah lengkap, iyakan nau?" tanya dini yang langsung aku ajaab dengan anggukan kepala.
"iyaaa, yaudah kalo gitu kalian bawa yang perlu kalian bawa aja" jawabku membuat ketiganya menganggukan kepala.
setelah itu aku pun mengakhiri telpon dan mulai membaringkan badanku yang terasa cukup lelah, sambil menunggu mengantuk aku pun membuka aplikasi novel kegemaranku yang selama ini aku baca. oiyaa aku juga belajar menulis disalah satu aplikasi novel tersebut loh, yaa mencoba peruntungan aja si. semoga otakku yang pas-pasan ini nyampai untuk membuat cerita yang menarik bagi pembaca.
__ADS_1
bersambung.......