Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
delapanpuluhtiga


__ADS_3

"sudah mbak iyakan aja, dulu permintaan maafnya. tapi ucapakan jika proses pelaporannya akan tetap berlanjut, biar mereka kapok dulu dan merasa ketar ketir akan dijemput paksa oleh pihak kepolisian" kata dini berbisik yang sudah pindah kebelakang Rita yang hanya bisa didengar oleh Rita.


"baik ibu-ibu saya sudah memaafkan, tapi maaf untuk laporannya saya ngga bisa mencabut karna sudah diproses oleh pihak kepolisian lagipula bukan saya yang melapor melainkan dini sahabat adik saya Naura" jawab Rita sambil melirik dini yang berada dibelakangnya, yang di sebut namanya pun hanya mendekap tangan didada sambil menyunggingkan senyum sinis.


"nak dini tolong maafkan kami, dan tolong cabut laporan pada kepolisian. kami bener-bener menyesal" kata salah satu ibu-ibu sebagai perwakilan diangguki oleh tiga yang lainnya.


sebelum dini menjawab terdengar sirene mobil polisi yang memekakkan telinga ibu-ibu disana, mereka semua pun terkejut karna kurang dari satu jam mereka berdiri dihalaman rumah Rita mereka malah akan masuk bui.


"nah, ibu-ibu dengar sendiri kan polisi sudah menjemput. itu berarti laporan saya terhadap ibu-ibu semua ini sudah diproses, maaf ya ibu-ibu biarkan keadilan dijalankan sebagaimana mestinya" jawab dini membuat keempat ibu-ibu tersebut pucat pasi termasuk bu Bagas yang masih berada ditempatnya.


"assalamualaikum, apa benar ini rumah ibu Rita Aryani?" tanya lelaki berseragam polisi yang tertera dipapan namanya bernama Dimas. ditemani oleh tiga orang dibelakangnya yang berpakaian sama dengan pak Dimas.


"betul pak polisi, ini emang kediaman Rita Aryani tapi sayalah yang melapor pada pihak kepolisian terkait apa yang baru saja dilakukan oleh ibu-ibu ini dan kasus yang tadi saya bicarakan ditelepon" jawab dini dengan tenang dan tanpa beban.


"baik, kalo gitu kami akan bawa semua ibu-ibu ini untuk dimintai keterangan. ayok ibu-ibu kalian semua harus dimintai keterangan atas tindakan tidak menyenangkan yang dilaporkan mbak dini terhadap mbak Rita dan keluarganya" kata polisi Dimas pada kelima ibu-ibu tersebut dengan tegas.


"tapi pak, kami ngga salah. kami hanya memprotes apa yang menjadi hak kami, kami sebagai warga pun punya hak untuk bersuara. benarkan ibu-ibu?" kata Bu Bagas yang masih tak ada takutnya menentang polisi.


"sebaiknya, ibu menjelaskan dikantor polisi. dan untuk Bu Rita dan adik-adik sekalian, kalian boleh datang kekantor untuk dimintai keterangan juga termasuk ibu yang satu lagi karna berada di lokasi" kata pak Dimas menatap Rita dan Bu RT bergantian.


"baik pak polisi, nanti kami menyusul" jawab Rita membuat pak polisi tersebut menganggukan kepala.


pak Dimas pun membawa Bu Bagas da kempat ibu-ibu tersebut menggunakan mobil yang mereka bawa, untung saja pihak kepolisian saat ini sudah memiliki mobil yang cukup untuk membawa sekaligus banyak orang-orang yang akan mereka tangkap. jadi bu Bagas dan keempat nya bisa masuk dalam satu mobil yang sama meskipun saling berhimpitan.


setelah mobil polisi tersebut melaju meninggalkan pekarangan rumah Rita, Bu RT pun berpamitan kembali kerumahnya karna harus melaporkan pa yang terjadi pada sang suami.


"maaf ya mbak Rita, sebenarnya saya kesini disuruh bapak untuk menemani mbak Rita dirumah karna katanya mas Bayu menelpon kalo teman-teman Naura hari ini mau pulang. jadi karna takut terjadi apa-apa saya diminta menemani sampai mas Bayu pulang, eh malah seperti ini kejadiannya" kata Bu RT sambil mengikuti Rita kembali duduk diteras menyelesaikan acara makan-makan mereka.

__ADS_1


"gapapa kok Bu RT, saya juga minta maaf kalo saya begitu banyak merepotkan Bu RT dan pak RT" jawab Rita yang merasa tak enak pada ketua RT tersebut.


"santai aja mbak Rita. jadi, bagaimana ini mbak Rita apa kita akan pergi kekantor polisi?" tanya Bu RT.


"tentu saja Bu RT, kita harus kesana untuk memberikan keterangan. lagipula rencananya saya hanya akan memberikan efek jera untuk ibu-ibu itu kok Bu RT, bukan serius mau memenjarakan mereka" jawab Rita di respon anggukan oleh Bu RT.


"lagian nih dini, main lapor-lapor aja. jadi ribetkan urusannya" kata Naura membuat dini tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"sudah-sudah gapapa, lebih baik cepat habiskan makannya terus kita susul ke kantor polisi" kata Rita membuat keempat remaja tersebut menghabiskan makanan mereka dengan cepat.


tak lama semua makanan sudah habis, mereka semua pun bersiap untuk menyusul Bu Bagas dan keempat temannya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. begitupun Bu RT yang sudah menunggu sedari tadi sambil berbalas pesan dengan pak RT memberitahukan apa yang baru saja terjadi dirumah Rita.


"Ayuk Bu RT kita jalan sekarang" kata Rita sambil menggendong keena yang masih tertidur.


"waahh dedenya diajak mbak Rita? apa ngga repot nanti?" tanya Bu RT dengan penasaran.


"insyaallah ngga kok Bu RT, kan nanti kami bisa gantian" jawab Rita dengan senyum mengembang.


"eehh apa taksi onlinenya mau ya ngangkat kita semua ini, berenam loh" tanya Nana membuat yang lain pun menggedikkan bahu.


"mau kok, aku kan pesan yang untuk 5-6 orang, pas lah kita berenam kok" jawab Salma dengan yakin.


"eehh tuh taksinya dateng kayanya deh, coba bentar aku liat dulu ya" lanjut Salma segera berlari menghampiri salah satu mobil yang berhenti didepan rumah Rita.


"Ayuk kita ikutin Salma" kata Rita mengajak kelima orang tersebut melangkah mengikuti Salma dari belakang.


"nah betul kan, ayok semua naik. ini udah Dateng taksi nya" kata Salma setelah semuanya berada dekat dengannya. mereka memulai perjalanan menuju kantor polisi tanpa ada sepatah kata yang terdengar, hanya sesekali terdengar suara bising kendaraan yang lewat.

__ADS_1


setelah tiga puluh menit mereka didalam taksi online, akhirnya mereka pun sampai dikantor polisi dimana tempat Bu Bagas dan keempat temannya ditahan. mereka pun segera masuk kedalam kantor polisi untuk dimintai keterangan.


dua jam kemudian semuanya pun selesai, mereka akan kembali kerumah mereka masing-masing dengan memesan ojek online pada aplikasi masing-masing. kecuali Bu RT, yang akan menggunakan satu taksi dengan Rita dan juga Naura.


"mbak kalo gitu kita pisah disini aja ya, udah Zuhur ternyata. kami harus pulang kerumah masing-masing" kata dini membuat Salma dan Nana menganggukan kepala.


"yaahh, kalian yakin nih ngga mau kerumah mbak dulu?" tanya Rita dengan wajah memelas.


"nanti kapan-kapan kami main lagi ya mbak, mbak tenang aja kami pasti akan sering kesana kok" jawab Nana dengan ambigu tapi Rita dan juga Naura pun tetap mengerti apa yang disampaikan oleh Nana, kecuali Bu RT yang tampak heran dengan perkataan Nana.


"Bu RT, kami juga pamit ya. mohon maaf jika adanya kami disana membuat kegaduhan" lanjut Nana beralih pada Bu RT yang melempar senyum tulus pada remaja tersebut.


"gapapa kok anak-anak, ibu santai aja sih. namanya juga remaja, iya ngga mbak rita? yang penting tau batasannya" jawab Bu RT disertai senyum tulus.


"aku duluan ya Bu RT, mbak Rita, nau. ojek aku udah Deket nih" kata Salma membuat yang lain pun menganggukan kepala sebagai tanda. Salma pun melangkah meninggalkan kelima orang tersebut.


"hati-hati sal" kata Nana membuat Salma menoleh kebelakang dan menganggukan kepala.


"aku juga duluan ya guys, udah Dateng nih" kata dini menyusul Salma yang sudah tak terlihat lagi.


"iyaa, hati-hati Din" jawab Naura dan Nana berbarengan. dini pun menganggukan kepala dan bersalaman dengan Rita dan juga Bu RT, kemudian ia melangkah meninggalkan empat orang tersisa.


"taksi kamu masih jauh nau?" tanya Nana membuat Naura mengerutkan kening.


"sebentar, kayanya sebentar lagi deh. kenapa? kamu mau duluan ya?" tanya Naura pada Nana yang langsung menggelengkan kepala.


"loh, terus?" lanjut Naura penasaran dengan Nana yang menggelengkan kepala.

__ADS_1


"ada sesuatu, nanti juga kamu akan tau. aku akan ikut kamu pulang kerumah mbak Rita pake taksi online itu" jawab Nana berbisik agar tak terdengar oleh Rita dan juga Bu RT yang berada disamping mereka. Naura pun menganggukan kepala sebagai jawaban.


Rita dan juga Bu RT tidak terlalu mengamati apa yang Nana dan juga naura lakukan, keduanya fokus pada handphone dan juga anaknya hingga tak menyadari akan sesuatu yang sedang menunggu mereka.


__ADS_2