Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
enampuluh


__ADS_3

tak lama terlihat Rita datang membawa keena yang sudah rapi dengan pakaian yang ia kenakan.


"dduuhhh cucu omaa udah cantik" kata ibu Bayu yang langsung berdiri merentangkan tangannya untuk mengambil alih keena dalam gendongan Rita.


"duuhh wangi banget lagi nih, sampe kelepek kelepek Oma nya dek" kata ibu Bayu yang sangat gembira bisa mengendong cucu kesayangannya.


"Bu, ibu yakin banget si kalo itu anak mas Bayu" gumam Maura yang masih terdengar di telinga semua orang yang berada didalam ruangan itu.


"apa maksud mu?" tanya Rita dengan tegas.


"apa? emang aku bilang apa barusan, aku ga bilang apa-apakan?" jawab Maura seolah tak bersalah dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya.


"maksud mu apa ibu ga boleh yakin kalo keena anak mas Bayu dan cucu ibu? begitu!" kata Rita dengan geram.


"oh tadi aku bilang gitu ya? keceplosan ini mulut, kebiasaan deh" kata Maura menepuk pelan mulutnya seolah menyalahkan.


"maksud kamu apa si kak ngomong gitu didepan ibu dan ibunya mbak Rita, kamu fikir mbak Rita itu murahan suka bermain dengan lelaki lain? sepertinya otak kamu sudah ngga waras kak" kata Naura menatap bengis saudara angkatnya yang selalu berusaha menjatuhkan Rita didepan sang ibu.


"aku ngga ada ngomong gitu loh nau, kamu jngan ngada-ngada deh!!" jawab Maura membela diri.


"eh kak, semua orang disini itu dengar apa yang kamu katakan. dasar manusia ngga ada adab, sok banget jadi orang. semoga kamu mendapatkan azab yang setimpal atas perbuatan kamu kak" jawab Naura menatap sinis Maura.


"heh apa maksud kamu, kenapa bicara mu seolah-olah aku banyak sekali dosa hah?! jangan sok suci jadi manusia" timpal Maura dengan membentak Naura dengan suara berat.

__ADS_1


"sudah-sudah kalian ini kalo ketemu selalu aja berantem, lihatlah ini keponakan kalian jadi ngga nyaman. dia jadi terganggu tidurnya" kata ibu Rita menengahi perseteruan diantara keduanya.


"Maura, aku menerima mu masuk kedalam rumah ini karna ibu. ingat, hanya karna ibu! jangan pernah sesekali menghina apalagi berkata buruk soal anak ku. jika kamu membenciku karna aku menikah dengan mas Bayu, bencilah aku. lakukanlah apapun yang kamu mau lakukan, tapi jangan sesekali kamu sentuh anakku!!" kata Rita dengan tegas mengambil keena dari gendongan sang Oma yang menatap sendu sang cucu yang sudah dibawa masuk kedalam kamar oleh ibu nya.


"ibu juga, lain kali kalo kesini lebih baik sendiri jangan bawa lampir ini atau ibu bisa minta jemput Naura atau mas Bayu. ingat Bu, mulai besok dirumah ini udah ngga ada orang tua mbak Rita jadi otomatis hanya kami bertiga dirumah ini. jadi kami mesti siaga menjaga keena karna selalu ada hal yang bisa membuat mbak Rita ketakutan. tolong ibu mengerti!!" kata Naura pada sang ibu yang menatap nya dengan berkaca-kaca.


ibu Bayu pun faham dengan apa yang dikatakan oleh putri bungsunya itu, ia pun menganggukan kepala dan kembali duduk di tempat nya lagi.


"sudah nau, temani mbak mu didalam ya" kata ibu Rita langsung diangguki oleh Naura, sebelum masuk kedalam kamar Naura pun menatap tajam Maura yang menatap sinis kerahnya.


"maaf kan Rita dan juga Naura ya Bu?" kata ibu Rita yang merasa tak tengah dengan kelakuan kedua orang putrinya.


"gapapa kok Bu, benar apa yang dikatakan Naura. terlebih mereka perempuan semua dirumah ini, jadi lebih hati-hati" jawab ibu Bayu yang memaklumi sikap anak dan menantunya.


"iyaa Bu pasti saya akan sering main kesini, kalo gitu saya pamit pulang dulu ya Bu. sepertinya suasananya sudah ngga kondusif, padahal saya masih mau berlama-lama main sama cucu" kata ibu Bayu menatap sendu ibu Rita yang juga merasakan kesedihan ibu Bayu.


"iyaa Bu, sekali lagi maaf kan anak-anak kita ya Bu. saya akan coba bicarakan dengan mereka nanti, ibu tenang saja" jawab ibu Rita.


"baiklah Bu, assalamualaikum" kata ibu Bayu menarik tangan Maura untuk meninggalkan rumah kontarakan bayu dan Rita.


sesampainya dirumah, ibu Bayu pun mendudukan diri dikursi ruang keluarga dan menatap maura dengan kesal. karna Maura yang bersikap kurang ajar dirumah Rita, ibu Bayu jadi lebih susah untuk bertemu dengan cucu nya. terbesit membenarkan perkataan Naura agar tidak membawa Maura jika bertamu kerumah Rita, ia pun kembali memikirkannya. mulai saat ini ibu Bayu pun tak berniat mengajak Maura jika ingin main kerumah kontrakan Rita dan Bayu agar tidak membuat masalah pertengkaran dengan anak dan menantunya.


"kamu ini selalu aja buat keributan kalo ikut ibu kesana, bikin malu saja" kata ibu Bayu memandang Maura dengan kesal.

__ADS_1


"ibu ini selalu aja menyalahkan Maura, mereka aja yang emang ngga bisa menerima tamu dengan baik kenapa malah nyalahin aku" jawab Maura tanpa merasa bersalah.


"harus nya tuh kamu yang bisa menjaga sopan santun jika bertamu kerumah orang, apa selama ini ibu mengajarkan kamu kurang ajar jika bertamu kerumah orang lain?!" kata ibu Bayu membentak Maura, yang dibentak pun hanya memelototkan mata kesal mendengar perkataan sang ibu.


"ibu selalu aja membela mereka dan menyalahkan aku, ibu ga liat bagaimana sikap mbak Rita dan Naura tadi yang ngebiarin ibu bersama ibunya mbak Rita sementara mereka malah meninggalkan ibu masuk kedalam kamar. ibu lupa?!" jawab Maura dengan ketus pada sang ibu.


"hei, kamu lupakan karna apa mereka seperti itu? semua itu karna kamu, kamu yang ga bisa menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut mu itu! coba sekarang ibu tanya, apa maksud kamu berkata seperti tdi? agar apa? agar ibu ragu kan jika keena itu anak Bayu, iyakan?!" kata ibu Bayu mengeraskan suaranya pada Maura.


"memang bener kan apa yang Maura bilang, kenapa ibu yakin sekali jika anak itu anak mas Bayu? padahal coba lihat, anaknya mbak Rita sama sekali ngga mirip sama mas Bayu Bu!" jawab Maura mengompori ibu Bayu.


"kamu salah Maura, justru keena cucu ibu itu benar-benar mirip dengan Bayu sewaktu masih bayi, kenapa kamu bisa-bisanya bilang keena ngga mirip sama sekali dengan Bayu?! kamu hanya iri dengannya, hilangkan sifat itu Maura ibu sama sekali ngga suka" jawab ibu Bayu langsung meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Maura yang melihat kepergian sang ibu pun mengeram kesal, karna usahanya untuk mengompori sang ibu sama sekali ngga pernah berhasil selalu gagal. ia pun mengambil gawainya didalam tas yang selalu saja ia bawa kemanapun lalu menelpon seseorang yang selama ini selalu membantunya.


"kamu boleh melakukan secepatnya, ingat kamu harus dapatkan anak itu agar aku bisa meminta pertukaran pada ibu nya" kata Maura pada orang disambungan telpon tersebut, bibi yang tak sengaja mendengarpun segera merekam pembicaraan Maura menggunakan handphone jadul miliknya. bibi pun bersembunyi agar tidak diketahui oleh Maura, setelah selesai ia pun menyembunyikan handphone pada saku bajunya dan melangkah melewati Maura.


"bi, buatkan aku jus jeruk dong" kata Maura sambil terus memainkan gawainya menatap sang bibi yang hanya menganggukan kepala.


bibi pun kembali kedapur sambil mengontrol detak jantungnya tak tak beraturan.


"Alhamdulillah aku ngga ketahuan, aku harus segera mengirim rekaman ini ke pak Bayu sebelum terlambat" gumam bibi memainkan handphone nya dan mengirim rekaman itu pada Bayu. setelah rekaman terkirim barulah ia membuatkan jus jeruk pesanan Maura, setelah selesai membuat bibi pun membawakan kehadapan Maura.


"ini non jus nya" kata bibi, Maura pun hanya melirik tanpa berkata sepatah katapun. bibi pun kembali kedapur dengan menghela nafas panjang. bibi pun membuka handphonenya kembali, melihat ada balasan dari Bayu dan lalu membacanya.


"terimakasih rekamannya bi" kata Bayu dalam pesan tersebut.

__ADS_1


"sama-sama pak" jawab bibi membalas pesan Bayu. bibi pun merasa lega telah memberikan bukti pada Bayu agar bisa hati-hati dan menjaga anak dan istrinya dengan ekstra sebelum Maura melakukan rencananya.


__ADS_2