
seharian semua penghuni rumah saling mengunci diri didalam kamar mereka, baik ibu maupun Rita juga Naura. bahkan bi asih pun sempat bingung karna tak ada kerjaan yang harus ia kerjakan siang hari ini, biasanya dia akan menemani sang majikan menonton tv atau sekedar mengobrol sambil minum teh. tapi karna ketegangan yang terjadi pagi tadi, suasana dirumah ini semakin memanas.
bahkan bi asih sendiri pun bingung, bagaimana mungkin majikannya itu berubah secepat ini. bahkan setau bi asih, ibu dari Bayu itu selalu menampakkan wajah murungnya dan selalu bercerita jika ia selalu merindukan Bayu, Rita juga Naura bahkan dengan cucunya sekali pun.
bi asih pun lebih memilih menyiapkan makan siang bagi ketiga orang tersebut, makan siang sederhana yang menggugah selera. setelah satu jam berkutat dengan dapur tanpa dibantu oleh siapapun, bi asih pun memanggil satu persatu orang dirumah tersebut. tapi naas, mereka yang dipanggil pun memilih untuk memakan makan siang mereka didalam kamar. alhasil bi asih pun harus rela bolak-balik dan naik turun tangga untuk membawakan masakan untuk para penghuni rumah tersebut, begitu juga dengan ibu Bayu yang makan siangnya meminta dibawakan kedalam kamar.
"duuuhh kalo begini terus bisa patah kakiku" kata bi asih yang sudah merasa lelah karna harus naik turun tangga untuk mengantarkan makanan.
"lagian ibu ini aneh deh, waktu mereka ngga ada seolah murung dan merasa kesepian. tapi sekarang, saat anak-anaknya sudah kembali berkumpul kenapa sikap ibu seperti ini. asih jadi bingung, apa sebaiknya asih adukan pada mas Bayu ya, hmmmm" gumam bi asih berbisik yang terdengar oleh telinganya sendiri.
akhirnya bi asih pun memutusakan untuk mengadukan apa yang terjadi pagi tadi kepada Bayu, sudah tiga kali menelpon tapi Bayu pun tak kunjung mengangkat panggilan darinya. bi asih pun hanya bisa menggerutu pelan, bi asih pun menaruh kembali handphone jadul miliknya kedalam saku celana yang ia pakai.
"bi asih ngapain sih dari tadi kok kaya orang bingung begitu?" tanya Naura yang tiba-tiba mengagetkan bi asih yang masih berada didapur.
"eehh mbak nau, emm ngga mbak. ini loh bibi tadi lagi coba telpon balik orang kampung, dari tadi nelponin Mulu giliran di telpon balik malah ngga disaut" jawab bi asih dengan sedikit berbohong.
"alaaahh bilang aja bi asih mau telpon mas Bayu, iyakan? ngaku aja bi" jawab Naura dengan sedikit senyum tipis.
"eehh ng-ngga non, beneran deh bibi abis telpon balik orang kampung kok" jawab bi asih dengan terbata-bata.
"kalo iya pun gapapa kali bi, justru Naura makasih itu artinya mas Bayu ga perlu dapet aduan dari Naura. tapi, kalo bi asih belum bilang si ya terpaksa nanti Naura yang bilang" jawab Naura membuat bi asih terkaget dengan apa yang Naura katakan.
"mbak Naura serius mau bilang sama mas Bayu soal masalah tadi pagi? apa ngga takut mas Bayu murka sama ibu mbak?" tanya bi asih dengan dahi menyerit dan sedikit kekhawatiran dimatanya.
__ADS_1
"aku si ngga peduli ya bi, toh tugas ku memang menjaga mbak Rita. dan asal bi asih tau, aku dan mas Bayu ada disini pun karna persetujuan dari mbak Rita. tapi jika sikap ibu sendiri kepada mbak Rita seperti itu, sama artinya ibu ngga mengharapkan kehadiran kami" jawab Naura membuat bi asih menundukkan kepala.
"tapi mbak, apa mbak Naura ngga kasihan dengan ibu? biar gimana pun dia tetap orang tua mbak dan juga mas Bayu, saya juga sebenarnya heran dengan sikap ibu mbak Naura pagi tadi. karna setau saya, selama ngga ada kalian ibu selalu berwajah murung. apalagi ia selalu menceritakan bagaimana rasa sayangnya kepada anak dan menantunya, bahkan pada sama keena cucunya. ibu juga cerita sebagaimana dia sedih karna tak bisa lagi bertemu dengan keena setelah malam itu mbak, tapi pagi tadi..." jawab bi asih terputus mendengar telpon berdering dari saku celananya, bi asih pun melirik Naura yang hanya diam menatap wajahnya.
"lihat dan angkat aja bi" jawab Naura diangguki oleh bi asih. bi asih pun mengambil handphone disaku celananya kemudian tertera nama bayi dipanggilan telpon tersebut.
"mas Bayu mbak" jawab bi asih memperlihatkan nama yang tertera dilayar ponselnya.
"angkat aja, gapapa bi. tapi jangan beritahu soal kejadian pagi tadi dulu, biar saya yang bilang saat nanti dia sampai rumah. lebih baik bi asih cari alasan yang tepat jika mas Bayu bertanya keadaan rumah, oke?" jawab Naura membuat bi asih menganggukan kepala sam sedikit senyum.
bi asih pun mengangkat telpon Bayu dihadapan Naura, tak ada rasa ragu bagi bi asih menjawab setiap apa yang Bayu tanyakan tentang keadaan didalam rumah. memang selama ini Bayu begitu mempercayai apa yang dikatakan bi asih, karna hampir semua yang dikatakannya adalah hal yang memang terjadi.
tak lama bi asih pun menutup panggilan telepon tersebut, dibelakangnya masih ada Naura yang setia mendengarkan setiap jawaban yang keluar dari mulut bi asih.
"udah selesai bi?" tanya Naura pada bi asih yang langsung diangguki oleh asisten rumah tangga tersebut.
"apa kata mas Bayu?" tanya Naura membuat bi asih mendongakkan kepala mendengar pertanyaan anak perempuan majikannya ini.
"biasa mbak nanyain keadaan rumah, terutama ibu dan juga mbak Rita si" jawab bi asih dengan sedikit ragu.
"ingat ya bi, jangan dulu bilang sama mas Bayu soal kejadian tadi pagi. biar aku atau mbak Rita yang bicara sama mas Bayu" kata Naura mengingatkan bi asih yang hanya menganggukan kepala.
"iyaa mbak, insyaallah bibi akan diam sampai mbak Naura atau mbak Rita bercerita pada mas Bayu" jawab bi asih yang langsung diberikan senyuman oleh Naura.
__ADS_1
"bagus, Naura ke atas dulu ya bi" kata Naura yang langsung melangkahkan kaki kembali kedalam kamar yang berada tepat disebelah kamar Rita dan juga Bayu.
bi asih pun menggelengkan kepala melihat tingkah anak perempuan majikannya itu. padahal Bayu pernah berkata pada bi asih jika Naura adalah anak yang baik dan juga penurut, tapi saat ini dipandangan bi asih Naura lebih tegas dan juga berani.
bi asih pun meninggalkan dapur dan kembali kedalam ruang setrika di sebelah dapur, ia melanjutkan pekerjaan nya dengan terus memikirkan setiap orang yang berada didalam rumah itu. bahkan bi asih merasa heran, Naura bisa membuat sang ibu terdiam dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. terlihat saat berdebat tadi pagi, majikannya itu langsung terdiam saat Naura menyuruhnya berhenti dengan setiap penekanan kalimatnya.
"huh, ada ada aja masalah keluarga ini. memang si bukan urusan ku untuk mengurusi mereka, tapi aku sebagai pekerja pun merasa tak nyaman jika dalam situasi seperti ini. ibu juga seperti orang yang sedalam luar kendali, selalu berubah. waktu itu mengharapkan sekali mas Bayu dan istrinya disini, kenapa sekarang justru ibu berbicara seolah menyalahkan istri mas Bayu yang menjadi penyebab masalah didalam rumah ini" kata bi asih bergumam sendiri sambil menyetrika pakaian milik majikannya itu.
"sepertinya memang ada yang mbak Naura dan ibu tutupin dari mas Bayu dan mbak Rita, saya harus cari tau ini" lanjutnya lagi bergumam kecil sambil menganggukan kepala
bi asih pun melanjutkan pekerjaannya hingga semua pakaian yang harus disetrika itu pun selesai, ia pun membawa pakaian yang telah disetrika itu kekamar ibu Bayu sang majikannya. setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, bi asih pun memberikan sekeranjang kecil pakaian ibu Bayu yang harus ditanya didalam lemari.
"maaf Bu, saya mau nata pakaian yang sudah disetrika" kata bi asih pada ibu Bayu yang membuka kan pintu untuknya.
"iyaa masuklah" jawab ibu Bayu dengan lirih. bi asih pun masuk kedalam ruang ganti ibu Bayu, lalu merapikan lembar demi lembar pakaian yang sudah ia setrika. setelah selesai, bi asih pun bermaksud untuk keluar dari kamar ibu Bayu namun ia urungkan karna mendengar ibu Bayu memanggil namanya sebelum ia mencapai gagang pintu.
"asih" panggil ibu Bayu dengan suara pelan.
"iyaa bu, ada yang bisa asih bantu?" tanya bi asih dengan menundukkan kepala.
"ngga ada, sini duduk" jawab ibu Bayu menyuruh bi asih duduk diranjang miliknya.
"baik Bu" bi asih pun menuruti setiap perkataan sang majikan dengan lembut.
__ADS_1
"apa saya sudah keterlaluan ya bi, saya sudah membuat anak saya marah dan membenci saya bi" kata ibu Bayu menatap bi asih dengan mata yang berkaca-kaca.
bi asih yang bingung hendak menjawab apa pun hanya diam menunduk, mendengarkan setiap apa yang dikeluarkan oleh sang majikan. sesekali ia mengangguk dan menatap wajah tua majikannya dengan matanya yang juga berkaca-kaca. jelas sekali luka yang ada pada hati ibu Bayu di mata bi asih, namun tetap bi asih akan terus mendengarkan sampai ibu Bayu merasa lega mengeluarkan semua unek-uneknya barulah bi asih akan memberikan ketengan bagi majikannya tersebut.