
Naura yang mendengar perkataan Rita pun acuh tak acuh, sementara ketiga temannya masih menyantap makan siang mereka sambil mendengarkan celotahan Naura pada sang ponakan.
"sudah nau, gantian kamu yang makan dulu. sini biar keena sama mbak" kata Rita mengambil keena dalam gendongan Naura.
"mbak udah selesai makannya?" tanya Naura sambil memberikan keena pada sang ibu.
"udah kok, dan sekarang gantian kamu yang makan ya" jawab Rita membuat Naura menganggukan kepala.
"itu pizza nya dimakan mbak, mbak beli banyak banget si sampe dia kotak begitu. mana minumannya juga lagi" kata Naura sambil mengambil makanann bagiannya.
"gapapa udah, nanti pasti abis dimakan berempat" jawab Rita. Naura pun tak membalas lagi ucapan Rita karna fokus memakan makan siangnya, ketiga teman Naura pun sudah selesai makan kemudian mereka memberikan bekas makan mereka dan membuang bungkusnya setelah mengumpulkan jadi satu dengan punya Rita.
"udah nanti biar Naura aja yang buang kedepan, kalian duduk sini aja. nih dedenya bangun, kalian gamau liat kah?" tanya Rita.
"gapapa mbak, nanti biar Naura uang sendiri. aku biar buang yang ini, santai aja" jawab Nana kemudian berjalan keluar rumah untuk membuang sampah bekas makan mereka, tak lama ia pun kembali dengan tergesa-gesa.
"ada apa na?" tanya Rita dan Naura berbarengan.
"gapapa mbak, emm apa mbak Rita sama Naura ngga merasa aneh dengan rumah ini?" tanya Nana dengan raut wajah khawatir yang terlihat jelas Dimata Naura.
"apa yang kamu lihat didepan?" todong naura pada Nana, Rita yang mendengar pun langsung masuk kedalam ruang tengah agar tetap mendengar dan mengawasi apa yang dibicarakan Naura dan ketiga temannya.
"sudah nau, lebih baik tutup pintunya. cepat" jawab Rita dengan khawatir.
"ada apa nau, na?" tanya Salma dan dini dengan nada panik.
__ADS_1
"aku gembok gerbang depan dulu, kalian tunggu sini sebentar" kata Naura memperingati ketiga sahabatnya. seteleh kepergian Naura ketiga sahabat Naura pun merasa bingung dengan apa yang terjadi, Salma yang berada didekat Nana pun bertanya pada Nana.
"kamu lihat apa si diluar na, kok sampai bikin Naura sama mbak Rita pamit begitu?" tanya Salma pada Nana yang terus diam semenjak masuk kedalam rumah.
"nanti aku kasih tau setelah ada Naura, karna ini menyangkut dia juga mbak Rita" jawab Nana membuat kedua sahabatnya bingung, tak lama Naura pun muncul dan langsung duduk diantara ketiga sahabatnya. Rita yang melihat Naura telah kembali pun duduk lagi kersama keempatnya sambil menggendong keena.
"dini tolong kunci pintunya ya, maaf buat kalian didalam keadaan kalian kaya gini" kata Rita merasa tak enak pada ketiga sahabat Naura.
"gapapa mbak, tapi ada apa sebenernya mbak?" tanya Salma dengan penasaran.
"ini semua ulah Maura, ia yang membuat mbak Rita dan Naura menjadi kesusahan" jawab Nana membuat Rita dan juga Naura pun menjadi kaget, karna apa yang dikatakan Nana tepat sekali padahal belum ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Salma.
"bagaimana kamu bisa tau na, aku dan mbak Rita belum sama sekali bercerita apapun pada mi sejak tadi?" tanya Naura dengan penasaran.
"rupanya kamu lupa nau jika teman kita yang satu ini punya keistimewaan" jawab dini membuat Naura dan Rita pun saling berpandangan.
"apa itu yang jadi alasan juga kenapa kamu ngga pernah mau keluar rumah nau?" tanya dini yang sedari tadi mendengarkan apa yang dikatakan Nana.
"iya temen-temen, maafin aku ya aku gabisa cerita sama kalian soal ini" jawab Naura membuat ketiga temannya menganggukan kepala.
"apa udah ada rencana kalian agar bisa menangkap menguntit itu? dia sangat berbahaya, salah satu preman yang merangkap jadi tukang begal didaerah sini" kata Nana.
"sudah, para bapak-bapak disini selalu mengawasi kami siang malam. bahkan waktu malam bapak-bapak pun melaksanakan siskamling dipos depan" jawab Rita membuat ketiga teman Naura menganggukan kepala.
"ohya kemana suami mbak Rita? ini hari weekend seharusnya dirumah kan?" tanya Salma membuat Nana dan dini pun menganggukan kepala.
__ADS_1
"mas Bayu lagi keluar, katanya ada keperluan sudah dari jam sembilan tadi. tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga pulang" jawab Rita.
"apa mbak udah coba menghubungi mas Bayu?" tanya Nana.
" sudah sejam yang lalu, dia bilang masih belum selesai urusannya" jawab mbak Rita, Naura yang mendengar pun merasa cemas ntah karna apa.
"sudah dari pada kita menduga-duga, lebih baik kita sholat Zuhur dulu. sudah azan kan, rumah sudah dikunci insyaallah sudah aman. kita bergantian aja ya, mbak Rita sama Naura duluan aja kami bertiga disini dulu jaga keena" kata Salma membuat yang lain pun menganggukan kepala.
mereka pun bergantian melaksanakan sholat Zuhur, ketiga teman Naura juga berjanji akan menemani mereka berdua hingga Bayu sampai dirumah agarr keduanya merasa aman. setelah selesai, semua berkumpul diruang tamu lagi sambil menonton Drakor yang dari tadi sudah mereka siapkan VCD nya.
tepat pukul satu siang terdengar suara motor didepan rumah, Naura pun segera mengeceknya. ternyata Bayu yang pulang, ia pun segera membukakan pintu untuk Bayu dan langsung berhanbur memeluk sang kakak yang baru pulang itu.
"hei, ada apa ini? kenapa seperti anak kecil begini kamu nau?" tanya Bayu aneh melihat tingkah sang adik.
"nau, masuk dulu. nanti bicarakan didalam" kata Nana membuat Naura segera melepaskan pelukannya pada sang kakak. Bayu pun menatap heran Naura dan ketiga temannya, ia pun kembali menutup pintu rumah setelah masuk kedalamnya kemudian duduk tepat disebelah Rita yang menggendong keena.
"ada apa? kenapa kalian berkumpul disini? ini teman kamu nau?" tanya Bayu pada Naura yang hanya menganggukan kepala.
"iyaa mas, ini Nana, dini dan juga salma temannya Naura" jawab Naura membuat ketiga temannya mengulum senyum pada bayu.
"lantas kenapa sikapmu seperti itu didepan temanmu, apa yang terjadi?" tanya Bayu pada kelima orang didalam ruang tersebut sambil menatap semuanya satu persatu.
"dia datang lagi mas" jawab Naura. membuat Bayu merasa heran.
"dia siapa nau?" tanya Bayu dengan dahi mengerut.
__ADS_1
"orang suruhan Maura bang, dia ada disini. aku melihat dari bayangannya, sewaktu buang sampah bekas makan siang kami tadi" jawab Nana membuat Bayu membelalakan mata.