
"alah udahlah kak, ngga usah nyari simpati kami semua. air mata buaya kakak udah ngga mempan buat aku" kata Naura dengan mata melotot menatap maura tajam.
"tolong jngan seperti nau, kakak tau kakak pernah salah. tapi kakak bener-bener sudah sadar, kakak ngga mungkin menghancur rumah tangga mbak Rita dan mas Bayu" jawab Maura dengan Isakan.
Naura yang malas meladeni Maura pun memilih pergi memasuki kamarnya, ibu mertua pun menghampiri Maura dan mendudukkannya di sofa depan tv. aku dan mas Bayu yang melihatpun menyeritkan kening, tak biasanya Naura yang ceria bersikap seperti ini. sepertinya memang ada yang dirahasiakan diantara mereka, aku memutuskan menghampiri Naura yang berada didalam kamar.
tok,, tok,, tokk
"nau, ini mbak. boleh mbak masuk?" tanyaku hati-hati didepan kamar Naura.
"masuk aja mbak, ngga dikunci" jawab Naura dari dalam kamar, akupun membuka pintu kamar Naura dengan hati-hati. aku melihat naura masih duduk ditepian ranjang dengan raut wajah menunjukan kekesalannya.
" nau..." panggilku pada Naura yang membelakangi ku.
"mbak" kata Naura menghambur memelukku, aku rasakan air matanya mengalir.
"ada apa nau? kenapa kamu seperti ini?" tanyaku pada Naura yang masih menangis dipelukan ku. Naura pun tidak menjawab pertanyaanku, hanya isakan yang terdengar. aku pun menenagkan nya, mengusap punggung nya agar Naura merasa lebih tenang.
"maaf ya mbak, karna keributan ini mbak jadi ngga bisa istirahat" kata Naura disela Isak tangisnya.
"gapapa nau, tapi coba kamu ceritakan sama mbak apa yang sebenernya terjadi" tanyaku pada Naura.
__ADS_1
"sebenernya, Naura ngga sengaja denger perkataan Maura dengan seseorang saat tdi didepan rumah. iyaa orang yang mengantar Maura pulang, lalu Naura menegor Maura mbak tapi Maura ngga terima dan dia menumpahkan cemilan Naura padahal Naura lagi asik nonton drama Korea kesukaan Naura di tv" jawab Naura dengan tersendat sendat.
"memang apa yang direncanakan Maura dengan orang itu nau, dan bagaimana cara kamu bisa mendengar sementara kamu sedang nonton Drakor?" tanyaku dengan penasaran, Naura pun menjelaskan apa saja yang ia dengar.
"Maura masih berusaha memisahkan mbak dan mas Bayu, berusaha membuat mas Bayu dan mbak rita bertengkar dengan hadirnya orang ketiga dirumah tangga kalian meskipun orang itu bukan Maura sendiri tapi orang ketika itu adalah teman Maura yang akan membantu Maura mendekati mas Bayu. setelah mas Bayu dan mbak Rita bertengkar hebat disitulah Maura akan membuat mas Bayu nyaman dengannya dan perlahan meninggalkan mbak Rita. Maura selama ini hanya berpura-pura baik sampai akhirnya ia menemukan patner yang bisa ia ajak kerja sama mbak" jawab Naura yang sudah berhenti menangis. aku pun terkesiap mendengar perkataan Naura tentang Maura, sebegitu inginnya mendapatkan mas Bayu hingga ia melakukan semua itu.
"astagfirullahhalazim, yang bener kamu nau? kamu ngga sedang berbohong kan nau?" tanyaku pada Naura yang langsung menggeleng.
"ngga mbak, buat apa Naura bohong. Naura cuma ngga mau rumah tangga mbak Rita dan mas Bayu bermasalah, kasian calon bayi kalian mbak. Maura saja yang ngga punya hati sampai hati berbuat kaya gitu" jawab Naura yang masih tersukut emosinya.
"kalo gitu nanti kita bicarakan ini dengan mas Bayu jika Naura tidak dirumah. besok, bukankah besok Maura pasti akan pergi keluar dengan teman-temannya seperti biasa?" kataku pada Naura.
"mending sekarang kamu coba minta maaf sama Maura, terus diam-diam kamu awasi setiap gerak geriknya jika dirumah. kamu bisa kan?" tanya pada Naura yang menganggukan kepala.
"iyaa mbak aku bisa, kita harus gagalakan rencana maura" jawab Naura dengan antusias, tak ada lagi air mata yang tadi yang ada semangat untuk memberhentikan perbuatan Maura.
aku dan Naura pun melangkah keluar dari kamar menghampiri Maura yang masih ditenangkan oleh ibu mertua, sedangkan mas Bayu sudah tidak ada ntah kemana.
"maafin Naura ya kak, Naura salah udah bentak-bentak kakak tadi" kata Naura pada Maura yang menatap tajam Naura.
"iyaa gapapa, lain kali jangan gitu ya nau. masa hanya gara-gara cemilan kamu seperti itu sama kakak kamu sendiri, maafin kakak juga ya nau?" kata Maura memeluk Naura dengan senyum mengejek kearahku.
__ADS_1
"sudah ibu tidak mau ada drama berantem lagi, lebih baik kalian kembali kedalam kamar kalian masing-masing. Naura, antar mbak kamu kemarnya biar ia istirahat. ini udah sore, ibu juga mau masak untuk makan malam kita" kata ibu mertua membubarkan kami. aku, Maura, dan Naura pun melangkah kan kaki kekamar kami dilantai dua. tapi dipertengahan jalan Maura membisikkan sesuatu ditelinga Naura tapi masih dapat aku dengar.
"awas kalo kamu membocorkan semuanya" bisik Maura lirih ditelinga Naura, Naura yang dibisiki seperti itu pun melirik kearahku dan aku memilih pura-pura tak tahu. Maura melangkahkan kaki menuju kamarnya lebih dulu, setelah Maura masuk kedalam kamarnya aku dan Naura melangkah kan kaki menuju kamarku dengan terburu-buru. setelah sampai kami pun masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
"ada apa sih, seperti dikejar setan aja" tanya mas Bayu yang melihat kami memasuki kamar dengan nafas terengah-engah.
"mas...." panggilku pada mas Bayu yang menatapku dan Naura dengan heran.
"ada apa? kenapa kalian ngos-ngosan kaya gitu. kamu jangan lari-larian sayang, ingat perut kamu semakin hari semakin besar. hati-hati" kata mas Bayu mengingatkan.
"maaf mas, tapi mas memang harus tau ini. tapi sebelumnya, apa mas masih memasang cctv dan membayar orang untuk membuntuti Maura?" tanyaku pada mas Bayu yang menyerit heran karna pertanyaanku.
"kenapa memangnya?" tannya mas Bayu.
"jawab saja dulu mas" kataku mendesak mas Bayu.
"untuk cctv masih, tapi untuk orang bayaran. sudah dua bulan ini mas cabut, karna tau sendiri kan. Maura tidak berbuat macam-macam pada kita beberapa bulan ini, makanya mas tidak membayar mereka lagi. memangnya kenapa si?" tanya mas Bayu membuatku dan Naura saling pandang sedetik kemudian aku pun menganggukan kepala mengkode Naura untuk menceritakan apa yang direncanakan Maura.
"jadi begini mas" kata Naura memulai menjelaskan apa yang ia ketahui dan apa yang tadi Maura bisikkan ketika ditangga mau kelantai atas.
"astaga jadi begitu, tapi kita ngga bisa langsung gegabah gitu aja. kita juga harus merencanakan sesuatu untuk mencegah Maura berbuat seperti itu, emm gimana ya. apa kalian ada yang punya ide?" tanya mas Bayu, aku dan Naura pun menggelengkan kepala.
__ADS_1