
hari berikutnya. Bayu sekeluarga pun melakukan perjalanan menuju tempat wisata guci dengan ditemani oleh anak bi Minah yang sudah berusia remaja tersebut.
"kalian semua hati-hati ya jangan ada yang terpisah, disana pasti rame banget" kata bi Minah pada semua orang.
"iyaa bi, kami pasti sama-sama terus. tenang aja bi" jawab Naura yang juga diangguki oleh yang lainnya.
"iyaaa, bibi hanya mengingatkan kok" jawab bi Minah dengan mengembangkan senyum.
mereka semua pun berangkat meninggalkan bi Minah yang memang tak bisa ikut karna harus menjaga sang suami yang terbaik sakit diatas ranjang, padahal Rita dan juga Bayu sudah pernah menawarkan pengobatan untuk suami bi Minah. namun, beliau menolak karna tak ingin lagi merepotkan Bayu dan juga Rita.
"dek, dari sini jauh ngga si de lokasinya?" tanya Naura memecah keheningan didalam mobil bertanya pada anak dari bi Minah.
"lumayan mbak, bisa satu sampai satu setengah jam si perjalanan kesana" jawab anak bi Minah membuat Naura menganggukan kepala.
"kamu udah pernah kesana?" tanya Naura lagi.
"belum mbak, dari pada buat kesana mendingan uangnya buat berobat bapak mbak" jawabnya dengan menundukkan kepala membuat Naura merasa bersalah.
"oohh iyaa iyaa maaf ya dek" kata Naura membuatnya tersenyum kecil.
"gapapa kok mbak, kata ibu aku harus mengutamakan menabung. kalo seandainya saat ini kita belum bisa ketempat yang kita inginkan, insyaallah suatu saat kita bisa kesana" jawabnya membuat semua yang ada didalam mobil mengembangkan senyum.
"buktinya ini, aku yang orang sini belum pernah ke guci tapi Alhamdulillah hari ini aku akan kesana sama kalian semua. iyakan?" lanjutnya membuat yang lain menganggukan kepala.
"iyaaa, kamu sekolah aja dulu yang bener ya dek. biar bisa menaikkan derajat orangtua kamu, kalo boleh tau cita-cita kamu apa?" tanya Bayu pada anak bi Minah yang ternyata bernama Ade.
"cita-cita aku mau jadi pengusaha sukses mas, biar bisa merubah kehidupan ibu dan juga bapak juga membuka lapangan kerja buat anak-anak yang seumuran aku dikampung nantinya" jawabnya dengan tersenyum.
"masyaallah, semoga cita-cita kamu terkabul ya de. yang penting kamu rajin sekolahnya, biar jadi anak pintar dan menggapai cita-cita yang kamu inginkan" kata Rita yang juga diangguki oleh yang lainnya.
"iyaa mbak, pasti. kalo bukan Ade yang merubah keadaan orangtua Ade, siapa lagi mas mbak. kalian tau sendiri keadaan mereka bagaimana, ngga mungkin kami terus mengandalkan bude Surti" jawabnya dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"gapapa to le, bude kan ikhlas bantuin keluarga ibumu. ibumu kan adiknya bude mu Iki to" jawab bi Surti yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Ade.
"andai keluarga bapak kaya bude Surti, kami pasti ngga akan hidup kekurangan seperti ini bude" jawabnya membuat Rita, Bayu dan yang ada didalam mobil tersebut menyeritkan kening termasuk bi Surti.
"memangnya kenapa de?" tanya bi Surti mencari informasi yang tidak ia ketahui dari adiknya.
"bude, bude tau sendiri kan kalo keluarga bapak didesa sebrang itu orang berpunya. tapi kenapa mereka justru ngga mau bantu bapak disaat bapak lagi kesulitan bude, dulu waktu bapak masih kerja mereka sering banget datang kerumah dan begitu menghargai bapak dan ibu tapi disaat bapak sakit seperti sekarang. ketika dimintai tolong, mereka justru mengusir aku dan juga ibu bude" jawab Ade membuat bi Surti tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh anak berusia enam belas tahun itu.
"apa yang kamu katakan itu bener de?" tanya Bayu yang langsung diangguki oleh bocah remaja tersebut.
"buat apa aku bohong mas, waktu itu aku sendiri yang mengantar ibu kerumah kerabat bapak disaat bapak dirumah sakit. tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu, sampai akhirnya kami terpaksa menghubungi bude Surti karna tak tau harus kemana lagi" jawabnya sambil meneteskan air mata.
"memang dulu suami bi Minah kerja apa bi?" tanya Rita pada bi Surti.
"dulu si Ruslan itu kerja diproyek sebagai pemborong, yaah namanya sebagai pemborong pasti dapat bagiannya lumayan to. mungkin itu yang menyebabkan keluarganya menghormati Ruslan, tapi yaaa menurut Minah semuanya berubah seketika setelah Ruslan sakit karena kecelakaan kerja pada waktu itu" jawab bi Surti yang juga diangguki oleh Rita dan juga Bayu.
"kecelakaan kerja? berarti mas Ruslan dapat tunjangan dong dari perusahaan oembangun itu?" tanya Bayu yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Ade.
"ngga? nggamungkin! kapan kejadiannya? dan apa kamu tau perusahaan apa yang saat itu dipegang bapak kamu proyeknya?" tanya Bayu yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Ade.
"ngga tau mas, bapak udah kecelakaan kerja semenjak delapan bulan yang lalu. dan selama itu keluarga dari bapak ngga ada satupun yang datang kerumah" jawab Ade membuat Bayu dan juga Rita saling pandang.
"delapan bulan yang lalu? coba nanti biar aku suruh orangku untuk mencari tau, karna menurutku ini ada hak pegawai jika memang mas Ruslan seperti ini karna kecelakaan kerja" jawab Bayu yang juga dijawab anggukan kepala oleh bapak Rita dan juga yang lainnya.
"iyaa kamu benar bay, sebaiknya kamu bantu. setidaknya mereka mendapatkan keadilan atas apa yang menjadi hak mereka" jawab bapak Rita yang diangguki oleh Bayu.
"iyaa pasti Bayu bantu pak, kamu tenang aja ya de. mas pasti akan usut semuanya hingga kalian mendapatkan hal yang seharusnya kamu terima" jawab Bayu membuat Ade manganggukan kepala.
"iyaa mas, makasih ya mas udah mau bantuin keluarga aku. untung bude Surti bertemu dengan keluarga sebaik kalian, jadi kami pun ikut terbantu" jawab Ade membuat yang lainnya pun ikut tersenyum.
"mungkin ini memang udah takdir Ade, semoga semuanya bisa cepat ketauan dan bisa lebih jelas lagi" jawab Naura yang langsung diangguki oleh Ade.
__ADS_1
"iyaa mbak" jawabnya singkat dengan tersenyum.
"bude, boleh ngga aku makan tahu Aci diguci nanti. katanya disana tahu Aci nya enak, aku mau bude" kata Ade pada bi Surti merengek seperti anak kecil.
"iyaa boleh kok le, makanlah sepuas mu. bude pasti izinkan asal secukupnya aja ya" jawab bi Surti dengan terkekeh kecil.
"alaah bude, gimana si katanya sepuasnya tapi kok berubah jadi secukupnya aja" jawab Ade mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
"alaahh udah besar pun masih aja merajuk seperti anak kecil, sudahlah tak pantas kamu le" jawab bi Surti membuat Ade semakin mengerucutkan bibir.
"eehh Ade, kok kamu ngga coba main aplikasi toktok aja itu loh kan menghasilkan juga jaman sekarang" kata Naura membuat ade menghela nafas.
"huh, gimana mau main aplikasi seperti itu mbak. wong aku Yo ora nduwe ponsel canggih koyo ngono mbak mbak" jawabnya membuat Naura bingung dan melirik bi Surti yang terkekeh.
"katanya dia ngga punya ponsel canggih nak, jadi gimana dia mau main aplikasi seperti itu" jawab bi Surti yang langsung diangguki oleh Naura.
"oalaahh sayang sekali, emm tenang aja aku pastikan setelah pulang dari guci nanti kamu pasti udah punya ponsel canggih seperti itu. kamu mau model yang gimana, bilang aja sama aku. oke?" kata Naura melirik Bayu dan juga Rita secara bergantian.
"oalaah mana mungkin to mbak, dalam mimpiku ya iyoo" jawab Ade disambut gelak tawa oleh yang lainnya.
"udah tenang aja, kan aku bilang kalo aku yang akan pastikan" jawab Naura membuat Ade terpaksa menganggukan kepala.
"iyaa iyaa terserah mbak Naura saja" jawabnya dengan pasrah membuat Naura terkekeh sambil melihat kearah mas dan juga kakak iparnya secara bergantian.
"sudahlah ketawanya, kok kamu ketawa mulai nau. kering gigimu ntar" kata Bayu membuat Naura menghentikan tawanya.
"yaa memangnya kenapa, dikarang gitu? ngga kan" jawab Naura dengan mengerucutkan bibir.
"udah-udah kalian ini selalu aja deh akhirnya bertengkar kan" kata ibu Rita menengahi keduanya.
"yaa abisnya mas Bayu duluan itu Bu, emangnya aku mengatwain dia. orang aku ketawa sama Ade kok" jawab Naura mengadu pada ibu Rita.
__ADS_1
bersambung....