
"apa udah siap Bu, nau?" tanyaku saat melihat ibu mertua dan Maura berada dibawah tangga menungguku.
"sudah kak" jawab Naura merapihkan pakaiannya.
"sudah rit, Ayuk hati-hati kamu turunnya" kata ibu memegang sebelah tanganku ketika menuruni tangga.
"yasudah Ayuk kita jalan" kataku sambil melangkah kearah depan.
"kita berangkat naik apa mbak?" tanya Naura.
"kita pesen taksi online aja gimana nau?, kamu ada kan aplikasinya?" tanyaku pada Naura yang langsung menganggukan kepalanya.
selang lima belas menit kemudian taksi online yang dipesan Naura pun sudah datang, kami pun segera menaiki dengan Naura disamping supir sedangkan aku dan ibu berada dibarisan tengah. setelah semua masuk taksi online pun melaju membelah jalanan menuju salah satu supermarket terlengkap yang ada didaerah kami, tak lama kami pun sampai di supermarket tersebut.
"kamu sebaiknya cari keperluan kamu dulu nau, nanti baru temenin Rita cari barang keperluannya" kata ibu mertua pada Naura.
"iyaa Bu, kalo gitu Naura cari barang yang Naura mau dulu. ibu sama mbak Rita cari buah aja dulu, kan ga terlalu jauh jaraknya" kata Naura. kami pun menganggukan kepala, lalu berjalan kearah yang kami tuju masing-masing.
aku dan ibu berjalan kearah tempat penyimpanan buah-buahan, sedangkan Naura ke tempat alat kosmetik.
setelah dua puluh menit naurapun kembali menghampiri kamu dengan satu keranjang penuh cemilan miliknya, aku dan ibu yang melihat pun melongo tak percaya.
"ini semua cemilan kamu nau? tanyaku pada Naura yang menganggukan kepala.
"iyaa mbak, banyak yaa?? ini kan buat Setok aku mbak dikamar, kalo kadang males buat kedapur kalo malem" jawab Naura, sedangkan ibu hanya menggelengkan kepala.
aku dan ibu mertua pun melanjutkan acara belanja kami, begitu banyak bahan yang habis jadi kami beli banyak sekali barang. akibatnya, kami sendiri jadi kesusahan membawanya. terpaksa kami harus memakai troly untuk membawa belanjaan kami sampai taksi online yang kami pesan untuk mengantar pulang pun datang.
tepat setelah azan asar kami bertiga sampai dirumah, ternyata mas Bayu sudah datang menunggu dengan wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
"kalian ini dari mana sih, aku pulang kok ngga ada orang dirumah" kata mas Bayu ketika kami baru saja masuk kedalam rumah.
"kita abis belanja mas, Minggu ini kan belum belanja. ini kami belanja sekalian banyak, karna ngga mungkin aku setiap Minggu keluar hanya untuk belanja ini" jawabku dengan mendudukan diri disofa ruang keluarga.
"kok ngga ngabarin aku sih sayang, aku kan khawatir. takut kamu kenapa-kenapa" jawab mas Bayu yang langsung duduk disampingku dan merangkulku.
"maaf mas, aku kan perginya sama ibu juga sana Naura. aku gapapa kok" jawabku disertai senyuman.
"yasudah, lain kali biar mas yang antar ya" kata mas Bayu.
"iyaa mas, Ayuk kembali kekamar. aku lelah" kataku oada mas Bayu, dan berpamitan pada ibu mertua dan Naura yang baru memasukan sebagian barang belanjaan kami kedalam kulkas.
aku dan mas Bayu melangkah naik keatas untuk kembali kedalam kamar, mas Bayu menuntunku dengan hati-hati. aku pun berjalan dengan sangat pelan, karna takut terpeleset diantara anak tangga.
"hati-hati sayang" kata mas Bayu.
kami pun sampai didepan kamar, mas Bayu membuka pintu kamar dan kami melangkah memasuki kamar. kemudian aku duduk dipinggiran kasur, dan bersandar pada sandarannya dengan kaki berselonjor.
"kaki kamu pasti pegel ya sayang?" tanya mas Bayu.
"iyaa mas, lumayan pegel kaki aku ini mas" jawabku sambil memijit pelan betis sampai mata kaki.
"sini biar mas pijitin" kata mas Bayu membuatku tersentak kaget.
"ngga usah mas, gapapa biar aku aja pijat pelan-pelan. aku bisa kok" jawabku yang merasa tak enak jika harus dipijat oleh suami sendiri, rasanya kurang sopan.
"gapapa sayang, ini sudah tugas mas kan buat bantu kamu. kamu pasti lelah seharian dirumah, maka biar mas bantu kamu pijat.
"iyaa mas, makasih ya mas" jawabku pada mas Bayu yang tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"mas kita sholat dulu, aku belum sholat tadi. mas juga belum sholat kan?" tanyaku pada mas Bayu.
"iyaa belum, yasudah Ayuk mas bantu ambil air wudhu nanti kita gantian" jawab mas Bayu, aku pun menganggukan kepala kemudia berdiri melangkah dibantu mas Bayu yang masih mengapit lengan kiriku.
aku pun mulai berwudhu dengan mas Bayu masih berada disampingku mengawasi, setelah selesai mas Bayu membantuku memakai mukenah kemudian menggelarkan sejadah untukku.
"mas ambil air wudhu dulu ya sayang, kamu tunggu dulu disini" kata mas Bayu setelah selesai menggelarkan sejadah milikku, kemudian melangkah menuju kamar mandi dan tak lama kembali mengambil sarung dan juga baju Koko serta peci miliknya. ia pun menggelar sejadah miliknya sendiri kemudian kami melakukan sholat asar berjamaah.
setelah selesai aku merebahkan diri dikasur dengan kaki menyelonjor, ingin rasanya membantu ibu mertua memasak menu makan malam tapi apakah daya mas Bayu tidak mengizinkan dan aku pun memilih mengalah mengikuti ke inginkan mas Bayu.
aku coba membuka ponsel dan melanjutkan membaca novel yang belum selesai kemarin, tapi tak lama terdengar suara gaduh dari lantai bawah. aku dan mas Bayu pun melangkah keluar untuk mengetahui apa yang terjadi dilantai bawah itu, terlihat Naura dan Maura yang sedang beradu mulut.
"ada apa ini Maura, Naura?" tanya mas Bayu dengan suara tegas.
"mas Bayu tanya sama anak gatau diuntung ini, lihat dia menumpahkan cemilanku saat aku sedang asiknya menonton Drakor di tv mas. kurang ajar sekali kan!" kata Naura dengan nada kesal.
"apaan si nau, aku kan ga sengaja. kaya gitu aja di permasalahan" jawab Maura dengan santai.
"heh mata kamu buta ya galiat kalo adantv menyala berarti ada yang sedang menonton" kata Naura masih dalam mode galak, Maura yang dibicarakan begitu pun tersukut emosi.
"heh yang sopan kalo ngomong sama kakak sendiri, gaada sopan sopannya. liat tuh mas Bayu adik kamu, kaya anak ga punua pendidikan!" kata Maura menunjuk Naura dengan wajah angkuh dan menahan amarah.
"heh yang ga pernah didik siapa? aku, atau kamu yang mau jadi pelakor! aku sudah diam ya berbulan-bulan melihat sikap kamu yang sok baik, bukan berarti aku akan bodoh. aku tau mana yang bener-bener baik mana yang hanya berpura-pura"kata Naura menghentikan omongannya membuat kami yang melihat kegaduhan ini pun menyerukan kening, termasuk ibu mertua yang juga nampak heran dengan perkataan yang dilontarkan Naura.
"maksud kamu apa nau?" tanya ibu mertua pada Naura yang tersenyum sinis menatap maura, sedangkan Maura menatap tajam kearah Naura tapi Maura tidak menghiraukan tatapan Maura.
"Bu, mbak, mas Maura itu sebenernya masih sama seperti dulu, bahkan jauh lebih jahat yang akan ia perbuat untuk keluarga ini. Maura akan......" kata Naura terpotong dengan perkataan Maura yang membuat kami semua menoleh.
"nau, kamu kalo memang masih masarah sama kakak jangan kaya gini. jangan fitnah kakak kamu sendiri, memang kakak bukan kakak kandung kamu tapi kakak tetep bagian dari keluarga ini" kata Maura menitikan air mata menghadap ibu mertua yang tampak terkejut dengan perkataan Maura. Naura pun mendengus sebal mendengar perkataan Maura yang memojokkan dirinya.
__ADS_1