Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
seratus13.


__ADS_3

bi asih masih dengan setia mendengarkan segala keluh kesah yang dialami oleh sang majikan, ntah apa yang saat ini dapat bi asih berikan agar sang majikannya ini tenang. bi asih pun bingung, dihadapan anak dan menantunya ibu Bayu seolah membela Maura tapi kenapa saat sendiri seperti ini sang majikan merasa bersalah seperti yang ia lihat kali ini. itu yang akan bi asih tanyakan nanti pada ibu Bayu.


"apa yang harus aku lakukan asih, mereka pun sama-sama anakku. aku sama menyayangi mereka semua sesuai porsinya, apa aku salah jika aku sebagai seorang ibu tak nyaman dengan keributan mereka" kata ibu Bayu dengan Isak tangis seorang ibu yang menyayat hati bi asih.


"ibu yang sabar ya Bu, asih ga bisa kasih komentar apapun. asih hanya asisten rumah tangga di rumah ini, bukan ranah asih untuk ikut campur. asih hanya bisa doakan semoga segala permasalahan dirumah ini bisa cepat diselesaikan" jawab asih dengan menyentuh salah satu tangan majikannya tersebut.


"iyaa asih, semoga apa yang menjadi doamu pun berbalik pada dirimu sendiri" jawab ibu Bayu menyentuk bahu asih dan sedikit tersenyum.


"maaf Bu, kalo boleh tau. kenapa ibu bersikap berbeda didepan anak dan menantu ibu dengan ketika ibu sedang sendiri seperti ini?" tanya sih dengan ragu.


"maksud kamu bagaimana?" tanya ibu Bayu menghapus sisa air mata diwajahnya.


"iyaa seperti tadi pagi. maaf Bu bukan maksud saya menguping, tapi memang saya ada dirumah keluarga saat itu. kenapa ibu berkata seperti itu pada mbak Rita, dan juga kenapa ibu menyalahkan dia atas apa yang terjadi dirumah ini? maaf Bu, bukankah ibu tau sendiri jika awal mula semua yang terjadi adalah karna mbak Maura. bahkan ibu pun merasakan bagaimana kejamnya mbak maura pada ibu" tanya bi asih pada ibu Bayu dengan menganggukan kepala.


"suatu saat kamu akan tau asih, tapi mungkin tidak sekarang. yang harus kamu tau, saya menyayangi ketiga anak saya dengan sama rata tanpa membedakan salah satu dari mereka. tapi setelah saya pikir, memang semenjak Bayu menikah dengan Rita keadaan rumah ini berubah. tak sehangat sewaktu belum ada Rita, bahkan Bayu dan Maura pun sudah jarang bertegur sapa semenjak pernikahan keduanya. padahal saya ingin, walaupun mereka sudah menikah satu persatu mereka akan tetap menjalin komunikasi yang baik tapi ternyata semua tak seperti harapan saya" jawab ibu Bayu dengan menteskan air matanya.


"tapi menurut saya, terlalu berlebihan jika ibu menyalahkan pernikahan mas Bayu dan mbak Rita. mohon maaf bukannya saya membela sebelah pihak, seperti yang kita tau Bu bahkan keduanya tak melakukan apapun Bu bahkan ketika mbak Maura berbuat jahat pada mereka. mereka hanya melindungi diri mereka Bu, bahkan sampai saat ini" jawab bi asih membuat ibu Bayu mendongakkan kepala.


"jadi maksud kamu, saya yang salah begitu asih?" tanya ibu Bayu dengan dahi mengerut.


"bu-bukan begitu Bu, saya hanya berfikir logis sesuai apa yang saya lihat dan saya tau Bu. mohon maaf jika perkataan saya salah" jawab bi asih dengan kepala tertunduk.


"setelah semua yang saya ceritakan tadi ternyata ngga ada yang kamu mengerti ya asih, saya pikir kamu bisa manjadi tempat buat saya berbagi cerita tau nya kamu sama saja membela mereka." jawab ibu Bayu dengan ketus membuat bi asih mendongakkan kepala menatap sang majikan dengan rasa bersalah.


"maaf Bu, saya sudah bilang saya tidak membela siapapun. saya hanya berucap apa yang sesuai dengan apa yang saya pikirkan, tapi jika memang menurut ibu salah. saya minta maaf" jawab bi asih kembali menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"sudahlah, apa Rita sudah pergi ke kantor polisi?" tanya ibu Bayu pada bi asih, yang ditanya pun hanya menggelengkan kepala.


"ntah, sepertinya ngga jadi Bu. karna tadi mbak Rita ada didalam kamarnya sewaktu makan siang" jawab bi asih menatap wajah sang majikan yang masih sembab akibat menangis.


ibu Bayu pun menganggukan kepala mendengar perkataan bi asih, kemudian bi asih pun berpamitan keluar dari kamar majikannya dengan kalah setengah membungkung menghormati sang empunya kamar.


"Alhamdulillah akhirnya keluar juga dari kamar ibu, tiga puluh menit aku disana rasanya seperti seharian. fyuuuhh" kata bi asih mengelap keringatnya yang bercucuran.


"ada apa bi asih?" kata Rita mengagetkan bi asih yang baru saja masuk kedalam dapur.


"astagfirullah, mbaaakk ngagetin bibi aja si" jawab bi asih memegang dadanya karna terkaget melihat Rita yang berada didalam dapur seorang diri.


"abis bi asih jalan kok bengong, mana sambil ngomong lagi" jawab Rita membuat bi asih terkekeh kecil.


"hehe maaf ya mbak, tadi tuh bi asih habis dari kamar ibu. ibu itu habis cerita sama asih mbak, tapi bi asih tegang karna tib-tiba aja ibu seperti marah. mungkin asih ada salah bicara waktu respon cerita ibu" jawab bi asih membuat Rita sedikit menganggukan kepala.


"emm mbak Rita apa mbak Rita baik-baik aja?" tanya bi asih dengan dahi menyerit heran.


"kenapa? aku baik-baik aja bi" jawab Rita dengan santai sambi menuang jus dalam kemasan kedalam gelas bening.


"emmm tapi tadi pagi,,,," jawab bi asih terputus karna Rita telah mengerti apa yang akan bi asih katakan.


"bi asih tenang aja, aku baik-baik aja kok. sakit hati sedikit sih, tapi gimana ya bukannya salah faham antara mertua dan menantu itu biasa kan? jadi, buat apa terus diratapi. aku tau dan kenal betul dengan ibu, jika sampai beliau seperti ini berarti hatinya benar-benar lelah dengan segala masalah yang terjadi dirumah ini. tugas ku justru harus membuatnya kembali nyaman, agar sikapnya kembali seperti semula" jawab Rita membuat bi asih terkagum dengan jawaban Rita. seketika senyum indah terbit diwajah bi asih, kemudian bi asih pun menganggukan kepala dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Rita.


"betul, mbak Rita hebat. bibi malah takut jika mbak Rita benar-benar akan mengikuti apa yang mbak Naura bilang untuk pindah lagi dari rumah ini, justru kasian dengan ibu mbak" jawab bi asih dengan mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"betul, lagi pula mungkin ini memang cobaan untuk Rita bi. yaa Rita jalanin saja, toh ibu tetaplah ibu suami Rita yang berarti ibu Rita juga" jawab Rita dengan mengembangkan senyum.


"yaallah begitu berlapang dada mbak Rita, semoga segala kebaikan mbak Rita dibalas kelembutan hati ibu agar bisa seperti dulu lagi pada mbak Rita" jawab bi asih membuat Rita tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"aamiin" jawab Rita dan bi asih serentak. kemudian keduanya pun tertawa bersama.


"oiyaaa, mbak Rita kok ngga jadi kekantor polisi si, bukannya tadi mas Bayu mau jemput mbak rita jam sepuluh pagi tadi?" tanya bi asih penasaran.


"iyaa bi, mas Bayu ngga bisa tadi karna ada meeting mendadak investor dari luar negeri" jawab Rita sesekali menegak minuman yang dia pegang.


"oohh gituu, semakin lama dong proses penahan mbak Maura kalo belum mendapatkan keterangan dari saksi" jawab bi asih membuat Rita menggedikkan bahu.


"ntah bi, Rita juga ga ngerti." jawab Rita dengan acuh tak acuh.


"biarin aja semakin lama semakin lama juga dia ditahan" jawab Naura yang tiba-tiba saja ada ditangga bagian tengah dengan menggendong keena.


"jangan keras-keras nanti ibu dengar malah bikin berantem lagi, nau" jawab Rita yang langsung diangguki oleh bi asih.


"biarin aja si mbak, orang kalo salah ya dihukum bukan dibenarkan. biarin aja kita lama ngasih keterangannya, toh memberikan atau tidak tetap aja Maura akan dihukum dengan hukuman yang setimpal. begitupun dengan semua orang yang membantunya, biar puas mereka" jawab Naura dengan suara yang sengaja dibuat sekeras mungkin.


Rita yang merasa tak enak pun mengambil alih keena dalam gendongan Naura, dan berusaha membuat Naura mengecilkan suaranya.


"nau, jngan sampai ibu keluar dan mendengar semua apa yang kamu ucapkan nau." kata Rita yang sudah gelisah takut-takut sang mertua tiba-tibe keluar dari kamarnya dan mendengar semua perkataan Naura.


"Naura kan udah bilang mbak, biarin aja kalopun dia dengar ya bagus. biar ibu ngga terus bela-belain anak yang sudah jelas bersalah itu, udah tau anak kriminal masih aja dibela mati-matian. malah nyalahin orang lain lagi" jawab Rita dengan nada kesal.

__ADS_1


ibu Bayu yang merasa terusik dengan apa yang ia dengar dari dalam kamar pun, berusaha tak menampik kekesalannya. ia berusaha menahan emosinya, mengingat sepertinya Naura mengetahui sesuatu yang menjadi masala lalu dirinya dan kebenaran tentang Maura.


__ADS_2