
"tapi bi Minah gapapa kan bi?" tanya Rita pada bi Minah yang hanya menjawab dengan senyum.
"tenang aja mbak, saya ngga apa kok" jawabnya dengan tersenyum lembut.
"masyaallah, banyak banget manusia seperti itu didesa ini. benar-benar mulut yang sangat berbisa untuk ukuran warga kampung ya Bu" kata bapak Rita yang juga diangguki oleh ibu Rita.
"iyaa pak, bahkan dikampung kita pun tak ada orang yang mulutnya seperti ibu itu. semua warga kampung selalu bahu membahu menolong tetangga yang masih membutuhkan, apalagi yang suka menyinyir dan berkata yang tidak-tidak pada tetangga lainnya" jawab Ribu Rita menggelengkan kepala.
"apa semua warga sini seperti itu bi? pedas sekali mulutnya" tanya Rita yang penasaran menatap bi Minah yang menggelengkan kepala.
"yaa ngga to mbak, mereka berdua itu memang biang gosip dikampung ini. maklum aja ya mbak, namanya juga masih tinggal diperkampungan. yaa begini lah, kita ngga bisa mengontrol perkataan orang makanya lebih baik kita sendiri yang mengontrol perkataan kita untuk orang lain" jawab bi Minah yang langsung disahuti oleh Naura.
"yaa tapi kalo orang kaya gitu mah mendingan disautin bi, bukan malah bibi diem aja. orang kaya gitu kalo terus didiemin pasti semakin menjadi-jadi bi" kata Naura yang langsung diangguki oleh Rita.
"bener itu kata Naura bi, kenapa si ngga bibi lawan aja orang kaya gitu. Rita juga dari kampung, tapi setau Rita dikampung Rita mah ngga ada warga yang nyoyir seperti itu loh bi. ini loh, masyaallah" jawab Rita sambil menggelengkan kepala.
"udah lah gapapa, yuk lanjut masukin semua barangnya biar cepet beres. jadi besok bisa jalan-jalan" kata bi Minah membuat mereka tersadar dengan kerjaan mereka yang belum selesai.
mereka pun mulai menata kembali barang-barang yang baru dibeli oleh Rita, kemudian memindahkan barang lama dihalaman belakang dimana banyak barang yang tidak terpakai disalah satu kamar yang dibuat sebagai gudang penyimpanan.
setalah berjam-jam membersihkan dan menata barang mereka pun mulai membersihkan diri secara bergantian, kemudian istirahat didalam kamar masing-masing dimana semua isinya sudah diganti dengan yang baru.
"Alhamdulillah sudah diganti semua ya mas, jadi nyaman kasurnya dan jadi lebih luas" kata Rita yang langsung diangguki oleh Bayu.
__ADS_1
"iyaa sayang, Alhamdulillah akhirnya selesai juga hari ini. nanti tinggal makan malam terus tidur yang cepat, biar besok bisa fresh lagi" jawab Bayu membuat Rita mengangguk antusias.
"iyaa mas, aku udah ngga sabar mau ke guci besok. pasti seru, ini kali pertama aku kesana mas" jawab Rita dengan senyum mengembang.
"iyaa sayang, mas tau kok. baiklah, besok mas akan kasih apapun yang kamu mau besok saat diguci" jawab Bayu membuat Rita tersenyum lebar.
"beneran mas?" tanya Rita memastikan.
"iyaalah sayang, mas pasti akan menepati janji mas pada kamu. jangan khawatir" jawab Bayu membuat senyum Rita semakin mengembang.
"kamu emang paling ngerti aku deh mas" jawab Rita memeluk manja Bayu yang membalas pelukan Rita.
"mas, menurut kamu bagaimana yang terbaik untuk keluarga bi Minah? aku kok ngga tega ya kalo beliau di pandang rendah seperti itu, apalagi dengan kondisi kepala keluarga mereka yang seperti itu. memang benar, jadinya bi Minah dan keluarganya menggantungkan hidup pada ibu Surti. tapi andai nanti ibu Surti tak ada, akan dengan siapa mereka bergantung" kata Rita membuat Bayu pun sedikit berpikir.
"iyaa kamu benar sayang, lantas menurut kamu bagaimana bagusnya?" tanya Bayu pada Rita.
"boleh sayang, boleh banget. nanti kita bicarakan dengan ibu Surti dan juga yang lainnya dulu ya sayang" kata Bayu yang langsung diangguki oleh Rita.
"iyaa mas, sebaiknya kita istirahat lumayan sampai nanti makan malam" kata Bayu membuat Rita menganggukan kepala.
keduanya pun akhirnya tertidur dengan sendirinya, hingga suara adzan kembali membangunkan mereka. Rita dan juga Bayu pun bergegas melakukan sholat Maghrib berjamaah, setelah itu mereka pun keluar dari kamar bertemu dengan keluarga yang lain dan membicarakan tentang keinginan Rita membukakan toko kelontong untuk bi Minah didepan rumahnya.
"Bu, pak kami berdua mau bicara dengan bapak ibu dan juga ibu Surti. bisa?" tanya Bayu dengan nada sopan.
__ADS_1
"tentu aja bisa nak, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya ibu Rita dengan raut wajah heran.
"begini Bu, pak dan juga ibu Surti. setalah aku dan juga Rita berdiskusi, kami ingin sekali membantu bi Minah untuk membuat toko kelontong. agar beliau memiliki kesibukan yang berpenghasilan, melihat dari seringnya keluar ucapan kasar dari warga disini karna keadaan suami bi Minah kamu sangat tidak tega. apalagi saat ini yang hanya bi Minah andalkan hanya ibu Surti, mohon maaf andai suatu saat ibu Surti tidak ada kami khawatir bi Minah justru akan lebih kerepotan lagi hidupnya" jawab Bayu yang juga diangguki oleh Rita.
"iyaa mas Bayu benar Bu, pak. menurut bapak dan juga ibu bagaimana?" tanya Rita pada kedua orangtuanya yang saling berpandangan.
"Alhamdulillah kami justru senang mempunyai anak yang sangat memperhatika sekitarnya nak, tentu kami setuju terlebih lagi sepertinya Minah memang sangat membutuhkan semua itu dibanding dia harus bekerja keluar rumah dan betul kata Bayu Minah juga ngga bisa terus mengandalkan bi Surti selamanya" jawab bapak dengan bijak.
"iyaa pak, Alhamdulillah kalo bapak mengerti dengan apa yang kami maksud. jadi, semoga usaha ini bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga bi Minah dikemudian harinya" jawab Rita dengan nada tulus.
"tapi nak, Bu pada tidak terlalu merepotkan. apalagi nak Bayu sudah mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk keperluan rumah ini, ditambah lagi beliau juga mau membantu membukakan usaha untuk adik saya" jawab bi Surti dengan menundukkan kepala.
"insyaallah kami ikhlas kok Bu, jawab ini semua kan nanti juga untuk kelangsungan hidup keluarga bi Minah Bu" jawab Rita berusaha meyakinkan bi Surti yang terus aja merasa tak enak dengan Rita dan juga Bayu.
"udah gapapa kok Bu, terima aja apa yang diberikan oleh mbak Rita dan juga mas Bayu. ini bukan untuk bi Minah dan juga suaminya tapi untuk anak bi Minah yang masih memerlukan banyak kebutuhan Bu" jawab Naura yang tiba-tiba saja datang mendengar perkataan para orang dewasa tersebut.
"benar Bu apa yang dikatakan oleh Rita dan juga naura, mana mungkin kita bersenang senang sementara kita tau saudara kita masih ada yang sangat kesusahan dalam mencari makan. sebaiknya terima apa yang diberikan oleh mereka, toh ini untuk anak bi Minah dan suaminya" jawab ibu Rita yang langsung dijawab anggukan kepala oleh bi Surti.
"baiklah kalo begitu, saya izinkan nak Bayu memberikan bantuan pada Minah adik saya dan juga keluarganya" jawab bi Surti membuat lima orang tersebut melebarkan senyumnya.
"Alhamdulillah, saya kira ibu akan tetap kekeh tak mengizinkan niat kami" jawab Rita membuat mereka semua terkekeh kecil.
"mana mungkin nak, ibu malah senang dan berterimakasih karna kalian sudah mau membantu keluarga ibu. jadi ibu ngga terus kepikiran dengan mereka jika ada sesuatu hal" jawab bi Surti dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"iyaa sama-sana Bu, kata semua kan sekarang keluarga jadi keluarga ibu ya keluarga kami juga. iyakan mas?" tanya Rita pada sang suami yang langsung menganggukan kepala dan tersenyum.
bersambung....