Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
seratus89.


__ADS_3

"yaampun non sedikit-sedikit ngambilnya satu-satu Gitu loh" kata bi asih yang membelalakan mata melihat banyaknya yang diambil oleh Naura dari dalam kulkas.


"gapapa lah bi, kan sekalian gitu loh kalo satu-satu kelamaan bi" jawab Naura terkekeh bersama dengan Salma.


"iyaa tapi ngga gitu juga non, liat tuh masa sampai penuh begitu. emang bisa bisa apa bawanya" kata bi asih.


"bisa bi, tenang aja selagi ada Salma sebanyak apapun pasti bisa dibawa" kata Salma membuat semua orang yang ada didapur itu terkekeh kecil.


"nah kalo ada Salma mah sebanyak apa juga dijabanin, makanan hahahah" kata Nana meledek Salma yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"bercanda Salma yaampun masa sampe bibir maju begitu, biasanya juga kita bercanda begitu. iyakan" kata dini dengan menaik turunkan alisnya. namun, Salma tetap tidak bergeming ia seolah menunjukan tanda merajuk pada ketiga temannya membuat ketiganya menggedikkan bahu dan saling menyenggol satu sama lain.


"hahaha kalian kena prankkkk" kata Salma dengan berteriak membuat ketiga sahabatnya dan juga bi asih seketika menutup telinga mereka.


"yaallah salmaaa, kamu ga bisa ya kalo ngomong itu pelan-pelan hah! pengang kupingku tau gak kamu teriak begitu!!' kata Naura yang tepat berada disebelah Salma, naura pun menumpahkan semua cemilan yang sudah ia ambil dari kulkas akibat kaget dengan ulah Salma.


"hehe maaf nau, abis kalian juga iseng ngeledek aku terus sekalian aja aku gantian ngeledek kalian. kaget kan kaget kan" kata Salma dengan terkekeh, sementara bi asih memegangi dadanya karna kaget dengan suara teriakan Salma.


"tuh liat bi asih jadi kaget begitu, kamu baru sehari disini aja udah hampir bikin bi asih kena serangan jantung sal-sal" kata dini membuat Salma langsung terdiam, ia pun menatap bi asih yang masih memagangi dadanya dengan rasa bersalah.


"maaf ya bi aku buat bibi kaget ya?" kata Salma mendekati bi asih.

__ADS_1


"bibi cuma kegat aja loh mbak Salma, abis suaranya kenceng banget sih. bibi kaget banget, untung aja bibi ngga punya riwayat jantung. kalo punya mungkin bibi udah innalillahi non" kata bi asih membuat keempat remaja tersebut membulatkan mata.


"bibi kok ngomongnya gitu sih, serem banget" jawab Naura dengan nada merajuk.


"itu kan kalo non, yang penting kan bibi ngga punya riwayat jantung" jawab bi asih sembari terkekeh.


"tetep ajalah itu namanya doa, bibi lupa ya kalo ucapan itu juga doa makanya kenapa kita harus jaga lisan" jawab Naura membuat bi asih terdiam dan merasa tak enak dengan anak majikannya tersebut.


"iyaa non maafin bibi, bibi ngga akan ngomong macem-macem lagi. jangan ngambek ya non" kata bi asih menghampiri Naura yang menyedekap tangan didada dan membuang muka tak menatap bi asih ataupun ketiga temannya.


bi asih pun memeluk Naura yang mulai terlihat murung, begitupun dengan ketiga sahabat Naura yang juga ikut memeluk remaja tersebut.


"kayanya kamu harus ke psikolog deh nau, aku ngerasa kamu lebih sensitif dengan perkataan orang yang menjurus ke masalah mental" kata Nana yang langsung diangguki oleh dini.


"bener, aku juga ngerasa begitu. aku sebenarnya mau bilang ini udah sedari lama, tapi aku takut kamu tersinggung. mungkin ini saat yang tepat untuk kamu harus tau kalo kamu memang perlu bantuan psikolog untuk memulihkan mental kamu, maaf ya nau bukan berarti kita bilang kamu ngga waras. tapi kamu hanya lebih membutuhkan bantuan mereka untuk sharing dan memberikan masukan sesuai dengan apa yang kamu rasakan" kata dini yang langsung disambut anggukan kepala oleh Nana dan juga Naura.


"apa kamu yakin Din? aku ngerasa kalo aku baik-baik aja kok selama ini" jawab Naura membuat Nana dan juga dini saling memandang.


"yaa kami ngga yakin nau, tapi kan lebih baik ya itu saran kami. semoga kamu mau membuktikannya, kami ngga bisa berkata apapun karna semua balik lagi ke diri kamu sendiri" jawab Nana yang langsung mendapat anggukan dari dini.


"ngga ada salahnya non kalo cuma konsultasi, hitung-hitung membuang semua beban yang bersarang di kepala non Naura selama ini pada orang yang tepat. bibi yakin kalo seorang psikolog dia ngga akan membuka rahasia pasiennya, mereka sudah ada undang undang yang mengatur untuk merahasiakan keluhan sang pasien. iyakan mbak Nana?" tanya bi asih pada Nana yang langsung menganggukan kepala membenarkan perkataan bi asih.

__ADS_1


"baiklah, aku coba deh. makasih ya kalian udah selalu perhatian sama aku" kata naura kembali memeluk ketiga sahabatnya dan juga bi asih.


"sama-sama non, didalam rumah ini kita adalah keluarga. jadi harus saling membantu, yaa walaupun bibi hanya asisten rumah tangga sih" kata bi asih membuat keempat rema tersebut terkekeh setelah melepaskan pelukan mereka.


"yaa gapapa bi, bibi kan paling ua diantara kita jadi kita anggap bibi orangtua kita selama disini. jangan sungkan untuk menegur kita kalo kita semua salah, iyakan guys" kata Salma membuat yang lainnya pun tersenyum dan menganggukan kepala.


"bener apa yang dibilang Salma bi, kalo yang jauh ibu kandung aku dan yang dirumah mbak Rita ibu angkat aku. nah, bi asih juga bisa jadi ibu untuk kita semua dirumah ini, ibu kost hahahhaa" kata Naura membuat ketiga sahabatnya pun tertawa mendengar guyon darinya pada bi asih.


"bisa aja non, kost dari mana orang ini juga rumahnya non kok. iyakan mbak-mbak, malah kita yang cuma menumpang" kata bi asih disambut tawa lebar tanpa suara oleh Naura.


"udah-udah lanjut lagi bi masaknya, nanti keburu lapar ini perut aku dari tadi ngga selesai-selesai malah ngobrol terus" kata Naura membuat bi asih menepuk keningnya.


"iyaa yaampun tuhkan bibi jadi lupa kalo lagi masak, udah deh kalian mendingan tunggu diruang keluarga aja sana sambil apa kek biar bibi yang cepet-cepet masaknya. kayanya kalo dibantuin malah lama kali ya, nanti malah kalian semua keburu lapar lagi" kata bi asih membuat Nana dan juga dini mengerucutkan bibir nya karna dari tadi memang mereka berdua yang membantu bi asih, sementara Naura dan juga Salma sudah menahan tawa melihat respon dari Nana dan juga dini.


"yaudah kalo gitu kita tunggu didepan aja ya bi, diruang keluarga. jangan lupa kalo udah matang kasih tau kita bi, jangan kelamaan juga masaknya. aku udah lapar" kata Naura sambil mengambil kembali makanan yang berserakan dilantai karna ulahnya.


"emang dasar ya bi asih, padahal kita mau bantuin malah dibilang begitu" kata dini juga diangguki oleh Nana.


keempatnya pun berjalan keruang keluarga diiringi tawa dari Naura dan juga Salma yang mendengar gerutuan dari Nana dan juga dini.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2