
tak terasa kandungan Rita sudah memasuki Minggu ke tigapuluh enam Minggu, hari ini memasuki waktu Rita untuk melakukan cek kandungan. Rita pergi bersama Bayu juga ibu mertua yang ingin mengetahui kondisi kandungan Rita yang mulai memasuki bulan kelahiran ini.
mereka pun sampai dirumah sakit tepat pukul sempat sore, mereka langsung menuju dokter kandungan setelah meminta nomer antrian pada petugas.
selisih dua nomer dari yang baru saja masuk keruang dokter, mereka harus menunggu untuk memasuki ruang praktik.
tak lama tiba giliran Rita yang dipanggil susuter untuk memasuki ruang dokter.
"nyonya Rita" panggil suster jaga itu..
"iyaa sus" jawab ku bangkit dari tempat duduk bersama mas Bayu dan ibu mertua. kami pun memasuki ruang praktik dokter bersamaan, aku langsung duduk dikursi meja dokter dengan ibu mertua sedangkan mas Bayu memilih duduk dikursi tunggu depan ruang praktik.
"apa ada keluhan bu dia Minggu ini?" tanya dokter
"tidak ada dok, Alhamdulillah" jawabku.
"baik, kalo gitu kita periksa dulu ya. ayo berbaring" kata dokter menyuruhku berbaring dibrangkar rumah sakit yang terdapat diruang praktik.
dokter pun mengoleskan gel kepertu Rita dan mengarahkan alat USG pada bagian yang diolesi gel tersebut agar dapat melihat perkembangan bayi dalam kandungan Rita
"bagus, semuanya sangat bagus. sebentar lagi lounching ya baby nya, anak pertama ya Bu" kata Bu dokter yang diangguki oleh Rita. setelah selesai susterpun membersihkan gel yang masih berada diperut Rita kemudian merapihkan pakian Rita kembali, setelah itu mereka kembali duduk berhadapan dengan dokter.
"semuanya bagus ya Bu Rita, ini resep vitamin Bu Rita. jangan lupa kembali lagi kesini dua Minggu kemudian jika belum melahirkan" kata Bu dokter mengingatkan.
"baik dok, kami permisi. Ayuk Bu" kata ku mengajak ibu mertua meninggalkan ruang dokter, keluar pintu ruangan dokter sudah disambut mas Bayu dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"bagaimana, apa kata dokter sayang?" tanya mas Bayu ketika aku baru saja keluar dari ruang praktik dokter.
"gaada apa-apa mas, semuanya baik" jawabku sambil tersenyum, kemudian mas Bayu mengambilkan vitamin untukku. setelah semua selesai kami memutuskan kembali kerumah secepat agar tidak terlalu lelah.
setelah empat puluh lima menit kami pun sampai dirumah, dari luar terdengar suara gaduh didalam rumah. kami pun bergegas memasuki rumah, terlihat Maura dan Naura saling adu debat tiada henti.
"CUKUP!!" bentak mas Bayu, membuat kedua nya menghentikan perdebatan mereka, memang setiap kali bertemu dua orang ini selalu aja berdebat hal yang tidak penting membuat seisi rumah heboh dengan tinggal keduanya.
"apa lagi si ini Maura, nau!" kata mas Bayu menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"ini nih mas Maura, dengan kurang ajar dia masuk kedalam kamar kamu dan mbak Rita. aku yang memergokinya didalam kamar kamu, salahkan dia yang memulai keributan ini!" kata Naura dengan pancaran mata memerah menahan amarah yang belum selesai.
"bohong!! aku ngga ngapa-ngapain mas, mbak, Bu. tadi aku fikir mas Bayu sama mbak Rita ada didalam kamar, makanya aku ketuk ternyata ga dikunci lalu aku masuk dan ternyata ngga ada orang. itu aja!" jawab Maura dengan gugup dan terlihat panik.
"haaalah alesan, tetep aja ngga ada sopan santunnya masuk kedalam kamar orang lain apalagi mereka udah suami istri. lagian ngapain kamu mencari mereka berdua,hah!" kata Maura meneruskan perdebatan. aku, mas Bayu, dan ibu mertua pun mengalihkan pandangan pada Naura yang hanya diam dengan wajah pucatnya.
"mau, ngapain kamu dikamar kami?" tanyaku pada Maura.
"aku,, aku gak ngapa-ngapain mbak. aku fikir mbak ada didalam, aku ingin pinjam charger. iyaa aku mau pinjam charger" jawab Maura dengan tergagap.
"Maura! jawab dengan jelas jangan gagap gagap begitu!" sentak mas Bayu dengan nada tinggi. aku dan ibu mertua pun tersentak kaget dengan bentakan mas Bayu yang begitu keras.
"akuu beneran mas, aku ngga bohong" jawab Maura dengan menundukkan kepala.
"kalo kamu bener, kenapa kamu gagap gagap begitu. hah?! kamu belum berhenti mau membuat aku dan Rita berpisah,hah? jawab!!" bentak mas Bayu dengan suara lebih keras.
__ADS_1
"ti-tidak mas, ak-akuu,,,," kata Maura terputus dengan suara bentakan mas Bayu yang sangat kencang.
"aku apa Maura, jawab yang jelas" kata mas Bayu menahan geram, jawaban Maura sama sekali tak diteruskan. aku semakin curiga dengannya, apalagi pakaian yang ia pakai terlalu terbuka untuk didalam rumah.
maura pun malah menitikan air mata nya seolah dia tersiksa dihakimi seperti ini, air mata buaya yang mengiri langkahnya disusul ibu mertua yang menyusul Maura. mas Bayu hanya menggelengkan kepa dengan pasti.
"dia itu orangtua nya sebetulnya siapa sih, beraninya dia nekat seperti ini dirumah ini" gumam Naura yang masih bisa ku dengar, aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Naura.
"sudah, istirahat saja dulu sana nau. ngga lelah kamu berantem terus sama Naura?" tanyaku pada akhirnya.
"capek mbak, tapi mau gimana lagi. memang dia duluan yang rese" jawab Naura sambil duduk di sebelahku sambil mengambil makanan yang berada didepan kami.
"bentar mbak, dari pada ibu nemenin orang itu mending ibu masak biar lebih menjaga jarak dari wanita ular itu. aku gamau ibu termakan perkataan wanita itu" kata Naura sepecat kilat meninggalkan aku di sofa sendirian. mas Bayu sudah masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri, karna dari pulang kerja belum sekalipun ia membersihkan dirinya.
tak lama Naura pun turun dengan ibu mertua yang tampak menekuk mukanya.
"ada apa Bu?" tanyaku pada ibu mertua.
"Maura marah mbak, dia membentak ibu dan menuduh ibu ngga bisa mendidikku" jawab Naura dengan ketus.
"astagfirullah" jawabku sambil mengelus dada.
"biar ibu paham mbak, anak itu semakin dibela semakin keterlaluan. salah ibu sendiri membela orang yang salah, orang seperti itu ngga akan berubah bu. ibu sendiri kan yang jadi kena sasaran" kata Naura dengan sinis, aku pun menggelengkan kepala pada Naura yang terlihat Meu melanjutkan perkataannya.
tak lama mas Bayu turun dari lantai dua dengan pakaian yang sudah berganti.
__ADS_1
"loh, ibu kenapa?" tanya mas Bayu, kami semua tidak ada yang menyahuti. takut nanti mas Bayu semakin murka pada Maura jika membuat ibu jadi sedih seperti ini.
"gapapa Bay" jawab ibu mertua dengan tertunduk. mas Bayu pun menganggukan kepalanya dan menjulurkan tangan membantuku berdiri, kamipun kembali kekamar dengan berhati-hati. rupa nya mas Bayu turun kebawah hanya untuk mengambil ku untuk memasuki kamar kami.