
Naura pun kembali menemui pak RT dan beberapa bapak-bapak yang ikut membantu pak RT dirumahnya dengan membawa beberapa gelas kopi dan juga cemilan sebagai teman mengobrol.
"ini pak kopi dan cemilannya, silahkan" kata Naura menaruh nampan yang ia bawa diteras rumah agar lebih mudah dijangkau.
"terimakasih mbak" jawab para bapak-bapak serempak.
"sama-sama pak, saya yang harusnya berterimakasih karna bapak-bapak mau membantu saya dirumah ini" jawab Naura dengan sopan.
"sama-sama mbak, namanya juga kita bertetangga"jawab salah satu dari bapak-bapak tersebut.
"kalo gitu saya kedalam dulu pak, mbak Rita masih shock karna dia lihat sendiri pengintainya waktu saya tinggal sholat tadi pak" jawab Naura diangguki oleh para bapak-bapak tersebut.
"silahkan mbak" jawab pak RT. Naura pun segera masuk kedalam rumah melihat keadaan kakak iparnya yang dari tadi masih terlihat shock.
"bagaimana nau, apa pak RT ketemu sama orang itu?" tanya Rita setelah melihat Naura memasuki kamarnya.
"tidak mbak, katanya mereka memang melihat seseorang berjalan berbelok ke gang depan mereka tidak mengejar karna pakaiannya sepeti orang biasa dan tidak mencurigakan" jawab Naura membuat Rita semakin cemas.
"kira-kira siapa orang itu ya nau, mbak jadi takut" jawab Rita dengan wajah menyiratkan kekhawatiran. Naura pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
sementara di suatu tempat seorang lelaki menelpon seseorang dengan nada marah karna pekerjaannya disepelekan oleh orang tersebut.
"bagaimana sih, begitu aja ngga becus. kamu bisa kerja atau ngga!!" kata seseorang disebrang telpon.
"heh, kamu kira pekerjaan ini ngga beresiko. kalo sekiranya kamu bisa silahkan kamu kerjakan sendiri pekerjaan gila ini, jangan menyuruhku!!" jawabnya membentak balik orang tersebut.
"heh jangan kurang ajar, aku membayar mu. maka lakukan tugasmu dengan baik, awas jika sampai ketahuan. kamu akan tau akibatnya!!" jawab orang disebrang telepon mematikan sambungan telepon secara sepihak membuat orang tersebut pun mengeram kesal dibuatnya.
"kurang ajar, bocah ingusan itu. jika bukan karna uangnya sudah aku bunuh dia!!" gumam orang itu dengan wajah kesal. ia pun membaringkan tubuhnya diatas kasur busa tipis miliknya, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah melakukan pekerjaan pertamanya sejak pagi tadi karna rencananya ia akan memulai pekerjaannya lagi nanti malam.
sementara orang yang tadi bertelponan didalam kamarnya pun harus terlonjak kaget melihat seseorang yang sepertinya mendengarkan perkataannya bersama si penelpon.
"sial, sepertinya ada yang menguping pembicaraanku" gumamnya dengan wajah menggerutu.
__ADS_1
"biii,, bibiiii" panggilnya pada sang asisten rumah tangga.
"iyaa non, tunggu sebentar" jawab sang asisten rumah tangga yang mendengar teriakan majikannya. bibi pun berlari terpogoh-pogoj menghampiri anak majikannya.
"iyaa non, ada yang non butuh?" tanyanya pada orang yang disebut non.
"ngga ada, ibu kemana bi?" tanya anak majikan si bibi dengan nada ketus.
"ibu, ada non dikamar" jawab si bibi menundukkan kepala.
"ibu dikamar, berarti sejak tadi yang menguping pembicaraan saya bibi kah?" tanyanya dengan dahi menyerit.
"pembicaraan apa ya non?" tanya bibi pura-pura tidak tahu, sebenarnya asisten rumah tangga tersebut merasa gugup tapi ia berusaha menyembunyikan dengan baik. semua ini demi mendapatkan bukti yang diperlukan anak majikannya yang pertama, ia rela mengerjakan pekerjaan yang beresiko ini. Dimata sang bibi anak majikannya ini telah berlebihan, seperti seorang yang terobsesi hingga menjadi psiko. ingin mendapatkan apa yang ia inginkan, apapun itu caranya.
"bibi ngga usah alasan ya, aku tau tadi bibi nguping pembicaraan aku dengan seseorang ditelpon. iyakan?! jujur aja bi, sebelum saya bertindak yang tidak-tidak pada bibi" kata nya dengan nada membunuh.
"be-benar non, saya ngga ngerti apa yang non Maura bicarakan. saya baru saja naik setelah dari dapur membuatkan jus untuk ibu" jawab sang bibi pada anak majikannya yang ternyata adalah Maura. iya Maura, siapa lagi kah orang yang selama ini selalu membuat kegaduhan diantara rumah tangga kakak dan kakak iparnya tersebut.
"kalo ini bibi bisa lepas, tapi kalo sampe bibi benar-benar ketahuan menguping. aku ngga akan segan-segan berbuat yang macam-macam pada bibi. ingat!" jawab Maura membuat sang asisten rumah tangga menganggukan kepala takut.
"sana pergi" usir Maura pada asisten rumah tangganya itu. bibi pun pergi meninggalkan kamar Naura yang seperti neraka tersebut menurut nya, sepanjang jalan bibi pun mengelus dada dan menghela nafas lega.
"Alhamdulillah untuk aku ngga diapa-apakan sama nenek lampir itu, huufft untung aja aku langsung mengirim rekaman itu pada pak bayu. dan sepertinya non Maura juga ngga tau kalo aku merekam pembicaraannya, meskipun cuma rekaman suara tapi itu sudah jelas dan semoga cukup untuk bukti" gumam bibi sambil berjalan menuju kamar ibu Bayu yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
"bagaimana bi? apakah Maura curiga?" tanya ibu Bayu pada asisten rumah tangganya.
"iyaa Bu, non Maura curiga. sepertinya kita harus berhati-hati mulai sekarang" jawabnya dengan pelan.
"iyaa Bi, pokoknya kita harus bekerja sama untuk membantu Bayu dan juga Rita. saja juga sudah ngga sabar agar mereka bisa kembali kerumah ini lagi bi, saya sudah bayangkan ramainya rumah ini dengan tangisan cucu saya" kata ibu Rita sambil menerawang kedepan.
"amiiinn, semoga segala urusan kita dipermudah Bu. kebenaran pasti akan selalu menang Bu, insyaallah" jawab bibi membuat ibu Bayu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"kalo gitu saya pamit kebelakang dulu ya Bu, masih banyak kerjaan saya dibelakang sebelum masak untuk makan malam" kata bibi pada sang majikan.
__ADS_1
"iyaa bi, makasih ya bi" kata ibu Bayu membuat sang bibi menganggukan kepala, kemudian membalikkan badan melangkah meninggalkan kamar ibu Bayu.
sementara di rumah Rita, saat ini semua orang tengah menunggu kedatangan Bayu sebagai satu-satunya lelaki dirumah itu. pak RT dan beberapa bapak-bapak yang sejak tadi menunggu pun masih bercengkrama satu sama lain.
"ada-ada aja ya pak RT, ada yang mengintai rumah ini. selama ini RT kita kan aman aja, baru kali ini ada kejadian seperti ini" kata salah satu bapak-bapak itu.
"iyaa pak, ntah. saya juga kaget sewaktu ditelpon sama mbak Naura tadi, tapi sepertinya memang kita harus menunggu mas Bayu untuk meminta pe jelasan apa yang sebenarnya terjadi. karna jika kita bertanya pada mbak Naura dan mbak Rita takut menjadi kesalahfahaman" kata pak RT diangguki oleh seluruh bapak-bapak yang ada. Naura yang mendengarnya dari ruang tamu pun berupaya menjelaskan pada pak RT dan bapak-bapak tersebut, tapi ia urungkan. ia berfikir memang sebaiknya Bayu yang berbicara pada para bapak-bapak ini karna ini menyangkut rumah tangga kakaknya itu.
"nau, mas Bayu belum sampai juga?" tanya Rita yang baru saja selesai memandikan keena dan membawanya duduk diruang tamu.
"belum mbak" jawab Naura dengan lesu.
"coba kamu telpon nau, tanyakan sudah dimana masmu itu" kata Rita yang diangguki oleh Naura.
"ngga diangkat mbak" jawab Naura setelah mematikan panggilan yang terus berdering tak ada jawaban.
"yasudahlah mungkin masih dijalan" jawab Rita hanya dibalas senyum oleh Naura.
tak lama terdengar suara motor berhenti dipekarangan rumah, semua bapak-bapak pun berdiri menyambut sang empunya rumah yang memberikan salam.
"assalamualaikum" salam Bayu melihat pak RT dan beberapa bapak-bapak dihalaman rumahnya.
"waalaikumsalam mas Bayu" jawab pak RT dan bapak-bapak lainnya mengulurkan tangan pada Bayu satu persatu.
"maaf jadi merepotkan pak RT dan bapak-bapak sekalian" kata Bayu diringintawa renyah dari para bapak-bapak tersebut.
"gapapa mas Bayu, sebagai orang bertetangga wajib saling membantu" jawab pak RT diangguki semuanya.
"silahkan dinikmati lagi suguhannya, saya mau bersihkan diri dulu sebentar nanti saya jelaskan kenapa bisa sampai ada hal-hal seperti ini" kata Bayu pada para bapak-bapak itu.
"kebetulan sekali mas Bayu, kami memang ingin menanyakan itu. bukan bermaksud ikut campur, tapi jujur saja saya sebagai ketua RT merasa kaget ada warga saya yang mengalami hal ini. karna selama ini kejadian seperti ini tidak pernah terjadi" jawab pak RT diangguki para bapak lainnya.
"iyaa pak RT, nanti akan saya jelaskan. saya masuk dulu, mari" kata Bayu dengan sopan diangguki oleh pak RT dan yang lainnya.
__ADS_1
Bayu pun melangkah masuk dan melihat istri, anak serta adiknya berada diruang tamu. ia pun mengulurkan tangannya dan disambut oleh sang istri yang mencium punggung tangannya bergantian dengan Naura yang melakukan hal yang sama.
"mas mandi dulu, Naura tolong siapkan kopi lagi dan taruh didepan ya. nanti mas mau ngobrol dengan bapak-bapak didepan" kata Bayu pada Naura yang langsung menganggukan kepala mendengar perintah sang kakak.