
"maafin mbak nau, mbak bener-bener minta maaf. mbak ngga bermaksud untuk mengecewakan kamu, mbak hanya berfikir sebagai manusia apa ngga sebaiknya kita saling memaafkan. toh Maura juga mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan, lagi pula mbak ngga berkata hal yang macam-macam. mbak hanya ngga mau kamu masih menyimpan dendam dalam hati kamu untuk Maura, karna itu ngga bagus nau. kamu hanya akan mengotori hati dengan sia-sia" kata Rita memberi pengertian pada adik iparnya. kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar Naura dengan air mata mengalir deras dipipinya.
Naura menatap kepergian kakak ipar yang ia sayangi itu dengan air mata yang mengaliri pipinya, bukan perkataan Rita yang membuatnya sakit hati. namun, segala sikap Maura yang membuatnya membuat membenci sang kakak yang pada dasarnya ia sangat sayangi sedari kecil.
"maafin Naura mbak, Naura hanya merasa sakit dan kecewa atas perlakukan kak Maura. Naura sayang dengan dia, tapi Naura juga marah dan kecewa dengan perlakuannya. Naura sudah memaafkannya mbak, tapi Naura ngga bisa menerima dengan ikhlas perlakuannya pada keluarga kita. maafin Naura mbak" gumam Naura setelah Rita hilang dari pandangannya, ia pun beranjak untuk mengunci pintu kamarnya.
hingga pada siang hari, kedua orang tersebut pun tak ada yang keluar dari dalam kamar mereka masing-masing. Rita yang berada didalam kamarnya memilih untuk memainkan ponselnya sesekali mengecek chat yang dikirimkan oleh sang suami yang menanyakan keadaannya juga sang anak.
tiba jam makan siang, Rita pun memutuskan memesan makanan lewat online. tak lupa pula ia pun memesankan menu kesukaan Naura, setelah menunggu hampir empat puluh menit ojek online yang membawa pesanan Rita pun akhirnya sampai dipekarangan rumah.
Rita pun keluar dari rumah dan mengambil pesanannya, setelah membayar pesanan tersebut Rita pun kembali kedalam rumah dan mendengar suara keena yang menangis. akhirnya ia pun hanya mengetuk pintu kamar Naura, dan memberi tahukan jika ia telah membeli menu makan siang yang akan iantaruh dimeja dapur.
"nau, makan siang dulu. mbak udah beli makanan, mbak taruh dimeja dapur ya" kata Rita, tanpa mendengarkan jawaban dari empunya kamar Rita pun melangkah meninggalkannya menuju meja dapur dan menaruh makanan tersebut diatasnya.
Rita pun kembali kedalam kamar, menghampiri keena yang menangis. lalu ia menggendong keena dan menaruhnya dikasur besar miliknya sendiri, kemudian memberikan asi hingga akhirnya keena pun menghentikan tangisannya.
"kasian anak mama, nangis bangun tidur. capek ya nak tidur terus, kita main ya didepan. kita liat anty Naura udah memakan makanannya atau belum, oke? ets, tapi nanti setelah dede selesai mimik ya" kata Rita pada sang anak, keena yang merespon dengan senyum pun seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu nya.
Rita yang merasa gemas pun mencubit pelan pipi sang anak, ia pun kembali menimang anaknya dengan lantunan sholawat yang menyejukkan hati.
sementara Naura yang sejak tadi berada didalam kamarnya pun memutuskan keluar dari kamar setelah mendengar ketukan pintu dan ajakan makan siang dari kakak iparnya tersebut, kemudian ia hanya keluar dan mengambil makanan tersebut untuk dimakannya didalam kamar. rasanya ia tak ada muka untuk kembali bertemu dengan kakak iparnya yang baik hati tersebut.
terdengar suara dentingan handphone Naura yang berbunyi dengan kencang, mengagetkan Naura yang sedang menghabiskan makan siangnya.
"siapa sih nih siang-siang gini nelpon" gumamnya melihat kontak yang tertera nama sang ibu, Naura pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"halo, assalamualaikum Bu?" jawabnya ketika telah menggeser tanda warna hijau dalam panggilan tersebut.
"mbak, ini saya bi asih mbak. ibu mbak..." kata bi asih dengan nada panik.
__ADS_1
Naura pun seketika menghentikan makannya mendengar kepanikan yang di dengarnya dari telpon.
"ada apa bi?" tanyanya dengan jantung berdebar tak menentu.
"ibu,, mbak mauraa,, ituuu,, duh, ada mbak Maura mbak. dia memaksa ibu memberikan semua yang ibu punya mbak, tolong mbak" kata bi asih dengan Isakan yang terdengar beserta perasan panik yang menderanya, Naura yang mendengar apa yang dikatakan asisten rumah tangga ibu nya itu pun membelalakan matanya.
"bagaimana bisa bi? apa bibi udah telpon mas Bayu?" tanya Naura menggeser piring yang ada dihadapannya, seketika pikirannya pun kacau.
"maaf mbak, nomer mas Bayu ngga aktif. saya udah coba telpon, tapi ngga bisa mbak makanya saya telpon mbak Naura. karna nelpon mbak Rita pun ngga dijawab mbak" jawab bi asih dengan tangis yang terdengar ditelinga Naura.
"tu-tunggu sebentar ya bi, saya akan telpon polisi secepatnya. semoga polisi cepat sampai sebelum saya sampai dirumah" jawab naura berusaha membuat asisten rumah tangga ibu nya tersebut tenang.
"iyaa mbak, cepat ya mbak" jawab bi asih yang langsung mematikan sambungan telepon.
Naura pun melangkahkan kaki menuju kamar kakak iparnya, tak lupa ia membawa handphone miliknya dan melupakan makanan yang masih berada dikasur kamarnya.
"mbak,, mbak ritaaaa" teriak Naura menggedor kamar Rita dengan keras.
"ibu mbak, kita harus kerumah ibu sekarang mbak" kata Naura membuat Rita mengerutkan kening.
"ada apa nau? coba katakan pelan-pelan jangan panik seperti ini" jawab Rita mengelus punggung Naura yang naik turun seperti berlari dari kejauhan.
"tadi bi asih telpon, dia bilang dirumah ibu ada Maura mbak. Maura minta ibu memberikan apa yang ia miliki mbak, dia memaksa ibu mbak." jawab Naura dengan mata berkaca-kaca.
Rita yang mendengar pun merasa kaget dan tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Naura.
" apa bi asih udah coba telpon mas Bayu? kenapa bi asih ngga telpon ke aku mau?" tanya Rita membuat Naura menggelengkan kepala.
"mas Bayu ngga aktif nomernya mbak, sedangkan mbak Rita coba cek handphone mbak Rita sekarang. kata bi asih dia nelpon mbak tapi mbak ngga angkat-angkat" jawab Naura membuat Rita langsung mencari handphone yang ia tinggalkan diatas nakas.
__ADS_1
"iyaa betul nau, bi asih nelponin mbak tapi mbak ga tau karna handphone nya mbak silent. sebaiknya sekarang kamu telpon polisi, dan suruh segera kerumah ibu. sementara kita harus siap-siap juga kesana, biar nanti mas Bayu mbak yang wa. oke? sekarang cepat telpon polisi" jawab Rita membuat Naura menganggukan kepala.
Naura pun segera menelpon polisi, kemudian menjelaskan kronologinya agar polisi segera bertindak dirumah sang ibu, setelah selesai ia pun bersiap untuk berangkat mengunjungi rumah ibu Bayu bersama dengan Rita.
seperti biasa, keduanya menggunakan taksi online untuk berpergian. setelah melakukan perjalanan selama lima puluh menit, karna jalanan yang begitu macet akhirnya mereka pun sampai didepan gerbang rumah ibu. mereka pun masuk dan melihat satpam rumah mereka sudah tidak ada ditempatnya, kemudian ia pun melihat mobil polisi yang terparkir tak jauh dari rumah ibu Bayu.
mereka pun melangkah memasuki rumah dan melihat Maura yang menyandra sang ibu dengan pisau dapur ditangannya diarahkan ke leher sang ibu.
"astagfirullah haladzim, ibu?!" pekik Naura dan juga Rita histeris.
"Naura, Rita" gumam ibu Bayu yang melihat anak perempuan dan juga menantunya datang kerumahnya dengan membawa keena dalam gendongan Rita.
"akhirnya kalian datang juga, mana Bayu?" tanya Maura dengan nada bengis dan tatapan tajam menatap Rita yang menggendong keena.
"ma-mas Bayu dikantor" jawab Rita dengan gugup.
"suruh dia kesini, atau dia akan melihat ibu nya meregang nyawa. kalian lihat, bahkan polisi-polisi ini pun lemah melihatku menyandra ibunda kesayangan kalian ini" jawab Naura dengan angkuhnya.
"Maura, sadar mau. dia ibu yang sudah membesarkan dan merawat kamu dari kecil, dia yang menyayangi kamu seperti anaknya sendiri ketika bahkan dunia melihatmu seperti anak kecil yang hina dan kotor. apa kamu lupa" kata Rita memancing Maura dengan kata-kata yang membuatnya semakin menggila.
"mbak, apa yang mbak katakan!" kata Naura dengan berbisik.
"apa? bukannya aku benar? disaat orang lain, bahkan orang tuanya sendiri pun tak mengganggap dia sebagai anak dan membuang dia. tapi dia lupa jika almarhum ayah yang membawanya kerumah ini, dan juga ibu yang merawat dan menyanginya sepenuh hati? iyakan Bu?" kata Rita membuat ibu Bayu menganggukan kepala dalam jerat tangan Maura.
"DIAAAAAMMM!!!" teriak Maura membuat suasana dirumah itu pun kembali hening, disaat seperti itu Maura mengeluarkan ekspresi semakin marah dengan apa yang dikatakan oleh Rita.
"jangan pernah mengungkit dimana aku berasal, bagaimanapun aku adalah bagian dari Adipura jika kamu lupa Rita!! kamu adalah orang asing yang baru saja masuk kedalam kehidupan kami, dan karna kamu keluarga kami jadi berantakan!!!" teriak Maura dengan kencang, hingga membuat keena yang tadinya tertidurpun menjadi menangis menangis sangking kencangnya Maura berteriak.
________________________________________
__ADS_1
Alhamdulillah sudah bisa kembali mengupdate dua bab ya readers😊 terimakasih sudah bersedia menunggu🙏