
seperti para ibu baru yang lainnya, Rita pun dengan semangat mengurus anaknya dengan bantuan sang ibu. sebagai ibu baru, Rita banyak belajar dari ibu nya yang masih setia menemani Rita dirumah kontrakan tersebut.
"seru ya rit kalo ada anak kecil dirumah, sudah lama ibu ngga megang bayi" kata ibu Rita yang bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya tersebut.
"iyaa Bu Alhamdulillah rumah jadi rame" jawab Rita dengan senyum mengembang.
terlihat Naura keluar dari dalam kamarnya setelah bersiap menuju kampus yang sudah ia pilih untuk mendaftarkan dirinya.
"kamu jadi ke universitas merdeka nau?" tanya Rita pada adik iparnya tersebut.
"iyaa jadi mbak, Alhamdulillah walaupun universitas biasa tapi bagus. aku udah ngecek kok fakultas design nya juga ga kalah bagus dri universitas mahal" jawab Naura sambil mendudukan diri disamping ibu Rita yang menatapnya dengan senyum.
"selamat ya nak, semoga cita-cita mu tercapai. belajar yang rajin dan tetap semangat, kami semua mendukungmu" kata ibu Rita memberikan semangat pada Naura yang langsung dianggukan kepala olehnya.
"iyaa Bu, terimakasih banyak" jawab Naura memeluk ibu Rita dengan sayang. Rita yang melihatnya pun seketika teringat dengan sang mertua yang juga memperlakukannya dengan sayang seperti anak sendiri, sehingga Rita tak merasa sungkan untuk bermanja dengan mertuanya tersebut.
__ADS_1
Naura yang melihatnya pun mengerutkan kening heran melihat reaksi kakak iparnya, tapi setelahnya ia pun mengerti jika kakak iparnya merasa kan rindu pada ibu mereka yang juga sangat menyayangi Rita seperti anaknya sendiri.
"ada apa kak? kenapa wajahmu ngga enak dipandang. oh aku tau nih, pasti mbak Rita kangen sama ibu ya, hayoo ngakuuu" ledek naura pada Rita yang langsung menatap kesal padanya.
"tolong ya jangan meledek, bagaimana pun jika ada ibu. aku lah yang akan dimanja olehnya, bukan kamu" jawab Rita dengan nada kesal.
"tapi sekarang ibu ngga ada, dia lebih milih tinggal sama anak kesayangannya itu dibanding sama kakak. hayoooo hahaha" tawanya lepas melihat wajah cemberut Rita, meskipun ada rasa kesal tapi tak menampik bahwa yang dikatakan Naura memang ada benarnya.
"udahlah mbak, ngapain si masih mikirin ibu. aku aja yang anaknya biasa aja kok, biarlah dia tinggal sama kak Maura yang seenaknya sendiri itu. nanti kalo dia bosan pun dia pasti akan kesini mbak, percaya deh sama aku" lanjut Naura dengan yakin.
"hust, ngga boleh ngomong begitu. biar gimana pun itu ibu mu dan Maura juga kakak kamu nau, ngga baik bicara seperti itu. ngga baik menyimpan dendam apalagi pada sodara sendiri, ibu ngga mau anak-anak ibu memiliki dendam pada sesama. cobalah memaafkan walaupun memang mereka salah, berdoa lah meminta pada-Nya untuk membuat hati Maura lembut. bukannya Allah maha pembolak-balik hati?" kata ibu Rita menasehati Naura yang menundukkan kepala.
perkataan Rita dan juga ibu nya mengetuk hati Naura yang selama ini diselimuti rasa kecewa pada sang ibu, ntah kenapa air matanya tiba-tiba turun tanpa diminta. sebagai seorang anak tentu saja berjauhan dengan seorang ibu adalah hal yang menyakitkan, begitulah yang selama ini dirasakan Naura ketika harus tinggal dengan kakak dan kakak iparnya demi membela keduanya. meninggalkan ibu yang ia sayangi hanya didampingi dengan orang yang paling ia benci, tapi dihatinya juga tak bisa menerima jika harus tinggal satu atap dengan orang ia benci tersebut.
"iyaa mbak, Naura akan minta maaf sama ibu. Naura akan minta ketemu sama ibu, karna jujur saja Naura ngga mau menginjakkan kaki dirumah itu lagi. Naura ngga mau ketemu kak Maura dirumah itu, dan Naura juga akan tetap tinggal disini bersama mbak Rita dan mas Bayu" jawab Naura sambil menghapus air mata dipipinya.
__ADS_1
"itu hak kamu untuk memilih, aku ngga akan melarang kamu mau tinggal sama siapa. aku seneng kamu udah mau memaafkan ibu" jawab Rita sambil tersenyum, mereka pun berpelukan dengan ibu Rita berada ditengah keduanya.
"nah begini baru anak ibu, semoga kamu semakin dewasa ya nak" kata ibu Rita mengelus kepala Naura dengan lembut.
"makasih ya Bu, mbak Rita udah mengajarkan aku banyak hal" jawab Naura dengan senyum mengembang.
"iyaa sama-sama, itu sudah tugas kami. hari udah semakin siang, apa kamu ngga jadi ke universitas untuk ambil formulir?" tanya Rita pada Naura yang langsung bangkit dari duduknya.
"astagfirullah, sangking terbawa perasaan nya aku sampai lupa. Bu, mbak aku berangkat dulu ya pasti temen aku udah nungguin ini ditempat janjian kami. adduuhh mbak Rita sih" jawabnya menyalahkan Rita. Naura kemudian menyalami keduanya dan langsung keluar rumah untuk menaiki angkutan umum agar sampai ditempat bertemu dengan temannya.
"enak saja anak itu menyalahkan ku, memang dia aja yang terlalu bawa perasaan jadinya mewek" gumam Rita membuat ibu yang berada disampingnya terkekeh melihat tingkah keduanya.
"sudah rit, namanya juga ABG. maklum saja, kamu sebagai yang tua mengalah saja" jawab ibu Rita disela tawanya meledek sang anak yang langsung mengerucutkan bibirnya.
"ibu ini malah membela Naura, anak ibu itu aku atau dia sih" jawab Rita pura-pura merajuk.
__ADS_1
"kalian sama-sama anak ibu, tapi kamu tau rit. dimasa-masa Naura itu, jauh lebih membutuhkan perhatian lebih dia juga membutuhkan pengawasan ekstra dri kita rit." kata ibu Rita membuat Rita menyeritkan kening heran.
"kenapa begitu Bu?" tanya Rita membuat ibu nya terkekeh pelan, jelas saja Rita tak mengerti pergaulan anak remaja saat ini yang kebanyakan sudah kelewat batas dan ibu Rita pun paham akan hal itu.