
"ini mas, bibi nelpon katanya ada yang mau diomongin sama mas Bayu" jawab Naura, Rita pun segera memberikan handphone Naura pada Bayu yang hanya menganggukan kepala.
"halo, assalamualaikum" salamnya ketika mengambil alih panggilan yang masih terhubung.
"waalaikumsalam mas Bayu, Alhamdulillah. maaf kalo saya ngehubunginnya lewat nomer mbak Naura, karna nomer mas Bayu ga aktif" kata bi asih yang langsung membuat Bayu mengecek ponselnya yang ia taruh diatas nakas sejak pulang kerja tadi. ia pun melihat ponselnya dalam keadaan mati, kemungkinan baterainya habis karna Bayu lupa mengcharger.
"oh iyaa maaf bi, handphone saya batrenya habis. ada apa ya bi?" kata Bayu sambil menyerahkan handphone pada Rita untuk dicharge.
"gapapa mas, cuma saya mau minta tolong ini mas" jawab Bu asih dengan ragu-ragu.
"iyaa ngomong aja bi" jawab Bayu dengan santai.
"emm begini, mohon maaf sebelumnya. apa boleh saya ajak anak saya tinggal bareng sama saya mas?" jawab bi asih takut-takut.
"kenapa bi? apa ada masalah?" tanya Bayu lagi dengan nada heran, karna selama ini asisten rumah tangganya itu tak terlihat memiliki beban apapun.
"begini mas, seperti yang mas Bayu tau. sebelum saya kerja disini saya kan sudah menjelaskan jika saya dan suami saya dalam proses perceraian, nah anak saya itu diminta tinggal sama ayahnya oleh mertua saya makanya saya memutuskan untuk mencari perkerjaan. tapi ternyata beberapa hari yang lalu mertua saya sudah meninggal dunia, dan anak saya tidak mungkin diurus oleh ayahnya seorang diri. kemarin mantan suami saya menelpon dan menyuruh saya membawa anak saya ikut dengan saya mas" jawab bi asih menceritakan alasannya ingin membawa anaknya.
"oohh begitu, berapa kira-kira umur anak bi asih?" tanya Bayu dengan memijat pelipisnya.
"masih kecil mas Bayu, masih sembilan tahun. kalo yang besar dia udah ngekos sendiri dekat kampusnya mas" jawab bi asih.
"sudah besar ya, baiklah boleh aja asalkan ngga menganggu bi asih mengerjakan perkerjaan bi asih" jawab Bayu membuat bi asih yang berada disebrang telpon tersenyum mendar izin dari majikannya.
"makasih ya mas, insyaallah ngga akan mas. malah mudah-mudahan bisa sedikit membantu saya dirumah ini mas" jawab bi asih dengan yakin.
"yasudah kalo gitu, ingat pesan saya ya bi. kalo ada apa-apa sama ibu, bi asih harus langsung lapor pada saya. jangan sampai ngga, okee" jawab Bayu dengan tegas.
"siap mas Bayu, tenang aja pasti bi asih akan selalu hubungin mas Bayu. beres itu pasti, ohya mas Bayu setelah pulang dari rumah mas Bayu kemarin sepertinya mbak Maura keluar rumah dan belum pulang lagi sampai sekarang. kira-kira mas Bayu tau ngga ya dia kemana?" tanya bi asih membuat Bayu menyeritkan kening.
"kemana bi? saya juga gatau lah. tapi mereka pulang berdua kan bi, karna dari rumah ini pulangnya juga berdua. memang sempat terjadi perkelahian si disini, tapi ya ibu si pulang dengan keadaan baik-baik saja. apa ibu ada bicara sesuatu bi?" tanya Bayu dengan heran.
"ngga ada si mas, justru ibu akhir-akhir ini lebih banyak diam. saya jadi sungkan untuk bertanya macam-macam mas" jawab bi asih membuat Bayu menjadi heran.
__ADS_1
"yasudah, nanti biar saya yang telpon ibu mbak" jawab Bayu.
"baik mas, makasih sekali lagi ya mas. assalamualaikum" kata bi asih mengakhiri panggilan telepon.
"sama-sama bi, waalaikumsalam" jawab Bayu sebelum memutuskan sambungan telponnya.
"ada apa mas??" tanya Rita dan Naura berbarengan.
"gapapa, bi asih cuma minta izin buat bawa anaknya tinggal dirumah ibu aja" jawab Bayu singkat.
"ooohh" kedua orang tersebut melebarkan mulutnya berbentuk hurup bulat.
"tapi, katanya Maura ngga pulang kerumah setelah pulang dari rumah kita sama ibu kemarin" kata Bayu membuat keduanya membelalakan mata.
"maksudnya gimana mas?" tanya Naura dengan bingung.
"iyaa kata bi asih, pulang dari siniaira sama ibu itu kan sampai rumah. terus gak lama Maura keluar lagi, sampai sekarang belum pulang kerumah" jawab Bayu membuat keduanya semakin penasaran.
"ya mana aku tau, kalo aku tau ya udah pasti aku jawab sama bi asih tadi" jawab bayi dengan nada sinis.
"eehh tapi aneh ngga sih mas, mbak" kata Naura terhenti.
"aneh gimana nau?" tanya Bayu dengan dahi menyerit.
"yaa aneh, Maura dari kemaren ngga ada dirumah ibu. sementara tadi siang orang suruhannya ketangkep sama warga sedang mengintai rumah kita, mungkin ga si kalo Maura itu menemui orang itu kemarin dan mungkin sampai sekarang masih berada ditempat mereka menunggu kabar dari orang bayarannya itu?" kata Naura menjelaskan.
"mungkin aja si, tapi kalo emang betul berarti Maura masih berada didaerah ini atau berada ngga jauh dari kita. iyakan?" jawab Rita membuat kedua orang didepannya menganggukan kepala.
"iyaa tapi masalahnya, kita ngga tau pastinya dia ada dimana. lagian, apa mbak Rita lupa apa yang orang itu bilang. besar kemungkinan bukan hanya dia yang memantau kita dirumah ini mbak, kemungkinan ada orang lain dan kemarin memang hari sial dan apesnya si Roni Roni itu aja makanya ketangkep sama warga" jawab Naura membuat keduanya menatap Naura dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"iya iya bener juga kamu nau, mbak ngga kepikiran sampe sana. terus kita harus gimana dong mas?" jawab Rita membuat Bayu menggedikkan bahu.
"dih mas Bayu mah begitu jawabnya, kalo begitu ceritanya mendingan mbak Rita pulang kekampung ibu sama bapak aja mbak dan aku juga mau ikut sama mbak Rita" jawab Naura yang memulai memerankan perannya supaya lebih meyakinkan.
__ADS_1
"iyaa bener kamu nau, sepertinya mas Bayu emang ngga peduli sama keselamatan kita. apalagi kamu tau sendiri kan, mbak jadi suka dipojokin sama warga sini karna kejadian kemarin. mas kamu itu ngga merasakan apa yang mbak rasakan nau, makanya ia bisa sesantai itu. ngga punya hati!" kata Rita membuat Bayu membelalakan mata, sedangkan Naura menahan senyum mendengar perkataan kakak iparnya.
"loh loh sayang, kok kamu jadi begini sih. kenapa jadi mas yang disalahkan?" jawab Bayu yang merasa heran dengan perkataan Rita.
"memang bener kan, dari kemarin aku udah minta sama mas Bayu buat ikut sama bapak sama ibu tapi mas Bayu ngga izinin giliran sekarang ada masalah seperti ini dan aku dipojokkan oleh warga malah mas Bayu menggedikkan bahu. mas Bayu emang emang ngga peduli sama keselamatan kita kan? kalo gitu mending kita pergi aja kerumah bapak sama ibu, aku juga capek mas disini penuh rasa ketakutan. aku ngga nyaman mas" jawab Rita dengan semangat menjalankan sandiwaranya.
"bu-bukan gitu sayang, mas yakin semua ini pasti ada jalan keluarnya. jangan lah tinggalin mas, lagian kamu juga nau kenapa ngomporin mbak kamu kaya gitu sih" kata Bayu dengan kesal pada Naura.
"lah Naura cuma ngomong apa adanya aja kok mas, kok malah nyalahin Naura sih" jawab Naura dengan kesal sembari meninggalkan kamar kedua kakaknya dengan menghentakkan kakinya.
"mbak jangan lupa pesan makan, aku mau nadi padang pake tunjang sama dendeng" kata Naura berpesan dengan ketus, kemudian meninggalkan kamar kakaknya menuju kamarnya sendiri.
"tuh kan mas, Naura aja bisa bilang begitu. masa kamu ngga ngerti juga sama perasaan aku sebagai wanita dan juga sebagai seorang ibu" kata Rita dengan ketus pada Bayu.
"tapi ngga harus pulang kampung ikut ibu sama bapak juga kali sayang, masa kamu tega ninggalin mas disini sendiri. kamu ga sayang sama mas ya?" kata Bayu merajuk.
"seharusnya aku bilang begitu sama kamu mas, kamu ngga sayang ya sama aku sama keena dan juga Naura? kamu biarin nyawa kami dalam taruhannya kalo begini mas" jawab Rita tak mau kalah.
"kalo kamu kesana, terus mas gimana sayang? siapa nanti yang bakalan ngurusin mas? terus kalo kita semua pindah kesana, gimana juga sama kerjaan mas disini sayang?" kata Bayu pada Rita yang membuang muka kearah lain.
"gatau deh terserah kamu, kamu pikirin aja dulu baik-baik. lagian aku juga cuma dirumah ibu sama bapak, lagian Naura juga mau ikut aku kok. dia mau kuliah di UGM katanya" jawab Rita membuat Bayu semakin membelalakan matanya.
"UGM? terus gimana sama universitas yang kemarin dia daftar?" tanya Bayu dengan raut wajah heran.
"yaa kan baru daftar mas belum masuk juga, formulirnya juga kayanya belum dibalikin kok. santai lah, makanya cepet buat keputusan. aku gamau kaya gini terus lah" jawab Rita dengan ketus, kemudian ia pun mengambil handphonenya dan memesan menu makan malam untuk keluarga kecilnya.
"kamu mau makan apa mas? aku menu sama kaya Naura" kata Rita dengan pelan.
"boleh, aku juga sama. minta tambah kerupuknya" jawab Bayu membuat Rita menganggukan kepala dengan yakin. setelah selesai keduanya pun memutuskan melakukan sholat isya sebelum pesanan yang mereka datang.
_______________________________________
Alhamdulillah bisa dua bab lagi😊 terus ikuti ya, terus support outhornya biar makin semangat buat up🙏
__ADS_1