Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
tujuhpuluhsembilan


__ADS_3

Pov Rita


"kenapa nau? kenapa kamu ngga bisa mengontrol emosi jika ada Maura?" tanya ku dengan pada Naura yang masih menundukkan pandangan tak mau menatap diriku yang teramat kesal dengan sikapnya.


memang aku akui Naura hanya ingin menyelamatkan rumah tanggaku dan juga mas Bayu, tapi aku juga ingin Naura lebih bisa mengontrol emosi jika ada Maura diantara kami. karna jika Naura tetap tidak bisa mengontrol emosi, maka akan lebih buruk lah dirinya dimata ibu kandungnya sendiri.


iyaa ku akui selama ini apa yang ada dipandangan Naura sama dengan apa yang aku lihat, entah apa yang membuat ibu mertua ku itu berubah dengan terus membela Maura. padahal ibu jelas tau jika Maura salah, semakin ibu tau kesalahan Maura semakin pun ibu membela Maura. aku sangat mengerti kekecewaan yang dirasakan Naura sangatlah besar terhadap sang ibu, begitu pun dengan ku yang merasa tak menyangka dengan mertua yang selama ini aku sayangi seperti ibu kandungku lebih membela seseorang yang sudah mencoba menghancurkan rumah tanggaku dan juga mas Bayu.


"maaf mbak" jawabnya dengan singkat.


"nau, mbak ngerti apa yang kamu rasakan. sangat ngerti, mbak juga merasakan apa yang saat ini kamu rasakan nau. tapi kita ngga boleh terbawa emosi dengan setiap perkataan Maura, kamu tau kan setiap perkataannya mengandung racun untuk menghancurkan kita semua. sudah cukup ibu yang terpisah dari kita, jangan sampai Maura berhasil memecah belah kita bertiga nau" jawabku memberi pengertian pada adik ipar ku ini.


"maafin Naura mbak, Naura sama sekali ngga kepikiran sampai sana. Naura juga gatau mbak kenapa setiap ngeliat Maura Naura jadi ga bisa mengontrol emosi, mbak tau sendiri kan mulutnya pedes dan suka merendahkan orang lain seolah hanya dia yang paling baik dimuka bumi ini" jawabnya dengan wajah memandang kearah lain.


"mbak tau nau, tapi cobalah. setidaknya lebih baik diam dan menghindar dibanding memperkeruh suasana, mbak ngga mau ibu berfikir yang tidak-tidak karna sikap bar-bar kamu yang selalu tersulut emosi jika ada Maura disini nau" jawabku.


"iyaa nanti Naura akan coba mbak, maafin Naura ya mbak" katanya meneteskan air mata. aku yang yang melihatpun tak tega, aku pun memeluknya yang masih meneteskan air mata.


"maafin mbak dan juga mas kamu ya nau, karna kami kamu jadi harus hidup terpisah dari ibu. mbak tau bagaimana rasanya terpisah dari orang yang sangat kita sayang, maafin mbak ya nau yang ngga bisa berbuat apapun untuk kamu" kataku dengan suara parau menahan air mata yang hendak jatuh kepipi.


"ini semua bukan salah mbak atau mas Bayu kok mbak, ini semua memang takdir kita. Maura adalah ujian dalam rumah tangga mbak dan juga mas Bayu, aku sebagai adik pun pasti membela pihak yang benar. maafin Naura yang belum bisa bersikap dewa mbak" jawabnya.


"sama sama ya nau, sudah jangan sedih lagi. disini ada mbak dan juga ketiga sahabat kamu yang akan menemani kamu, dan ada juga ponakan kamu yang akan semakin membuat hari-hari kamu dirumah jadi lebih berwarna. yuk kita samperin mereka" kataku mengajak Naura keluar dari kamar menghampiri ketiga Sabahat dan juga anakku.


Naura pun menganggukan kepala dan mengikuti langkahku keluar dari kamar, kami mencari ketiga sahabat Naura itu diruang tamu tidak ada. ternyata ketiganya sedang mengajak keena diteras rumah.


"lagi ngapain nih" tanyaku ketika sampai dihadapan ketiganya.

__ADS_1


"ini mbak si Nana gangguin Dede keena aja loh" jawab Salma yang sedang menggendong keena.


ketiga sahabat Naura ini memang sangat penyayang anak kecil, ntar karna suka atau hanya karna keena masih bayi jadi masih anteng dan tidak banyak bergerak.


"masa sih, coba sini lihat" kataku mengambil alih keena dari gendongan Salma.


"dduuhh, makasih ya ounty udah mau jagain Dede keenanya. mama nya jadi ngga begitu repot deh" kataku pada ketiga sahabat Naura.


"sama-sama mbak" jawab mereka.


"nau, kayanya kita harus pulang deh hari ini" kata dini membuat Naura menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.


"iyaa nau, maafin kita ya ngga bisa lebih lama nginap disini. tapi kamu tenang aja ya, kamu sama mbak Rita akan aman beberapa Minggu ini. karna sepertinya Maura akan berhenti sejenak mengganggu kehidupan kalian, ingat ya hanya sejenak. biar gimanapun kalian harus tetap waspada" kata Nana mengultimatumku dan juga Naura.


"maksud kamu gimana na?" tanyaku dengan penasaran.


"begini mbak, setelah kejadian kemarin. aku yakin Naura menugaskan orang bayarannya untuk tidak menganggu kamu beberapa Minggu ini, tapi aku yakin dia akan merencakan sesuatu hal setelah ini dan dia akan merencanakannya lebih matang dari yang kemarin. jadi kamu dan mbak Rita harus tetap waspada" jawab Nana membuatku dan juga Naura menganggukan kepala.


tak ku sangka ketiga sahabat Naura ini sangat baik, hingga ingin menyelamatkan kami dari aksi Maura yang akan membuat bahaya bagi hidup kami.


"tapi, maafkan kami mbak, nau kami ngga bisa membantu kalian lebih jauh dari ini. karna kami juga ngga bisa berbuat apapun, ini masalah internal keluarga kalian. tapi kami akan berusaha membantu sebisa kami dari jauh" jawab Salma diangguki oleh kedua teman Naura yang lain.


"gapapa guys, makasih ya udah bantu aku selama ini. aku ngga pernah tau kalo aku bersahabat dengan orang-orang hebat seperti kalian" jawab Naura yang matanya mulai berkaca-kaca.


"sama-sama nau, itulah gunanya sahabat. kami yang makasih sama kamu, karna mau bersahabat dengan kami yang mempunya hal yang ga kamu punya sebagai manusia normal" jawab Nana dengan meneteskan air mata.


"aku justru bersyukur memiliki teman seperti kalian, meskipun sebelumnya aku gatau kemampuan kalian ini. tapi kalian dengan baik hati mau melindungi aku, ntak kalo ngga ada kalian mungkin aku ngga akan ada lagi didunia ini" jawab Naura membuatku pun juga ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


aku bersyukur melihat persahabatan keempat remaja didepan ku ini, jarang ada seseorang yang dengan tulus bersahabat tanpa saling memprovokasi.


"sudah-sudah sebagai ucapan terimakasih, sebelum kalian pulang bagaimana kalo kita makan besar lagi? emm mbak traktir deh, kalian mau makan apa nih?" tanyaku pada keempat remaja yang masih saling berpelukan.


"ngga usah mbak, kita ngga enak dari kemarin kita udah banyak merepotkan mbak Rita" jawab dini.


"gapapa kok, itung-itung sebagai ucapan terimakasih mbak untuk kalian yang udah tulus menjaga Naura untuk keluarga ini" jawabku membuat ketiga sahabat Naura pun mengembangkan senyum manis.


"emmm kalo gitu. kita mau seblak, bakso mercon, ceker tanpa tulang mercon, terus juga es Boba, jangan lupa lemontea, emm sama pizza ekstra keju toping carbonara" jawab Salma membuat yang lain memelototkan mata mendengar pesanan yang begitu banyak.


"sal, kamu merampok mbakku Hem?!" jawab Naura membuatku terkekeh.


"udah gapapa kok, kalian pesen ya nanti mbak yang bayar" jawabku membuat Salma segera memesan apa yang tadi ia sebutkan.


"Salma, kamu ngga salah kan?" tanya dini membuat salma menggelangkan kepala sambil tersenyum.


"udah biarin aja Din, kan mbak yang nyuruh. yang penting kalian habisin ya" jawabku membuat mereka terpaksa menganggukan kepala.


"ini mbak, totalnya jadi dua ratus tujuh puluh tiga ribu semua pesanan mbak" kata Salma membuatku menganggukan kepala.


"sebentar mbak ambilkan uangnya dulu, tolong pengangin keena sebentar ya nau" kataku pada Naura yang langsung mengambil keena dari gendongan ku.


aku pun melangkah kan kaki menuju kamar untuk mengambil uang, ketika sampai dikamar aku mengambil enam lembar uang pecahan seratus ribu. tiga ratus ribu untuk membayar pesanan makanan yang tiga ratus ribu lagi untuk ku berikan pada ketiga sahabat Naura sebagai uang jajan masing-masing seratus ribu rupiah. aku menyimpan uang tersebut didalam kantong celana yang aku pakai, sebelah kanan untuk membayar pesanan sedangkan sebelah kiri uang yang sudah kupisahkan untuk ketiganya.


aku pun kembali keluar bersama keempat remaja tersebut, terlihat mereka yang masih sibuk bercanda satu sama lain dengan keena ditengah-tengahnya.


"ini sal, nanti kamu yang ambil ya" kataku menyerahkan uang tiga ratus ribu pada Salma yang langsung diterima olehnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"duh, makasih ya mbak. mbak emang the best banget deh baiknya" jawab Salma membuatku geleng kepala dan tersenyum.


"iyaa, untung aja kamu baru kali ini ketemu sama mbak Rita. coba kalo dari dulu, bangkrut Kakak aku sal" jawab Naura membuat Salma terkikik geli mendengar perkataannya.


__ADS_2