
"kalo gitu, lebih baik kita sarapan dulu ya Bu. Ayuk, Rita udah masakin nasi goreng kesukaan ibu" kata Rita memecahkan ketegangan yang terjadi.
"iyaa Bu, Rita bener sebaiknya kita sarapan dulu sebelum ibu pulang" jawab Bayu membuat sang ibu menganggukan kepala.
"iyaa iyaa ibu ikut sarapan sama kalian" jawab ibu Bayu membuat Rita dan Bayu pun tersenyum. ketiga nya pun berjalan mendahului para remaja yang masih bersitegang tersebut.
mereka pun sarapan pagi tanpa adanya perdebatan yang membuat kacau suasana, terlihat dimeja makan hanya ada Naura, Bayu, Maura dan juga ibunya. karna ketigabteman Naura memilih sarapan bersama diruang tamu, sedangkan Rita sendiri sedang mengurusi keena yang tiba-tiba saja bangun dan menangis dengan kencang.
setelah selesai ibu Bayu pun segera berpamitan dengan sang anak dan juga menantunya, ia sedikit merasa bersalah karna mengajak Maura untuk menginap. sebenarnya memang bukan keinginan ibu Bayu untuk menginap dirumah anak lelakinya tersebut melainkan memang Maura yang memintanya dengan ancaman yang diberikan oleh Maura, ibu Bayu pun terpaksa mengiyakan apa yang diinginkan oleh Maura.
"ibu pulang dulu ya rit, Bayu" kata ibu Bayu ketika sampai dihalaman depan rumah Rita sambil membawa koper kecil yang ia bawa dari rumah.
"iyaa Bu, hati-hati dijalan ya. kabari saja jika mau kesini biar dijemput dengan Naura, iyakan nau?" tanya Bayu pada sang adik yang duduk diruang tamu bersama ketiga temannya.
"ntahlah, sepertinya ibu ngga usah kesini lagi jauh lebih baik" jawab Naura dengan dingin.
"apa maksud kamu nau, kenapa kamu bilang begitu?" tanya Bayu pada sang adik yang langsung menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"mas Bayu pikir aku masih mau menjemput ibu setelah apa yang terjadi hari ini? oohh tentu saja tidak!" jawab Naura dengan sinis.
"Naura, kenapa kamu ngomong gitu" kata Rita yang berpindah posisi berada disamping Naura.
"kenapa mbak? apa aku salah? selama ini ibu selalu aja membela Maura mbak, aku udah berusaha memaafkan ibu bukan? tapi apa hasilnya mbak? mbak lihat sendiri kan kemarin apa yang dilakukan ibu ketika anak kesayangannya ini kita tegor?" jawab Naura dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"maafin ibu nau kalo udah buat kamu kecewa, ibu bener-bener minta maaf" kata ibu Bayu menatap dalam sang anak bungsu.
"maaf? berapa kali ibu minta maaf, dan berapa kali juga ibu membuat kesalahan yang sama? sebetulnya, siapa anak kandung ibu? dia atau aku, kenapa ibu sampai sebegitu ya membela dia yang bukan siapa-siapa kita?" jawab Naura membuat sang ibu semakin merasa bersalah.
"sudah cukup nau, kamu ngga berhak memarahi ibu kata begitu. mas ngga suka, sudah cukup rasa marahmu terhadap ibu tolong hormati ibu" kata Bayu pada Naura yang hanya tersenyum sinis dan menggeleng kan kepala.
__ADS_1
"mas harus tau, aku udah coba buat kembali menghormati ibu setelah hari itu. tapi apa yang terjadi? apa keadaan berubah? ngga kan!" jawab Naura dengan lantang.
"semua ini karna dia mas, karna dia semua ini terjadi. mas harusnya sadar dengan semua itu, apa yang terjadi dalam rumah tangga mas itu pun ga lepas dari campur tangan ibu secara ngga langsung!!" lanjut Naura dengan kemarahan yang sudah sangat menjadi-jadi.
"sudah, cukup nau. kita kembali kekamar" kata Salma menuntun Naura memasuki kamarnya diikuti oleh Nana dan juga dini.
"maafkan Naura ya Bu" kata Rita dengan menatap cemas ibu mertuanya.
"gapapa rit, Naura bener. ini memang salah ibu, secara ngga langsung kerusakan rumah tangga kalian memang karna ibu. kalo ngga berpisah pun memang karna cinta kalian yang menguatkan, maaf kan ibu bay" jawab ibu Bayu dengan menitikan air matanya.
"bukan Bu, ini bukan salah ibu. maaf kan Bayu yang belum bisa mendidik Naura dengan baik, mungkin saat ini ia sedang emosi karna keadaan kami yang sering diteror oleh orang" jawab Bayu mengelus punggung sang ibu.
"sudah Bu, ayok kita pulang. buat apa masih disini kalo ibu ngga bisa dihargai" kata Maura membuat Rita dan Bayu memelototkan mata mendengar perkataannya.
"apa kamu bilang? maksud kamu apa ngomong kaya gitu?" kata Rita menjawab perkataan Maura yang sangat tidak masuk akal menurutnya.
"pertama, aku atau mas Bayu ngga ada yang mengusir ibu dari rumah ini. tapi ibu yang mau pulang kerumah sendiri, itu juga karna kamu yang bikin masalah dan keributan disini. kedua, seharusnya kamu sadar diri jika disinggung seperti itu oleh Naura bukan malah menyalahkan orang lain. kamu pasti tau kalo apa yang Naura katakan menjurus padamu, tapi kamu melimpahkannya seolah Naura menyalahkan ibu. ketiga, kamu bodoh atau apa? yang tidak boleh kerumah ini itu kamu bukan ibu, jangan memutar balikkan fakta!!" jawab Rita dengan pelan namun penuh penekanan.
Maura yang mendengar perkataan Rita pun seakan kehilangan setiap kata yang ingin ia ucapkan untuk menjatuhkan Rita dan juga, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar apa yang Rita katakan. ia pun melangkah mendahului menaiki motor miliknya yang sudah siap membawa keduanya pulang kerumah mereka.
"hati-hati ya Bu, sekali lagi maaf kan kita yang belum bisa memberikan pengertian pada Naura" kata Rita membuat ibu Bayu tersenyum dan menganggukan kepala.
"yasudah, ibu jalan dulu ya. kalian baik-baik ya. Bayu, jaga Rita dan anak kamu. ibu juga menutup adik kamu ya Bayu, sampaikan maaf ibu padanya" jawab ibu Bayu yang diangguki oleh sang anak.
ibu Bayu dan juga Maura pun meninggalkan rumah Rita dengan bergoncengan sepeda motor, setelah keduanya tak terlihat dengan jangkaun mata Rita pun masuk kembali kedalam kamar Naura bermaksud memberikan pengertian pada sang adik ipar, tapi ia urungkan karna Bayu pun akan segera berangkat ke kantor.
"mas berangkat kekantor dulu ya sayang, ngga usah diganggu dulu Naura jika masih marah. biarkan dia dengan teman-temannya dulu, setelah dia bisa tenang baru kamu boleh memberikannya pengertian" kata Bayu mengingatkan Rita.
"iyaa mas, mas hati-hati ya dijalan. nanti aku akan berusaha bicara dengan Naura, mas tenang aja" jawab Rita dengan mengembangkan senyum manis pada sang suami.
__ADS_1
"papa berangkat dulu ya sayang" kata Bayu pada sang anak yang berada dalam gendongan Rita.
"iyaa papa, hati-hati dijalan" Jawa Rita menirukan suara anak kecil.
Bayu pun segera melangkahkan kaki meninggalkan rumah menggunakan motor kesayangan miliknya yang selalu ia bawa kerja semenjak tinggal dirumah kontrakan ini. setelah Bayu tak kelihatan dihalaman rumah, Rita pun memasuki kamar Naura yang ditempati empat orang remaja itu.
"Naura, mbak mau nitip keena. boleh?" tanya Rita dengan hati-hati.
"boleh mbak, sini aja. lagian disini juga banyak orang, mbak ga kerepotan" jawab Salma, sedangkan Naura yang ditanya hanya menganggukan kepala tanda menyetujui apa yang dikatakan Salma.
"baiklah kalo gitu, mbak titip keena sebentar. nanti mbak balik lagi, dan mbak mau bicara sama kamu nau" jawab Rita dengan mata menatap sang adik ipar yang sedari tadi menundukkan kepala tak mampu menatap wajah Rita.
"iyaa mbak, silahkan" jawab Naura, Rita pun segera bergegas kedapur untuk menyusul sarapan. karna tadi, hanya dia yang belum sarapan. setelah selesai Rita pun mencuci piring bekas pakai yang sudah menumpuk kemudia Rita pun mandi dan berganti pakaian.
setelah semua selesai, Rita pun kembali kedalam kamar Naura. Rita melihat anaknya sedang diajak bicara oleh para ountynya.
"diapain ini anak mbak?" tanya Rita pada ketiga sahabat Rita yang bermain dengan sang anak.
"ngga diapa-apain mbak, kami cuma ajak ngobrol si Dede. iyakan sal, Din" jawab Nana membuat Salma dan dini menganggukan kepala.
"masa sih?" tanya Rita lagi pada ketiga remaja tersebut. ketiganya pun kompak menganggukan kepala.
"yaudah lanjutin aja ya, mbak mau bicara dengan Naura. kalian mau disini atau mau main kedepan?" tanya Rita dengan hati-hati.
"eemmm,, kami didepan aja ya mbak. biar mbak dan juga Naura lebih leluasa mengobrolnya, lagian ngga enak jika kami harus mendengar apa yang ngga seharusnya kamu dengar" jawab Nana, sedangkan yang lain menyetujui apa yang dikatakan oleh Nana tersebut.
ketiganya pun keluar dari kamar Naura dengan membawa keena didalam gendongan Nana, keena yang anteng membuat Nana tak kesulitan untuk menggendongnya. setelah mereka tak terlihat, Rita pun mengalihkan pandangan pada sang adik ipar yang juga sendang menatap dirinya.
"kamu kenapa nau? kenapa kamu selalu ngga bisa mengontrol emosi jika ada Maura?" tanya Rita dengan suara tegas, seolah mengerti jika ada hal yang Naura sembunyikan dari dirinya.
__ADS_1