Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
duaratus23.


__ADS_3

ketika mereka semua ingin kembali memasuki beberapa barang masih ada diluar, terlihat beberapa ibu-ibu tetangga dari bi Minah yang menghampiri keluarga tersebut.


"waahh min, enak ya jadi kamu. mbak yu ne kerja banting tulang, pulang-pulang dibeliin perabotan bagus-bagus begini" kata salah satu ibu tersebut memandang ke arah bi Minah.


"makanya min, kalo punya suami itu yang bisa diandalkan. jangan cuma bisanya ngandelin dari mbak yu nya aja, ngga malu apa kamu? apa lagi sini ada keluarga majikan dari mbakmu, mbok Yo mikir Yo min min" kata yang satu lagi mencibir bi Minah.


"Oalah Bu ibu, kalian ini kenapa to ngurusi uripki terus. memang kenapa kalo aku mengandalkan mbak yu ku? to yang penting aku tak mengandalkan kalian, iya to?" jawab bi Minah dengan berani.

__ADS_1


"Yoo Ndak ngono to min, jelas salah. walau bagamana pun Yo koe wis ndue umah tanggo Dewe, mbok Yo usaha Dewe to min. kasian kalo mbak yu mu, wis capek adoh kerjo, koe sing ngentekne" jawab salah satunya lagi.


"udah Bu Iyem, ngga usah ikut campur urusan tetangga kalo ngga tau kebanrannya. nanti jatuhnya fitnah, lagian memangnya kenapa kalo Minah menggantungkan hidupnya pada saya. ngga salah to, saya juga ngga punya siapa-siapa. apalagi suaminya Minah pun juga sedang dalam keadaan sakit keras, apa selama ini Minah suka merepotkan Bu Iyem sampai Bu Iyem mengganggu adik saya?" tanya bi Surti yang sedari tadi diam memperhatikan adiknya yang terus berdebat dengan perempuan bernama Iyem tersebut.


"eehh Surti, kami itu hanya kasihan loh sama kamu. buat apa kamu capek-capek kerja cuma untuk memenuhi kebutuhan adikmu, lagian kamu kan masih punya rumah dan juga sawah dan ladang peninggalan bapak kalian mendingan kamu urus aja itu Minah. jangan terus mengandalkan Surti" jawab perempuan disebelah Bu Iyem.


"alaah yaa Ndak mau lah, jadi perempuan itu harus serba bisa. jangan malah jadi benalu buat keluarga sendiri, emangnya kamu ngga malu meminta terus sama mbakmu" jawab Bu Iyem yang juga diangguki oleh ibu-ibu disebelahnya.

__ADS_1


"oalaah ibu ini kok mulutnya pedes banget ya. maaf ya Bu, lagian apa masalahnya sama ibu-ibu ini. kan yang kerja banting tulang bi Surti, bukan ibu-ibu. iyakan? yang memberikan juga bi Surti bukan ibu-ibu, iyaa to? kalo ada apa-aoa dengan keluarga bi Minah apa kalian akan membantunya? belum tentu to, udah ya Bu mendingan kalian ngga usah nyinyir. mendingan kalian urusin aja dapur kalian masing-masing, oohh atau kalian iri ya karna sekarang rumah bi Minah sudah terisi barang-barang yang lebih bagus. kalian kepanasan ya ngeliatnya karna ngga sanggup beli, hayooo iyakan??" kata Naura membuat kedua ibu-ibu menatapnya dengan kesal, lalu meninggalkan mereka dengan menghentakkan kakinya kesal.


"yaallah, didesa kaya gini aja banyak ya tetangga yang julidnya sampai kaya gitu. ngga percaya aku" jawab Rita yang langsung dijawab senyum oleh bi Minah.


"udah biasa itu mah mbak, memang seperti itu. mau diapain lagi, memang udah settingannya begitu mereka mah" jawab bi Minah dengan santai.


"tapi bi Minah gapapa kan bi?" tanya Rita pada bi Minah yang hanya menjawab dengan senyum.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2