Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
delapanpuluhtujuh


__ADS_3

suasana masih tampak hening, belum ada siapapun dari salah satu orang diruang tersebut dapat menjawab perkataan Bayu. semuanya masih dalam pikirannya masing-masing, menyayangkan pihak Rita yang main lapor ke polisi tanpa adanya mediasi secara kekeluargaan tapi hati kecil mereka pun menyangkan kelakuan yang dibuat oleh istri-istri mereka.


andai pun mereka diposisi Rita, mereka pun akan melakukan hal yang sama. saat ini mereka sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana istri-istri mereka bisa bertahan dalam dinginnya lantai sel tahanan dalam beberapa hari kedepan.


"lalu bagaimana kelanjutannya untuk para istri kami mas Bayu?" tanya salah satu bapak disamping pak Bagas tiba-tiba memberi pertanyaan .


"mohon maaf sebelumnya ya bapak-bapak, saya juga sebetulnya ngga bermaksud untuk memanjarakan ibu Bagas dan ibu-ibu yang lainnya. hanya saja berhubung polisi memang sudah datang dan laporan pun sudah masuk jadi kita harus menunggu beberapa waktu untuk melakukan cabut laporan sehingga ibu-ibu semuanya bisa bebas lagi" jawab Rita dibenarkan oleh Naura yang juga ada bersama mereka saat penangkapan itu terjadi.


"makanya mbak Rita, sebaiknya segala sesuatunya itu dibicarakan dulu baik-baik. apalagi kita ini tetangga samping kanan kiri, depan belakang mbak Rita. suatu saat ntah ada keperluan apapun kita pasti bersinggungan mbak, ngga baik jika hanya masalah salah paham seperti ini main lapor-lapor polisi kaya gini" jawab pak Bagas dengan kesal menatap bergantian Bayu dan juga Rita yang saling berdampingan.


"maaf ya pak Bagas, saya betul betul mintaa maaf sekali. tapi coba andai pak Bagas di posisi saya atau mas Bayu saat ini, tapi semoga memang bapak-bapak semua ini ngga pernah merasakan apa yg saya rasakan saat ini. mohon maaf saya harus kekamar" jawab Rita yang dengan susah payah menahan isak tangis agar tak tumpah didepan para bapak-bapak tersebut.


Rita pun melangkah memasuki kamar dengan sesekali mengusap air mata yang sudah membanjiri pipinya, dengan menggendong keena dikamarnya ia membuka pintu kamar dan duduk pada pinggiran kasur setelah meletakan keena dalam boks bayinya.


Naura yang lebih kakak iparnya masuk kedalam kamar pun mengikutinya hingga akhirnya ia melihat Rita sedang mengusap air matanya dan sesekali terdengar isakan kecil dari mulutnya, Naura pun duduk disebelah Rita yang langsung memeluk Naura dengan erat. memang sangat tidak mudah bagi Rita yang harus mendapat ujian pernikahan seberat ini, ntah dari Maura ataupun dari tetangganya sendiri. yang jelas semua ini menjadi pukulan telak bagi mental Rita yang baru saja selesai melahirkan.


"maafin Naura ya mbak yang ga bisa bantu apa-apa" kata Naura mengelus punggung Rita yang masih memeluknya erat.


"mbak capek nau, kenapa selalu mbak dipojokkan. andai mereka diposisi mbak, apa mereka bisa menjalani hari-hari yang penuh ketakutan karna teror. mbak sudah minta sama mas kamu biar mbak ikut ibu dan bapak tapi mas kamu yang ngga mau jauh dari mbak dan keena, berlanjut lah masalah seperti ini. mbak capek nau, jujur" jawab Rita dengan Isak tangis memenuhi seluruh ruangan.


"iya iya mbak Naura ngerti, mbak Rita yang sabar ya" jawab Naura menenangkan Rita yang masih menangis.


"mbak akan bicara dengan mas Bayu, agar mas boleh hidup bersama ibu dan bapak dikampung. mbak ngga mau terus-terusan seperti ini nau" kata Rita dengan sesenggukan.


"terus kalo mbak Rita ikut sama bapak dan ibu, nanti aku sama siapa dong mbak. aku sendiri disini atau aku kembali kerumah ibu. begitu?" jawab Naura memajukan bibirnya.


"iyaa lah nau, masa kamu mau sendirian diluar tanpa pantauan" jawab Rita dengan cepat.


"nggalah mbak, mendingan aku ikut sama mbak Rita aja dikampung sama bapak sama ibu. lagipula disana juga pasti ada universitas kan mbak" jawab Naura dengan raut wajah binar.


"ada si nau, tapi kan ngga sebagus sekarang" jawab Rita yang sudah berhenti menangis.

__ADS_1


"yaa gapapa lah mbak, yang pentingkan aku kuliah. aku sih ga terlalu mentingin ya mau universitas bagus atau ngga, yang penting aku kuliah" jawab Naura dengan yakin.


"lagian nih ya mbak, aku kan juga bisa daftar diugm. lumayan lah bisa ngekos kan disana juga, lagian aku juga mau ganti suasana yang lebih fres mbak. ngga kaya disini, banyak polusi aku kan butuh Susana baru mbak" lanjut Naura dengan senyum mengembang dengan segala hayalan yang sudah ia susun.


"menghayal aja terus, belum tentu juga mas kamu ngizinin" jawab Rita membuat Naura seketika membuyarkan khayalan yang sudah ia susun.


"yaa mbak Rita ini ngga asik, baru juga aku menyusun segala khayalan yang ada malah dibuyarin. aaahhkk" Rajuk Naura merebahkan dirinya dikasur milik Rita.


"tugas kita itu meyakinkan mas Bayu buat ngasih izin nau, sekarang kan kita dua suara. mudah-mudahan aja mas mu itu mengizinkan kita untuk pindah sementara waktu, aamiiinnn" kata Rita disambut dengan Naura kata aamiin yang terdengar lesu.


"sayang, kamu didalam" terdengar suara Bayu dari luar kamar, tak lama suara decit pintu pun membuat Naura bangun dengan sendirinya lalu mengalihkan pada sosok Bayu yang baru saja masuk kedalam kamar.


"udah pada pulang mas?" tanya Naura dengan pelan.


"udah, baru aja. udah mau Maghrib juga, yuk siap-siap ambil wudhu. kamu balik kekamar kamu sana, sholat Maghrib dulu" jawab Bayu membuat Naura menganggukan kepala.


kemudian, Naura pun melangkahkan kaki keluar dari kamar Rita dan juga Bayu menuju kekamarnya yang berada disebelah kamar keduanya.


"ngga kok mas, aku ngerti dengan apa yang bapak-bapak itu rasakan. andai aku diposisi mereka, aku pasti akan merasa bingung karna istri-istri mereka dalam penjara" jawab Rita tak berani menatap mata Bayu, langsung mengalihkan pandangan pada anaknya yang berada dalam boks bayi yang tak jauh dari tempat mereka berdua.


"lantas kenapa kamu masuk dalam kamar begitu saja sayang?" tanya Bayu lagi masih dengan nada lembut, Bayu tau istrinya mengalami tekanan yang membuatnya lebih cepat terbawa perasaan.


"gapapa mas, bukannya tadi mas Bayu tau kalo keena tidur. aku juga pegel gendongnya, makanya aku bawa masuk kedalam kamar" jawab Rita dengan yakin, menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Bayu.


"yasudah kalo belum mau bercerita, gapapa. yuk kita wudhu dulu, udah azan" ajak Bayu.


"mas duluan aja, aku angkat keena dulu. nanti kita gantian wudhunya" jawab Rita dengan lirih, lalu menghampiri keena yang berada diboks bayinya kemudian menggendongnya secara hati-hati karna keena masih tertidur.


Bayu pun melangkah memasuki kamar mandi, diiringi tatapan sendu Rita yang memperhatikan punggung Bayu yang semakin menjauh.


"mas Bayu ngga peka juga, memang bener-bener deh itu orang" gumam Rita yang merasa kesal dengan Bayu, ia pun menggelengkan kepala dan menatap wajah polos anaknya kemudian tersenyum.

__ADS_1


tak lama Bayu pun keluar dari kamar mandi dengan wajah basah terkena air wudhu, Rita pun kembali meletakkan keena kedalam boks bayi karna azan sudah berhenti. kemudian ia pun bergantian melakukan wudhu, hingga kemudian sholat berjamaah dengan sang suami.


keduanya pun selesai melakukan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, mereka lebih memilih melanjutkan dengan mengaji karna keena belum juga bangun dari tidurnya.


dikamar Naura, dia yang sudah selesai sholat Maghrib dan juga mengaji dikejutkan dengan suara dering handphone yang mengagetkannya. tertera nama asisten rumah tangga sang ibu yang menelpon.


"bibi, tumben telpon ke aku. ada apa ya" gumamnya merasa heran. karna selama ini memang asisten rumah tangga ibu nya itu selalu berhubungan langsung dengan Bayu, tapi ntah kenapa kali ini ia malah menghubungi Naura. ia pun mengangkat panggilan bi asih.


"assalamualaikum, ada apa bi?" tanya Naura dengan pelan setelah menggeser layar hijau pada ponselnya.


"Alhamdulillah mbak Naura angkat, saya telpon mas Bayu tapi handphone nya gaaktif mbak" jawab bi asih dengan pelan.


"iyaa gapapa bi, ada apa bi? apa ada yang gawat?" tanya Naura penasaran.


"emm ngga ada si mbak, hanya aja bibi mau bicara sama mas Bayu. ini agak sedikit lebih pribadi si mbak, jadi kalo bisa minta tolong saya mau bicara sama mas Bayu. boleh?" tanya bi asih dengan berhati-hati takut anak majikannya ini tersinggung.


"iyaa bi, tunggu sebentar ya saya samperin mas Bayu dulu" jawab Naura.


tak lama Naura pun mengetuk pintu kamar Bayu dan juga Rita.


"ada apa nau?" tanya Rita yang membuka pintu kamarnya melihat Naura diambang pintu dengan memegang ponsel.


"mas Bayu mana mbak? ini bi asih telpon katanya mau bicara sama mas Bayu" jawab Naura memberikan ponselnya pada Rita yang menganggukan kepala.


"kenapa ga langsung telpon ke mas Bayu aja, biasanya juga begitu?" tanya Rita dengan penasaran memasuki kamarnya diikuti Naura di belakangnya.


"ada apa nau?" tanya Bayu yang melihat Naura memasuki kamarnya bersama dengan Rita.


_______________________________________


terimakasih atas supportnya readers, jangan lupa vote, komen dan like ya🙏

__ADS_1


__ADS_2